Harga Pangan di Medan Belum Terdampak Erupsi Sinabung

CNN Indonesia | Senin, 10/08/2020 23:49 WIB
Ketua Pemantau Pangan Sumut Gunawan Benjamin menyatakan harga sejumlah kebutuhan pokok di Kota Medan masih stabil meski Gunung Sinabung kembali erupsi. Ketua Pemantau Pangan Sumut Gunawan Benjamin menyatakan harga sejumlah kebutuhan pokok di Kota Medan masih stabil meski Gunung Sinabung kembali erupsi. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Maz Yons).
Medan, CNN Indonesia --

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara kembali erupsi, Senin (10/8). Namun, erupsi tersebut belum berpengaruh pada harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat di Kota Medan dan sekitarnya.

Selama ini, Karo merupakan salah satu wilayah yang memasok bahan pokok terutama sayur mayur ke Kota Medan dan sekitarnya. Tak ayal, salah satu yang dikuatirkan dari erupsi Sinabung yakni potensi gejolak harga pangan.

Ketua Pemantau Pangan Sumut Gunawan Benjamin mengatakan harga sejumlah kebutuhan pokok masyarakat di Kota Medan sejauh ini masih terpantau stabil atau belum menunjukkan adanya tren kenaikan harga.


"Sebagai contoh bawang merah dari Kabupaten Karo masih di kisaran Rp14 ribu per kg di tingkat pedagang besar. Kalau di tingkat pengecer masih di kisaran Rp25 ribu per kg. Sedangkan bawang merah Samosir di kisaran Rp20 ribu dan bawang merah dari Jawa sekitar Rp19 ribu per kg," kata Gunawan.

Kemudian, sayur mayur asal Kabupaten Karo lainnya yakni tomat masih dijual di kisaran Rp7.000 per kg di tingkat pengecer. Cabai merah masih di kisaran Rp27 ribu hingga Rp30 ribu per kg di tingkat pengecer. Sedangkan di tingkat distributor cabai merah asal Karo ini dijual Rp23 ribu per kg.

"Dan beberapa komoditas lainnya juga masih terpantau stabil. Jadi belum ada yang dikuatirkan dari sisi perkembangan harga kebutuhan masyarakat sejauh ini akibat erupsi Sinabung," ungkapnya.

Hanya saja yang menjadi fokus kekuatiran adalah kondisi tanaman petani yang terkena imbas dari erupsi tersebut. Ia berharap ada evaluasi cepat dari dinas terkait di wilayah yang terkena imbas dari erupsi tersebut.

"Jika datanya bisa langsung disampaikan, maka akan langsung terpetakan mana mana saja tanaman yang terdampak erupsi Sinabung sebelumnya. Sehingga tindakan kebijakan bisa diambil lebih cepat, baik dalam hal penyelamatan tanaman petani atau dalam hal pengendalian harga kebutuhan pangan masyarakat," pungkasnya.

Seperti diketahui, Gunung Sinabung erupsi sejauh 5.000 meter pada Senin (10/8) pukul 10.16 WIB. Usai erupsi besar itu, Sinabung kembali mengalami erupsi susulan dengan tinggi kolom abu mencapai 2.000 meter pada pukul 11.00 WIB.

Erupsi tersebut menyebabkan sejumlah desa diselimuti abu vulkanik. Bahkan, di Kecamatan Naman Teran gelap gulita akibat paparan abu vulkanik. Tak hanya melontarkan abu vulkanik, erupsi Sinabung juga melontarkan material pasir dan batu-batu kecil.

Sebelumnya, pada Sabtu (8/8), Sinabung juga erupsi masing-masing dengan tinggi kolom abu sejauh 2.000 meter sekitar pukul 01.58 WIB dan pada sore hari dengan ketinggian 1.000 meter dari puncak sekitar pukul 17.18 WIB.

[Gambas:Video CNN]

Gunung Sinabung berstatus level III atau 'Siaga' sejak 20 Mei 2019. Sinabung terakhir kali erupsi pada Juni 2019.

Masyarakat dan pengunjung/wisatawan diingatkan agar menjauhi zona merah Gunung Sinabung yakni pada desa-desa yang sudah direlokasi, serta lokasi di dalam radius radial 3 km dari puncak Gunung Sinabung, radius sektoral 5 km untuk sektor selatan-timur, dan 4 km untuk sektor timur-utara.

(fnr/sfr)