Pemerintah Tanggapi Santai Kekhawatiran Ekonom soal Resesi

CNN Indonesia | Senin, 10/08/2020 13:50 WIB
Sekretaris Komite Penanganan Covid-19 Raden Pardede menilai sah bagi ekonom memproyeksi resesi berdasarkan tren yang ada, namun pemerintah tetap berupaya. Sekretaris Komite Penanganan Covid-19 Raden Pardede menilai sah bagi ekonom memproyeksi resesi berdasarkan tren yang ada, namun pemerintah tetap berupaya. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekretaris Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Raden Pardede menanggapi santai proyeksi sejumlah ekonom yang menyebut RI akan masuk jurang resesi.

Diketahui, ekonomi RI terkontraksi hingga minus 5,32 persen pada kuartal kedua. Bila kondisi pertumbuhan ekonomi minus kembali terjadi pada kuartal ketiga, maka bisa dipastikan RI terjerembab dalam resesi. Resesi adalah pertumbuhan negatif dua kuartal berturut-turut.

Sebelumnya, lembaga riset nasional CORE Indonesia memperkirakan ekonomi akan minus 2 persen pada kuartal III 2020, sementara INDEF meramalkan laju perekonomian minus 1,7 persen.


Sedangkan, Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan ekonomi akan tumbuh positif nol persen sampai 0,5 persen pada periode tersebut.

Namun, menurut Raden pandangan dari para ekonom tersebut sejatinya sah-sah saja. Sebab, mereka biasanya melihat berdasarkan tren yang ada. 

"Itu sah-sah saja karena itu keyakinan dari prediksi mereka (ekonom). Ekonom lihat misal (perbaikan) ekonomi tidak tercapai, akan negative growth, akan resesi, tapi pemerintah cari langkah agar tidak sampai resesi," ujarnya, Senin (10/8). 

Ia mengakui memang tekanan ekonomi akibat pandemi virus corona atau covid-19 tidak bisa dihindari. Bahkan, kerap membuat para pemilik modal pun enggan mengeluarkan dana untuk konsumsi dan investasi berlebih, sehingga akan memberi dampak pada pertumbuhan. 

[Gambas:Video CNN]

"Harus diakui, penurunan pertumbuhan dan peningkatan kasus covid-19 menggetarkan pelaku usaha. Ada ketakutan yang masif, yang menggetarkan mereka yang relatif punya uang dan senior. Mereka tidak mau belanja atau investasi, kecuali untuk hal yang penting," katanya. 

Namun yang terpenting, sambung Raden, pemerintah tetap berusaha menggerakkan ekonomi dengan kebijakan fiskal. Salah satunya, memberikan bansos kepada masyarakat, stimulus ekonomi kepada UMKM dan korporasi, dan lainnya. 

"Dalam situasi krisis seperti ini, bisnis yang berfungsi secara optimal adalah bisnis pemerintah, jadi fiskal berperan, di mana-mana seperti itu. Pemerintah juga aktif buat strategi untuk produksi vaksin ke depan  dan distribusikan," terang dia. 

Menurutnya, hal ini perlu karena kunci penguatan ekonomi di tengah krisis ekonomi corona adalah masalah kepercayaan. Bila penyebaran virus corona bisa diatasi, maka pelaku ekonomi pun pelan-pelan mau beraktivitas lagi. 

Seperti diketahui pemerintah menyiapkan anggaran Rp695,2 triliun untuk penanganan dampak pandemi corona dan PEN pada tahun ini.

Anggaran itu terbagi untuk kesehatan Rp87,55 triliun, perlindungan sosial Rp203,9 triliun, stimulus UMKM Rp123,46 triliun, sektoral kementerian/lembaga dan pemda Rp106,11 triliun,  pembiayaan korporasi Rp53,57 triliun, dan insentif usaha Rp120,61 triliun. 

(uli/bir)