Jokowi Ungkap Beda Krisis Ekonomi Akibat Corona dengan 1998

CNN Indonesia | Kamis, 09/07/2020 18:39 WIB
Presiden Joko Widodo meninjau layanan kependudukan di Pasar Pelayanan Publik Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (25/6/2020). Kunjungan kerja kepresidenan di masa adaptasi kebiasaan baru itu untuk meninjau kesiapan pelayanan publik dan sektor pariwisata. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/aww. Jokowi menyebut krisis ekonomi yang diakibatkan virus corona menimbulkan dampak lebih besar ketimbang krisis moneter 1998. (ANTARA FOTO/BUDI CANDRA SETYA).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan krisis ekonomi yang diakibatkan oleh tekanan virus corona kali ini berbeda dengan 1998 silam. Dari sisi dampak, ia menyebut krisis saat ini bisa dibilang lebih besar dampaknya.

Pasalnya, krisis berimbas ke seluruh sektor, dari sisi permintaan, pasokan, dan produksi.

"Ekonomi sekarang ini yang rusak bukan hanya urusan sisi keuangan saja seperti 1998. (Saat ini) permintaannya rusak dan terganggu, pasokan rusak dan terganggu, serta produksinya juga rusak dan tergangggu. Hati-hati ini harus semuanya mengerti dan paham," kata Jokowi saat kunjungan kerja di Kalimantan Tengah, Kamis (9/7).


Krisis pada 1998 dan 2020 memiliki dampak yang berbeda. Krisis 1998 dampaknya hanya terasa pada ekonomi, tetapi krisis 2020 berdampak pada sektor ekonomi hingga kesehatan masyarakat.

"Oleh sebab itu saya sampaikan di awal krisis ini bahwa pemerintah daerah baik provinsi, kabupaten, dan kota harus siap dengan urusan kesehatan, harus siap. Kendalikan ini," ujar Jokowi.

Ia mengungkapkan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 diprediksi minus hingga 3,8 persen. Hal ini juga sejalan dengan prediksi Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) terhadap ekonomi global tahun ini.

[Gambas:Video CNN]

OECD, kata Jokowi, memproyeksi ekonomi global minus hingga 6 persen sampai 7,6 persen pada 2020. Kemudian, tahun ini ekonomi Inggris diprediksi minus 15,45 persen, Jerman minus 11,2 persen, dan Jepang minus 8,3 persen.

"Hati-hati, ini harus kendalikan dua hal yang berbeda. Sisi kesehatan sangat penting, sisi ekonom juga yang sangat penting. Dua-duanya tidak bisa dilepas satu dengan yang lain, prioritas kesehatan tapi ekonomi juga harus jalan," pungkas Jokowi.

(aud/agt)