BI Sebut Sentimen Gelombang 2 Corona Tekan Rupiah

CNN Indonesia | Jumat, 03/07/2020 17:35 WIB
Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 195 poin atau 1,33 persen ke level Rp14.415 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini.
Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,039 poin atau 0,04 persen ke level 97,869 pada pukul 14.53 WIB. Bank Indonesia menilai pelemahan nilai tukar rupiah lebih disebabkan oleh faktor domestik, salah satunya sentimen gelombang kedua penyebaran virus corona. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa hari terakhir ini dipicu kekhawatiran gelombang kedua pandemi virus corona (covid-19). Kondisi ini dikhawatirkan akan memperpanjang ketidakpastian perekonomian domestik.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan mata uang Garuda menjadi salah satu yang terpuruk di kawasan regional. Padahal, kata dia, kondisi global cenderung tenang.

"Jadi, karena masalah domestik. Banyak isu muncul misalnya, second wave Covid-19 termasuk burden sharing (berbagi beban) dan seterusnya, ini yang mengakibatkan rupiah tertekan," ujarnya dalam diskusi, Jumat (3/7).


Pada perdagangan spot pagi ini, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.380 per dolar AS. Posisi ini melemah 2 poin atau 0,02 persen dari Rp14.378 pada Kamis (2/7).

Ia menuturkan posisi rupiah saat ini masih di bawah nilai fundamentalnya (undervalued), sehingga masih berpotensi menguat ke depannya. Kenaikan mata uang Garuda akan ditopang tingkat inflasi dan defisit transaksi rendah yang rendah.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi pada Juni sebesar 0,18 persen. Posisi itu lebih renda dibanding 0,55 persen pada Juni tahun sebelumnya. Namun, ia melihat potensi kenaikan inflasi apabila BI membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana dalam jumlah besar.

[Gambas:Video CNN]

"Ada tendensi inflasi ini bisa saja naik kalau kami membeli SBN pemerintah, terjadi ekspansi moneter cukup besar," paparnya.

Hingga akhir tahun, bank sentral memprediksi nilai tukar ekonomi berada di rentang Rp14 ribu hingga Rp14.600 per dolar AS. Sedangkan tahun depan, rupiah diramal menguat di kisaran Rp13.700 hingga Rp14.300 per dolar AS.

(ulf/sfr)