Angkat Ekonomi, Pemerintah Perlu Belanja Rp800 T Tiap Kuartal

CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 14:44 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pemerintah perlu membelanjakan anggaran Rp800 triliun per kuartal untuk mengangkat ekonomi RI. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pemerintah perlu membelanjakan anggaran Rp800 triliun per kuartal untuk mengangkat ekonomi RI. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pemerintah perlu membelanjakan anggaran sebesar Rp800 triliun per kuartal atau setiap tiga bulan untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Saat ini, ekonomi Tanah Air jatuh minus 5,32 persen secara tahunan dan minus 4,19 persen secara kuartalan pada kuartal II 2020.

"Dari segi ekonomi dibutuhkan per kuartal minimal Rp800 triliun yang dibelanjakan ke berbagai sektor," ungkap Airlangga saat konferensi pers virtual, Rabu (5/8) 


Airlangga mengatakan kebutuhan tersebut untuk memenuhi belanja bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat, baik tunai maupun nontunai. Tujuannya, agar daya beli bisa meningkat kembali. 

"Dan, untuk kemungkinan kita mempersempit gap (ruang) pertumbuhan negatif," jelasnya.

Sayangnya, Airlangga enggan memberi proyeksi berapa kenaikan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan pemerintah dari asumsi kebutuhan belanja tersebut.

Ia hanya berharap pertumbuhan ekonomi bisa lebih baik pada kuartal III 2020. "Kita berada dalam bottom (bawah) di kuartal II dan pertaruhan kita di kuartal III, itu yang akan dikejar pemerintah. Fasilitas di sektor swasta dan perbankan kita harap lebih luas," katanya.

Sebelumnya, pemerintah sudah menganggarkan dana penanganan dampak pandemi virus corona atau covid-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sekitar Rp695 triliun.

Namun, realisasi penggunaan anggaran baru mencapai 20 persen dari pagu pada Juli 2020. 

Penggunaan anggaran sudah dilakukan sejak beberapa bulan lalu pada kuartal II 2020.

Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi 5,32 persen secara tahunan dan minus 4,19 persen secara kuartalan pada kuartal II 2020.  

Hal ini terjadi karena pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang selama ini menopang ekonomi nasional minus 2,96 persen.

Padahal, konsumsi rumah tangga masih tumbuh 2,78 persen pada kuartal II 2019 dan 2,97 persen pada kuartal I 2020. 

Begitu pula dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi, yaitu minus 2,73 persen pada kuartal II 2020. Sementara konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) minus 0,1 persen. 

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)