Sri Mulyani Bantah Indonesia Resesi Teknikal

CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 19:25 WIB
Menkeu Sri Mulyani membantah resesi teknikal terjadi pada ekonomi RI kuartal kedua. Sebab, pertumbuhan negatif ekonomi baru satu kali pada tahun ini. Menkeu Sri Mulyani membantah resesi teknikal terjadi pada ekonomi RI kuartal kedua. Sebab, pertumbuhan negatif ekonomi baru satu kali pada tahun ini. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Sri Mulyani membantah Indonesia mengalami resesi teknikal. Ia menegaskan pertumbuhan ekonomi dalam negeri baru pertama kalinya negatif tahun ini.

Resesi merupakan kondisi di mana laju perekonomian suatu negara tumbuh negatif dalam dua kuartal berturut-turut. Secara teknikal, Indonesia disebut resesi teknikal karena pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 secara kuartalan terkontraksi sekitar 2 persen, yaitu dari 4,97 persen pada kuartal IV 2019 menjadi 2,97 persen.

Kemudian, pertumbuhan ekonomi terkontraksi lagi 4,19 persen pada kuartal II bila dibandingkan kuartal I 2020. 


Namun, menurut Sri Mulyani, ukuran resesi seharusnya merujuk pada pertumbuhan ekonomi secara tahunan, bukan kuartalan.

Berdasarkan pertumbuhan tahunan, ekonomi Indonesia baru pertama kali terkontraksi pada tahun ini, yaitu minus 5,32 persen pada kuartal II 2020. 

"Yang disebutkan tadi adalah growth quartal to quartal, biasanya dalam melihat resesi itu dari year-on-year untuk dua kuartal berturut-turut. Jadi dalam hal ini, kuartal II pertama kali ekonomi indonesia mengalami kontraksi," tutur Sri Mulyani saat konferensi pers virtual KSSK, Rabu (5/8). 

"Kalau kuartal III kita bisa hindarkan (dari pertumbuhan negatif), maka kita insyaallah secara teknikal tidak mengalami resesi," sambung dia. 

Lebih lanjut, ia memperkirakan Indonesia masih punya peluang untuk lolos dari resesi ekonomi. Ia memperkirakan ekonomi nasional masih bisa berbalik tumbuh positif pada kuartal III 2020. 

"Kuartal III kita masih berharap growth-nya minimal nol persen atau positifnya di 0,5 persen, meski memang probabilitas negatif masih ada karena penurunan dari beberapa sektor tidak pulih secara cepat akan pulih kembali," jelasnya. 

Sementara untuk kuartal IV 2020 diperkirakan ekonomi berada di kisaran 3 persen. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun ini sebesar nol persen hingga 1 persen. 

"Pertumbuhan ekonomi 2020 diharapkan akan tetap terjaga pada zona positif," pungkasnya. 

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)