Pengamat Prediksi Pemulihan Ekonomi Selama Satu Tahun

CNN Indonesia | Selasa, 11/08/2020 07:04 WIB
Ekonom mengingatkan pemerintah untuk mempertebal kas negara untuk membiayai pemulihan ekonomi akibat pandemi covid-19. Ekonom mengingatkan pemerintah untuk mempertebal kas negara untuk membiayai pemulihan ekonomi akibat pandemi covid-19. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Safri Haliding memprediksi pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi covid-19 berjalan minimal satu tahun. Perjalanan akan beriringan dengan proses vaksinasi massal yang memakan waktu 6 bulan hingga satu tahun.

"Sepertinya, mulai recovery (pemulihan) pada kuartal keempat atau awal tahun depan. Ketika vaksin rampung (uji coba), proses pembuatan secara massal bisa memakan waktu 6 bulan sampai 1 tahun," ujarnya lewat video conference, Senin (10/8) malam.

Pemulihan yang dimaksud dengan asumsi resesi terjadi pada kuartal ketiga. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga diperkirakan sulit mencapai level positifnya, setelah minus 5,32 persen pada kuartal kedua.


Ekonomi, Safri memprediksi, baru bisa tumbuh positif pada kuartal keempat dengan proses pemulihan dimulai akhir tahun.

Karenanya, ia meminta pemerintah untuk menyiapkan 'dompet tebal' untuk terus menggelontorkan bansos hingga ekonomi kembali normal.

Salah satu caranya, yakni menerbitkan surat utang negara (SUN) sebagai bantalan dana. "Kebijakan menerbitkan SUN cukup optimal," jelasnya.

Tidak hanya pemerintah yang harus bersiap-siap menebalkan cadangan kas, ia menilai korporasi, pelaku UMKM, dan masyarakat juga harus mulai mengencangkan tali pinggang. Tabungan yang cukup untuk setahun ke depan dinilainya menjadi modal untuk bertahan.

Untuk pelaku usaha, kunci untuk bertahan di tengah pandemi ialah dengan mengadopsi kebiasaan baru atau beradaptasi. Safri menuturkan bahwa pelaku bisnis harus dapat mengikuti tren yang ada, misalnya melebarkan sayap usaha ke lini bisnis yang tengah dibutuhkan. 

Pada kesempatan sama, Rektor Universitas Singaperbangsa Karawang Sri Mulyani mengatakan untuk dapat bertahan, pelaku usaha harus mampu mengadopsi digital ke dalam praktis bisnis. 

Sebab, dengan dibatasinya pergerakan manusia, otomatis penjualan yang diperoleh di gerai fisik juga tergerus.

Pengusaha juga dituntut untuk rajin melakukan riset untuk mengetahui kebiasaan baru pelanggan. "Perusahaan harus adaptif dan inovatif dan juga melakukan riset-riset," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(wel/bir)