ANALISIS

Menerawang Kinerja BCA Usai 5 Direksi Jual Saham Berjamaah

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 14/07/2020 08:01 WIB
Gedung Perkantoran BCA Jakarta, Selasa, 12 Maret 2019. CNNIndonesia/Safir Makki Sejumlah pengamat memperkirakan aksi jual saham berjamaah yang dilakukan petinggi BCA tak akan berdampak ke kinerja perusahaan tersebut. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Bank Central Asia Tbk alias BCA tengah menjadi perhatian publik karena di tengah penyebaran wabah corona lima direksinya secara kompak menjual kepemilikan saham mereka selama sepekan kemarin. Totalnya mencapai Rp20,24 miliar.

Secara rinci, Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja melepas Rp3,1 miliar, Direktur BCA Rudy Susanto Rp6,2 miliar, Direktur BCA Lianawaty Suwono Rp3,1 miliar, Direktur BCA Henry Koenaifi Rp6,28 miliar, dan Direktur Independen BCA Erwan Yuris Ang Rp1,56 miliar.

Lantas, apakah hal ini akan berdampak ke kinerja bank swasta nomor wahid di Indonesia itu?


Ekonom Senior Aviliani menilai aksi jual saham bersama-sama dari para direksi BCA tidak akan mempengaruhi kinerja bank. Apalagi, sampai memberi sinyal bahwa bank pada kondisi yang tidak baik dan akan memberi dampak pada kinerja bank secara industri di Indonesia.

"Memang kalau direksi yang jual saham dan diumumkan ke publik, akan terbangun spekulasi, apalagi kondisi sedang begini. Tapi ini rasanya hanya jual beli saham saja, kan kemarin saat jatuh mereka buyback (membeli saham kembali), jadi beli saat rendah, jual saat tinggi," ucap Av, sapaan akrabnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (13/7).

Avi melihat aksi jual itu tidak akan berdampak besar bagi kinerja BCA. Pasalnya bank tersebut merupakan salah satu perusahaan yang pengelolaan keuangan dan bisnisnya secara prudent alias bijaksana.

Hal ini tercermin dari sisi kepercayaan pasar dan kinerja bank sampai saat ini.

[Gambas:Video CNN]

Dari sisi kepercayaan pasar, para direksi melepas saham ketika harga saham berada di kisaran Rp31 ribu per lembar saham. Harga itu naik ketika para direksi membeli saham bank yang sempat jatuh ke kisaran Rp22 ribu per lembar saham pada Maret lalu dari sebelumnya di kisaran Rp34 ribu per lembar saham pada Januari 2020.

Artinya, kata Avi, kepercayaan pasar justru pada kondisi yang baik terhadap BCA. Kepercayaan yang baik tentu berasal dari keyakinan kinerja yang baik pula dari bank di masa mendatang, meski kondisi pandemi virus corona atau covid-19 masih menyelimuti pasar.

"BCA termasuk salah satu bank yang juga tengah memberikan restrukturisasi kredit mereka ke nasabah, tapi tidak ada indikasi kinerja bank akan melemah," katanya.

Sebagai gambaran, kinerja bank pada kuartal I 2020. Pada periode itu, laba BCA tumbuh 8,61 persen secara tahunan sebesar Rp6,1 triliun dari kuartal I 2019.

Pertumbuhan laba ditopang oleh pendapatan operasional yang naik 17,3 persen menjadi Rp19,6 triliun. Terdiri dari pendapatan bunga bersih yang tumbuh 14,1 persen menjadi Rp13,7 triliun dan pendapatan operasional lainnya tumbuh 25,5 persen menjadi Rp5,9 triliun.

BCA mencatatkan pertumbuhan kredit 12,3 persen menjadi Rp612,2 triliun. Penopangnya, dari kredit korporasi yang naik 25,4 persen menjadi Rp260,4 triliun, kredit komersial dan UKM tumbuh 5 persen menjadi Rp191,2 triliun, dan kredit konsumer meningkat 3 persen menjadi Rp154,9 triliun.

Kualitas kredit bank cukup terjaga. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang hanya sebesar 1,6 persen pada kuartal I 2020 atau di bawah batas industri 3 persen.

"BCA masih menjadi bank dengan pertumbuhan komisi dari transaksi yang tinggi, fee based income pun masih baik, mereka tidak terlalu mengandalkan kredit seperti halnya bank lain, terlihat CASA mereka pun tinggi," ujarnya.

Total, dana murah (Current Account Savings Account/CASA) alias tabungan dari nasabah menyumbang 76,7 persen dari seluruh Dana Pihak Ketiga (DPK) bank yang tumbuh 16,8 persen menjadi Rp741 triliun. Dana murah itu tumbuh 17,3 persen menjadi Rp568,5 triliun.

Sementara sisanya deposito tumbuh 15,1 persen menjadi Rp172,5 triliun. Artinya, BCA punya lebih banyak sumber dana yang bisa diputar untuk penyaluran kredit dari dana-dana yang tidak perlu mereka beri bunga karena nasabah secara 'sukarela' menabung di bank mereka tanpa mengharapkan bunga yang lebih tinggi di deposito.

Hal ini membuat rasio sumber dana terhadap penyaluran kredit (Loan to Deposit Ratio/LDR) bank hanya sekitar 77,6 persen pada kuartal I 2020. Sementara

"Artinya masih sangat aman, bahkan likuiditas tidak akan jadi issue bagi mereka, seperti para bank BUKU IV lainnya. Bahkan BCA menjadi benchmark bagi bank lain," katanya.

Ekonom dari Perbanas Institute Piter Abdullah Redjalam juga meyakini kinerja BCA masih baik-baik saja, sehingga penjualan saham secara bersamaan dari para direksi tidak akan memberi sinyal lemahnya kinerja bank pada masa mendatang. Penjualan saham, katanya, hanya aksi cari untung dari para direksi seperti halnya sifat investor pada umumnya.

"Ini ambil untung saja, mereka pasti tahu kondisi BCA masih baik-baik saja dan harga saham lagi meningkat, jadi ambil untung saja. Saya lihat tidak ada alasan lain kecuali mereka ambil profit saja," katanya.

Sepaham dengan Avi, Piter melihat kondisi bisnis dan pengelolaan BCA perlu diakui menjadi yang terbaik saat ini. Bahkan, sangat jarang terekspos karena masalah yang berisiko besar.

"Struktur pendanaan pun paling murah karena mayoritas DPK adalah CASA. Cost of fund (biaya dana) mereka terendah di Indonesia bersama BRI. LDR paling aman, BCA pun tidak 'main' kredit, lebih banyak transaksi," pungkasnya.

(agt)