Rupiah Perkasa ke Rp14.165 Usai Pernyataan The Fed

CNN Indonesia | Selasa, 30/06/2020 09:29 WIB
Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di Bank Mandiri Syariah, Jakarta, Senin (20/4/2020). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan Senin (20/4) sebesar 52 poin atau 0,34 persen ke level Rp15.412 per dolar AS. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj. Rupiah menguat ke posisi Rp14.165 per dolar AS pada perdagangan Selasa (30/6) pagi, usai pernyataan The Fed yang mempertahankan suku bunga rendah. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi).
Jakarta, CNN Indonesia --

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.165 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Selasa (30/6) pagi. Mata uang Garuda menguat 0,56 persen dibandingkan perdagangan kemarin sore di level Rp14.245 per dolar AS.

Bersamaan dengan pergerakan rupiah, mayoritas mata uang di kawasan Asia pagi ini juga terpantau menguat terhadap dolar AS. Hanya mata uang yen Jepang yang terpantau melemah 0,11 persen.

Dolar Singapura menguat 0,05 persen, dolar Taiwan menguat 0,19 persen, won Korea Selatan menguat 0,22 persen, peso Filipina menguat 0,22 persen, rupee India menguat 0,08 persen, yuan, China menguat 0,20 persen, ringgit Malaysia menguat 0,14 persen, dan baht Thailand menguat 0,06 persen.


Sementara itu, mayoritas mata uang di negara maju masih bergerak variatif di hadapan dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,11 persen dan dolar Australia melemah 0,23 persen. Sebaliknya, dolar Kanada menguat 0,01 persen dan franc Swiss menguat 0,02 persen.

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan bahwa rupiah berpotensi menguat dan bergerak di kisaran Rp14.150 hingga Rp14.300 per dolar AS.

Alasannya, sebagian aset berisiko kelihatan positif karena komentar tertulis Gubernur the Fed yang mengatakan akan mempertahankan suku bunga sangat rendah dalam jangka waktu yang lama untuk membantu memulihkan ekonomi.

"Selain itu juga didukung data indeks aktivitas manufaktur dan non-manufaktur China Juni yang menunjukkan terjadi peningkatan aktivitas," ujar Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Meski demikian, rupiah juga berpotensi tertahan jika kekhawatiran pasar terhadap peningkatan jumlah kasus covid-19 di seluruh dunia belum reda.

Terus bertambahnya jumlah kasus covid-19 diyakini akan semakin menghambat pemulihan ekonomi global dan menurunkan minat investor untuk mengumpulkan aset berisiko, termasuk rupiah.

"Tarik menarik sentimen positif dan negatif ini bisa membuat rupiah bergerak mengalami pelemahan atau penguatan yang tipis hari ini," tandasnya

[Gambas:Video CNN]



(hrf/bir)