Alarm Resesi Kian Kencang Berdering, Pemulihan Dinilai Gagal

CNN Indonesia | Selasa, 28/07/2020 17:25 WIB
Ekonom Indef menilai program pemulihan ekonomi nasional gagal menyelamatkan RI dari resesi, tercermin dari realisasi anggaran yang cuma 19 persen. Ekonom Indef menilai program pemulihan ekonomi nasional gagal menyelamatkan RI dari resesi, tercermin dari realisasi anggaran yang cuma 19 persen. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Indef Tauhid Ahmad menilai program pemulihan ekonomi nasional gagal menyelamatkan Indonesia dari jurang resesi pada kuartal ketiga. Buktinya, dia menyebut realisasi dana pemulihan ekonomi baru sekitar 19 persen atau Rp136 triliun per 23 Juli lalu dari total anggarannya Rp695,2 triliun.

"Dengan situasi penyerapan anggaran di bawah 20 persen, potensi pemulihan ekonomi nasional gagal mendorong RI keluar resesi. Sudah memasuki wilayah kepastian bahwa kita akan sulit kembali," ujarnya, Selasa (28/7).

Menurut dia, pemerintah sudah kehilangan momentum untuk memulihkan ekonomi yang tertekan pandemi corona pada kuartal II. Alasannya, secara historis, pertumbuhan ekonomi kuartal kedua lebih tinggi ketimbang kuartal ketiga.


Mengacu kondisi tersebut, Tauhid memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II terkontraksi hingga minus 4 persen. Sedangkan, kuartal III kemungkinan minus 1,3 persen hingga 1,75 persen, dengan asumsi realisasi program pemulihan ekonomi di bawah 30 persen.

"Artinya, kita kehilangan momentum pada kuartal II yang seharusnya program pemulihan ekonomi nasional ini bisa jor-joran dan besar-besaran,"kata Tauhid.

Di sisi lain, lanjut dia, daya beli masyarakat yang tercermin dari tingkat inflasi masih rendah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Juni sebesar 0,18 persen secara bulanan (mtm). Secara tahunan (yoy), inflasi sekitar 1,96 persen pada bulan lalu.

"The Economics memprediksi September inflasi masih rendah, 2,5 persen itu sudah paling tinggi, namun tetap jauh lebih rendah dari tahun lalu 3,3 persen," terang dia.

Prediksi tersebut menggambarkan upaya mengembalikan perekonomian tidak cukup hanya dengan mengembalikan daya beli masyarakat. Karenanya, ia meminta masyarakat dan dunia usaha untuk mengantisipasi kondisi ekonomi yang lebih berat pada kuartal III 2020.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto juga memberikan sinyal resesi pada kuartal III ini. Hitung-hitungannya, pertumbuhan ekonomi minus 3,4 persen pada kuartal II dan minus 1 persen pada kuartal III.

Kendati demikian, ia optimistis pertumbuhan ekonomi bisa meningkat pada kuartal IV dengan proyeksi 1,4 persen. Sehingga, secara keseluruhan ekonomi nasional nol persen pada tahun ini. "Kami berharap pada 2020, kita masih berada dalam jalur positif," jelasnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksikan RI mampu lolos dari jerat resesi dengan mencetak pertumbuhan ekonomi positif pada 2020.

Ia optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020 dapat bangkit (rebound) positif sebesar 0,4 persen. Diikuti pertumbuhan sebesar 2 persen hingga 3 persen pada kuartal IV 2020. Sehingga, rata-rata pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 masih di atas nol persen.

Sementara, untuk kuartal II, ia memperkirakan ekonomi akan kontraksi sebesar 4,3 persen. Diketahui, pertumbuhan pada kuartal I 2020 tercatat sebesar 2,97 persen.

"Kondisi ekonomi kita keseluruhan setahun (2020) masih berada di zona positif," katanya lewat video conference.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/bir)