Banjir China Picu Lonjakan Harga Pangan

CNN Indonesia | Senin, 10/08/2020 20:55 WIB
Banjir China mengakibatkan kerugian lahan pertanian, jalan hingga properti senilai US$21 miliar dan berpotensi mengancam pasokan pangan. Banjir China mengakibatkan kerugian lahan pertanian, jalan hingga properti senilai US$21 miliar dan berpotensi mengancam pasokan pangan. (AFP/STR/China OUT).
Jakarta, CNN Indonesia --

Banjir yang melanda tepi Danau Poyang, Jiangxi, China, memporak-porandakan ribuan hektare (ha) lahan pertanian beras dan peternakan ikan setempat.

Bao Wentao, salah seorang petani setempat, mengaku seharusnya menikmati hasil panen padi di lahan keluarganya pada musim ini. Namun, banjir di wilayah China selatan, membuat 36 ha sawahnya gagal panen.

Ia mengatakan keluarganya telah kehilangan hasil produk pertanian sekitar 200.000 yuan (US$ 28.000). "Padi sudah hampir matang dan siap dipanen sebelum banjir. Tapi sekarang semuanya hilang," kata Bao seperti dikutip CNN.com dalam sebuah wawancara, Senin (10/8).


Banjir bulan lalu merupakan yang terburuk yang pernah dialami China selama bertahun-tahun. Cekungan Sungai Yangtze-yang mencakup Danau Poyang dan membentang lebih dari 3.900 mil dari Shanghai hingga perbatasan Tibet-diketahui menyumbang 70 persen dari produksi beras di China.

Kementerian Manajemen Darurat China memprediksi kerugian ekonomi dari banjir mengakibatkan hancurnya tanah pertanian, jalan hingga properti mencapai US$21 miliar. Sekitar 55 juta orang, termasuk petani seperti Bao, terkena dampaknya.

Meski Beijing masih mampu mengamankan pasokan makanan dengan mengimpor produk dalam jumlah besar dan dengan melepaskan puluhan juta ton cadangan pangan strategis, tapi analis memperingatkan bahwa tindakan itu hanya dapat berguna untuk waktu yang tak lama. 

Hubungan yang tegang antara China dan sebagian besar dunia Barat dan pandemi virus corona berpotensi mempersulit impor banyak makanan di masa depan.

Di sisi lain, banjir berpotensi memburuk, merambat lebih jauh ke utara dan mengancam panen gandum serta jagung negara itu.

"Banjir sudah termasuk yang terburuk sejak 1998 silam, dan bisa memburuk dalam beberapa pekan mendatang," kata analis dari Nomura dalam sebuah catatan akhir bulan lalu.

Belum ada data pasti terkait berapa besar pasokan makanan China yang terancam. Jika banjir dapat diatasi pada akhir Agustus, yang pasti pertumbuhan PDB pertanian bisa turun hampir satu persen pada kuartal Juli-September. Angka itu setara dengan hilangnya US$1,7 miliar lebih produksi hasil pertanian.

Sementara itu, Analis di perusahaan pialang China Shenwan Hongyuan baru-baru ini memperkirakan bahwa China bisa kehilangan 11,2 juta ton makanan dibandingkan tahun lalu atau setara dengan 5 persen dari total beras yang diproduksi China.

Namun, dampak yang ditimbulkan banjir tersebut bisa jadi akan lebih buruk. Analisis Nomura mendasarkan prediksinya pada data tentang ladang terendam banjir yang dirilis Kementerian Tanggap Darurat China pada Juli lalu. Sejak itu, jumlah lahan pertanian yang rusak meningkat sekitar dua kali lipat.

Perkiraan kerusakan yang dikeluarkan oleh analis juga tidak termasuk potensi hilangnya gandum, jagung atau tanaman lain, yang dapat terancam jika banjir menyebar.

Para analis menunjukkan bahwa biaya jagung telah melonjak 20 persen Juli lalu dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, level tertinggi dalam lima tahun. Sedangkan, menurut data dari Kementerian Pertanian China, harga kedelai juga melonjak sekitar 30 persen sepanjang semester I 2020 lalu.  

Analis dari Baocheng Futures, sebuah perusahaan pialang berjangka China, mengaitkan kenaikan tersebut dengan kekhawatiran tentang kondisi cuaca ekstrem di area produksi kedelai, serta ketidakpastian seputar hubungan perdagangan AS-China.

China sendiri telah menanggapi krisis tersebut dengan upaya untuk menstabilkan harga pangan dan meningkatkan pasokan. Puluhan juta ton beras, jagung, dan kedelai telah dilepas ke pasar dalam beberapa bulan terakhir oleh dua lembaga yang mengelola dan menjual cadangan gabah negara, yakni China Grain Reserves Corp dan National Grain Trade Center.

Sepanjang tahun ini, badan-badan tersebut telah melepaskan lebih dari 60 juta ton beras, sekitar 50 juta ton jagung, dan lebih dari 760.000 ton kedelai, yang sudah melampaui volume yang dirilis sepanjang tahun 2019.

Berkat keluarnya cadangan tersebut, harga beras tetap stabil. Minggu lalu, harga rata-rata satu ton beras secara nasional ialah 4.036 yuan atau setara US$580 per ton, hampir sama dengan posisi harga bulan lalu.

Pemerintah China juga berkomitmen untuk membeli barang-barang Amerika senilai miliaran dolar sebagai bagian dari gencatan senjata dalam perang perdagangan yang disepakati pada Januari.

Menurut data bea cukai China terakhir, negeri tirai bambu telah mengimpor hampir 61 juta ton biji-bijian sepanjang Januari-Juni 2020, naik 21 persen dari tahun sebelumnya.

Impor jagung melonjak 18 persen dari tahun lalu, sementara pembelian kedelai dan gandum juga meningkat. Selain AS, Brasil, Ukraina, dan Prancis termasuk di antara pengekspor terbesar ke China.

Sedangkan bagi petani, China telah menyisihkan anggaran untuk bantuan banjir. Hingga pertengahan Juli, sekitar 1,8 miliar yuan (atay sekitar US$258 juta) telah dialokasikan untuk membantu merelokasi orang-orang yang terkena dampak banjir dan membangun kembali rumah-rumah yang hancur, di antara langkah-langkah lainnya, menurut Kementerian Keuangan China. 

Pemerintah daerah di provinsi Jiangxi yang terdampak paling parah juga telah mengalokasikan 280 juta yuan (US$40 juta) untuk bantuan banjir. Meski demikian, jumlah tersebut bak setetes air dalam ember jika dibandingkan dengan kerusakan ekonomi senilai US$21 miliar yang telah ditimbulkan oleh banjir.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/bir)