Ritel Pakaian Berusia 200 Tahun Ajukan Pailit di AS

cnn, CNN Indonesia | Kamis, 09/07/2020 12:45 WIB
Pegawai toko menyiapkan produk fashion di salah satu retail di pusat perbelanjaan Lotte Avenue, Jakarta, Kamis, 4 Juni 2020. Kegiatan sosial ekonomi di pusat perbelanjaan akan dibuka Senin 15 Juni 2020. CNNIndonesia/Safir Makki Peritel pakaian pria asal Amerika Serikat yang sudah berusia 200 tahun, Brooks Brother mengajukan pailit karena terpukul pandemi virus corona.Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Peritel pakaian pria asal Amerika Serikat Brooks Brother mengajukan pailit. Perusahaan yang sudah berusia 200 tahun tersebut sudah mengalami masalah beberapa tahun terakhir ini.

Dikutip dari CNN.com, kondisi tersebut diperburuk dengan pandemi virus corona. Brooks Brothers merupakan ritel pakaian resmi pria.

Perusahaan ini yang telah 'mendandani' 40 presiden AS dan menjadi perusahaan pakaian favorit bagi para bankir Wall Street. Namun, keputusan bekerja di rumah bagi sebagian besar karyawan AS berdampak pada bisnis pakaian resmi mereka.


Pasalnya, para pekerja lebih memilih t-shirt dan celana olahraga dibandingkan setelan resmi dan kemeja.

"Meskipun pandemi telah sangat mengikis prospek bisnis, Brooks Brothers telah lama menderita kegagalan beradaptasi dengan tren yang berubah," kata Neil Saunders, Direktur Pelaksana GlobalData Retail, Kamis (9/7).

Sauders mengungkap soal selera dan gaya, Brooks Brothers telah 'berenang' melawan arus. Brooks Brothers mengajukan Bab 11 Rabu, (8/7) pagi di pengadilan Delaware.

Mereka mengumumkan akan memecat hampir 700 pekerja di tiga negara bagian pada Juni lalu. Perusahaan telah mengevaluasi berbagai opsi strategis, termasuk potensi penjualan.

Brooks Brothers sedang dalam proses penutupan 20 persen dari 250 toko di AS. Menurut pengajuan pailit, Brooks Brothers telah mendapatkan US$75 juta dalam pembiayaan untuk terus beroperasi.

"Tujuan dari pengajuan ini adalah untuk mendapatkan pembiayaan tambahan dan memfasilitasi proses penjualan secara efisien untuk memaksimalkan nilai bagi para pemangku kepentingan kami dan memastikan bahwa merek ikonik kami diposisikan untuk terus berada di bawah kepemilikan baru," kata juru bicara perusahaan.

Brooks Brothers membuka toko pertamanya pada 1818 di dekat Wall Street. Bertahun-tahun kemudian, mereka ini membuat pakaian jadi untuk pria.

Claudio Del Vecchio, pemilik Brooks Brothers, membeli merek pada 2001 dari Marks and Spencer seharga US$225 juta. Dia membantu memperluas daya tarik merek di luar busana formal pria, termasuk pakaian kasual, seperti bulu domba, dan pakaian preppy yang ditujukan untuk kaum muda.

Brooks Brothers tetap menjadi salah satu pengecer besar terakhir yang membuat semua produknya di Amerika Serikat. Del Vecchio mengatakan kepada New York Times bahwa pabrik-pabriknya di Amerika tidak pernah menghasilkan uang dan berencana untuk memindahkan beberapa operasi ke luar negeri untuk menghemat uang.

[Gambas:Video CNN]



(age/sfr)