Maskapai Diprediksi Bangkrut Bila Okupansi di Bawah 70 Persen

CNN Indonesia | Rabu, 15/07/2020 18:38 WIB
Seekor burung pipit dengan latar pesawat udara komersil yang tidak beroperasional, di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padangpariaman, Sumatera Barat, Sabtu (25/4/2020). PT Angkasa Pura II selaku pengelola Bandara Internasional Minangkabau meniadakan seluruh penerbangan penumpang mulai Sabtu 25 April 2020 hingga 1 Juni 2020 menindaklanjuti Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 H dalam rangka Pencegahan Penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/hp. Ilham Habibie mengutip IATA, yang menyebut hanya tersisa empat maskapai yang mampu bertahan di tengah pandemi covid-19 jika okupansi di bawah 70 persen. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Dewan Pembina The Habibie Center Ilham Habibie memperkirakan seluruh maskapai di dunia, termasuk Indonesia, akan bangkrut bila okupansi penumpang kurang dari 70 persen dari total kapasitasnya.

Pernyataan tersebut mengacu pada data Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) yang memperkirakan pendapatan bisnis maskapai penerbangan secara global tahun ini berpotensi menguap hingga US$314 miliar atau Rp4.710 triliun (kurs Rp15 ribu per dolar Amerika Serikat).

Ilham menuturkan hanya akan tersisa empat maskapai yang tetap bertahan melewati badai pandemi covid-19. Meski demikian, Ilham mengaku belum mengetahui maskapai apa saja yang dapat bertahan tersebut.


"Mereka membuat analisis, menurut perhitungan mereka kalau seandainya kita tidak bisa lampaui 70 persen load factor semua airline di dunia akan menuju kebangkrutan kecuali 4 maskapai," ungkapnya dalam webinar yang digelar Habibie Center, Rabu (15/7).

Prediksi tersebut memang tak berlebihan jika melihat data IATA per 10 April 2020 yang menunjukkan 59 negara telah memberlakukan travel ban dan pembatasan penerbangan secara total. Sementara, 86 negara memberlakukan travel ban dan pembatasan penerbangan secara parsial.  

Hal itu pula yang menyebabkan 1.000 pesawat milik perusahaan penerbangan di Amerika Serikat (AS) diproyeksi berhenti beroperasi sepanjang 2020.

Menurut Ilham, inovasi maskapai penerbangan penting dilakukan terutama dengan mengalihkan fokus pada penerbangan kargo. Ia juga menyarankan maskapai pelat merah untuk mengoptimalkan penerbangan kargo dengan memaksimalkan pesawat penumpang sesuai dengan regulasi yang dibuat kementerian perhubungan.

"Memang perlu ada penyesuaian daripada ruang penumpang itu dan sudah ada beberapa perusahaan yang menawarkan solusi bagaimana membawa kargo dalam pesawat penumpang yang tak perlu banyak dimodifikasi," ucapnya.

Terkait hal tersebut, Direktur Layanan, Pengembangan Usaha dan IT PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Ade R Susardi menuturkan bahwa permintaan charter pesawat kargo memang meningkat di tengah menurunnya okupansi penumpang selama pandemi covid-19.

Tiap harinya, Garuda membutuhkan tambahan 10 pesawat kargo untuk memenuhi kebutuhan pengiriman barang domestik.

"Jadi, begitu ada penurunan nilai penumpang kita melakukan beberapa aktivitas tambahan dan kita lihat kargo malah naik trafiknya dan kita saat ini per hari itu kira-kira punya 10 tambahan charter kargo flight itu yang sedikit membantu cash flow kami," jelasnya dalam kesempatan yang sama.

Ade berpandangan optimalisasi pesawat penumpang memang diperlukan dalam kondisi saat ini. Sebab perseroannya belum bisa melakukan pemesanan pesawat kargo tambahan.

"Sebetulnya, punya 2 pesawat khusus kargo yang sudah kita pesan harusnya di-deliver, tapi karena kondisi keuangan, kami tahan dulu delivery-nya sampai situasi keuangan membaik kita akan antisipasi bisnis kargo akan meningkat," tandas Ade.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/bir)