Data Ekonomi AS dan Eropa Angkat Harga Minyak

CNN Indonesia | Selasa, 04/08/2020 07:50 WIB
Harga minyak dunia menguat lebih dari 1 persen terdorong oleh data ekonomi AS, Eropa dan Asia yang positif. Penguatan tertahan virus corona. Rilis data ekonomi AS, Eropa dan Asia yang positif angkat harga minyak. Ilustrasi. (iStock/ozgurdonmaz).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak naik lebih dari 1 persen pada akhir perdagangan Senin (3/8) waktu Amerika Serikat (AS) atau Selasa (4/8) pagi WIB akibat terdorong data ekonomi dari AS, Eropa dan Asia yang positif.

Tetapi, penguatan tertahan oleh kekhawatiran investor terhadap peningkatan kasus corona di dunia. Selain itu, penguatan juga tertahan oleh kelebihan pasokan yang terjadi akibat pengurangan pemangkasan produksi minyak oleh OPEC dan sekutunya.

Dikutip dari Antara, Selasa (4/8), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober naik 63 sen atau 1,5 persen ke US$44,15 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) menguat 74 sen atau 1,8 persen ke US$41,01 per barel.


Sebagai informasi aktivitas manufaktur AS meningkat ke level tertinggi dalam hampir satu setengah tahun pada Juli kemarin karena pesanan meningkat meskipun terjadi peningkatan kasus infeksi baru virus corona di negara tersebut.

Tak hanya di AS, peningkatan sama juga terjadi di zona Eropa. Survei menunjukkan aktivitas manufaktur di kawasan tersebut meningkat pada bulan lalu.

Peningkatan tersebut merupakan yang pertama kalinya sejak awal 2019.

"Sektor industri bangkit kembali dan itu menandakan baik untuk permintaan (minyak) ke depan," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York.

[Gambas:Video CNN]

Namun di tengah perbaikan kinerja tersebut, investor dibayangi kekhawatiran atas pemulihan ekonomi ke depan. Pasalnya, kasus infeksi virus corona terus meningkat.

Kini, virus sudah menginfeksi lebih dari 18 juta orang di dunia. Peningkatan tersebut membuat banyak negara memberlakukan pembatasan baru atau memperluas pembatasan sosial demi mengendalikan pandemi.

Selain peningkatan virus corona, prospek kelebihan pasokan juga membebani harga minyak. Hal itu terjadi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, bersiap untuk mengurangi pemangkasan produksi minyak.

"Saya pikir pertanyaannya akan tetap, ketika OPEC mengurangi pemotongan produksi mereka, apakah kita akan terus melihat persediaan minyak di seluruh dunia menurun," kata Andy Lipow atau Lipow Oil Associates.

Anggota OPEC+ telah memangkas produksi sebesar 9,7 juta barel per hari (bph) sejak Mei. Bulan ini, pemotongan akan meruncing menjadi 7,7 juta barel per hari hingga Desember.

Produksi minyak dan gas Rusia meningkat menjadi 9,8 juta barel per hari selama 1-2 Agustus, dari 9,37 juta barel per hari pada Juli, sumber yang akrab dengan data mengatakan.

(Antara/agt)