Imbas Corona, Boeing Rugi Rp34,8 T pada Kuartal II 2020

CNN Indonesia | Kamis, 30/07/2020 14:35 WIB
Boeing menderita kerugian sebesar US$2,4 miliar atau sekitar Rp34,8 triliun pada kuartal II 2020. Boeing menelan kerugian sebesar US$2,4 miliar atau sekitar Rp34,8 triliun pada kuartal II 2020. (AFP Photo/Jim Watson).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pabrik pesawat Boeing menelan kerugian US$2,4 miliar atau setara Rp34,8 triliun (kurs Rp14.500 per dolar AS) pada kuartal II 2020. Kerugian tak lepas dari pandemi virus corona.

Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, angka kerugian yang diderita sedikit membaik. Pasalnya, pada kuartal II 2020, perusahaan asal Amerika Serikat (AS) ini merugi US$2,9 miliar,

Kondisi keuangan yang belum pulih membuat perusahaan memangkas jumlah produksi pesawat jet seri 787 Dreamliner dari 10 pesawat per bulan menjadi enam pesawat per bulan pada 2021.


Begitu juga produksi pesawat seri 777 dari lima pesawat menjadi dua pesawat per bulan. 

CEO Boeing Dave Calhoun mengatakan pengurangan produksi dilakukan untuk mengurangi beban perusahaan di tengah pandemi virus corona atau covid-19.

Pasalnya, perusahaan menerima banyak pembatalan pesanan pesawat sejak virus corona mewabah di banyak negara. 

Tercatat, 336 pesanan pesawat dibatalkan selama pandemi corona. Rinciannya, 150 pesanan pada Maret, 108 pesanan pada April, 18 pesanan pada Mei, dan 60 pesanan pada Juni 2020. Sementara pada bulan ini, perusahaan hanya mencatat pengiriman 20 pesawat komersil, jumlah terendah sejak 1977. 

"Kami juga perlu mengevaluasi cara paling efisien untuk memproduksi 787, termasuk mempelajari kelayakan konsolidasi produk di satu lokasi," ungkap Calhoun seperti dilansir dari CNN.com, Kamis (30/7). 

Saat ini, komponen pesawat 787 diproduksi di dua pabrik berbeda, yaitu di Charleston dan dekat Seattle. Boeing juga berencana memperlambat peningkatan produksi pesawat seri 737 Max yang merupakan pesawat terlaris sejak Maret 2019 meski memiliki catatan kecelakaan dengan korban mencapai 346 orang. 

Hal ini dilakukan karena Boeing berencana hanya memproduksi 31 pesawat per bulan pada 2022. Saat ini, perusahaan masih memiliki stok 457 pesawat jet yang tersimpan di pabrik. 

Perusahaan berencana melanjutkan produksi dengan biaya sangat rendah sampai akhir tahun. Pengumuman ini sempat membuat saham Boeing turun 4 persen pada akhir perdagangan kemarin.

"Kenyataannya adalah dampak pandemi pada sektor penerbangan terus memburuk. Meskipun ada beberapa tanda yang menggembirakan, kami memperkirakan akan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk kembali ke tingkat penumpang 2019," katanya. 

Secara total, perusahaan hanya menerima satu penjualan baru pada Juni 2020, yaitu pesawat barang seri 767 yang merupakan pesanan perusahaan jasa pengiriman, Fedex.

Pesanan muncul karena pandemi corona meningkatkan permintaan jasa pengiriman barang di pasar perdagangan online (e-commerce) dan pengiriman alat medis di seluruh dunia. 

Selain memangkas produksi pesawat, perusahaan juga telah mengumumkan rencana pemangkasan sekitar 16 ribu pekerja atau setara 10 persen dari total 160 ribu pekerja saat ini. 

Lebih lanjut, untuk mengurangi tekanan keuangan, Boeing menghentikan sementara pemberian dividen kepada pemegang saham, menyetop pembelian kembali (buyback) saham, mengurangi pengeluaran, dan menarik utang baru US$25 miliar atau setara Rp362,5 triliun.

[Gambas:Video CNN]



(uli/sfr)