Tony Fernandes Respons Hasil Audit Ernst & Young pada AirAsia

cnn, CNN Indonesia | Jumat, 10/07/2020 12:25 WIB
Sejumlah armada pesawat AirAsia terparkir di Apron Terminal 1D Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (5/5/2020). PT AirAsia Indonesia Tbk berencana kembali membuka penerbangan mulai 18 Mei 2020 setelah sebelumnya menutup penerbangan berjadwal sejak 1 April 2020 imbas pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Fauzan/hp. AirAsia menanggapi hasil audit Ernst & Young yang meragukan kondisi maskapai karena tertekan pandemi corona. (ANTARA FOTO/Fauzan).
Jakarta, CNN Indonesia --

AirAsia Group Berhad menilai pendapat auditor eksternal Ernst & Young tidak tepat karena menekankan permasalahan pada ketidakpastian kemampuan perusahaan melanjutkan operasional di tengah pandemi virus corona.

Pernyataan resmi ini keluar usai Ernst & Young menyebut kondisi keuangan AirAsia sedang tertekan hebat karena pandemi corona. AirAsia menegaskan pendapat auditor soal laporan keuangan untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2019 adalah benar dan adil sesuai standar pelaporan.

Namun, pendapat auditor soal ketidakpastian perusahaan untuk melanjutkan operasi di tengah covid-19 tidak tepat. CEO AirAsia Tony Fernandes mengungkap kondisi perusahaan pada paruh pertama 2020 memang menantang.


Namun, dalam beberapa pekan terakhir, sebagian besar maskapai dunia telah melanjutkan penerbangan domestik dan bertahap membuka penerbangan internasional.

"Karena perjalanan domestik sekarang diizinkan di Malaysia, Thailand, Indonesia, India, dan Filipina, kami telah melanjutkan penerbangan kami secara perlahan sejak akhir Mei," ujarnya Fernandes dalam situs resmi AirAsia, Jumat (10/7).

Fernandes pun menegaskan sejalan dengan upaya pemerintah yang mau menghidupkan kembali pariwisata, maskapainya telah agresif meluncurkan promosi skala besar dan kampanye penjualan.

"Hal ini mendorong penjualan yang lebih tinggi dari yang diperkirakan. Pada 7 Juli, kami mencatat penjualan tertinggi kami dengan 75.000 kursi terjual dalam satu hari pascapenghentian sementara. Jumlah ini mencerminkan permintaan yang terpendam dan menandakan tunas pemulihan hijau," paparnya.

Fernandes menjelaskan perusahaan telah menjual lebih dari 200.000.

"Tren positif dalam pemesanan penerbangan dan faktor muatan kami adalah sinyal tambahan dari paruh kedua tahun ini yang lebih baik. Pada Juni, muatan grup kami adalah 60 persen dengan load factor AirAsia Malaysia mencapai 65 persen," ungkap Fernandes.

Dia mengharapkan load factor mencapai 70 persen atau lebih tinggi pada Juli ini. Fernandes percaya pada pasar ASEAN dan yakin pada potensi pertumbuhan wilayah ini.

Fernandes pun memaparkan pentingnya arus kas yang cukup demi menopang likuiditas perusahaan.

"Kami membuat proposal dengan berbagai bentuk peningkatan modal, baik itu hutang atau ekuitas, dan sedang dalam diskusi berkelanjutan dengan berbagai pihak, termasuk bank investasi, pemberi pinjaman, serta investor yang tertarik dalam mencari hasil yang menguntungkan bagi grup," tegasnya.

Fernandes pun telah menerima indikasi dari lembaga keuangan untuk mendukung permintaan pendanaan AirAsia lebih dari RM1,0 miliar.

Dia pun mengungkap dari sisi internal, perusahaan masih melakukan pemotongan gaji untuk seluruh kelompok antara 15 persen hingga 75 persen. Selain itu, perusahaan telah merestrukturisasi 70 persen dari kontrak lindung nilai bahan bakar.

"Secara keseluruhan, kami mengharapkan setidaknya 50 persen pengurangan biaya tunai kami pada 2020," ungkap Fernandes.

Dia menegaskan dampak pandemi virus corona tidak pernah dianggap enteng. Namun, dengan tindakan mitigasi proaktif yang dilakukan, bisa membantu perusahaan untuk kembali pulih.

"Di masa-masa sulit ada peluang. Kami telah melewati banyak krisis dan muncul lebih kuat. Kami tidak akan menyia-nyiakan krisis ini dan kami akan keluar lebih kuat," tutup Fernandes.

[Gambas:Video CNN]



(age/sfr)