Skema Kredit Bunga 0 Persen buat Korban PHK-Ibu Rumah Tangga

CNN Indonesia | Kamis, 13/08/2020 15:14 WIB
Pemerintah bakal meluncurkan skema kredit super mikro untuk usaha produktif ibu rumah tangga dan korban PHK dengan bunga nol persen hingga akhir 2020. Pemerintah bakal meluncurkan skema kredit super mikro untuk ibu rumah tangga dan korban PHK dengan bunga nol persen hingga akhir 2020. Ilustrasi. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah tengah menggodok skema kredit super mikro untuk usaha produktif korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan ibu rumah tangga.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir memaparkan skema baru ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rapat terbatas pada Senin (3/8) lalu.

"Komite menindaklanjuti arahan presiden (Jokowi) dari ratas dengan menciptakan skema untuk pekerja kena PHK dan ibu rumah tangga yang usaha secara mikro," ujar Iskandar dalam paparannya, Kamis (13/8).


Iskandar menerangkan, dalam usulan saat ini, pemerintah akan menanggung bunga kredit usaha rakyat (KUR) super mikro sebesar 19 persen hingga Desember 2020.

"19 persen itu termasuk penjaminan 2,5 persen. 70 persen coverage penjaminan dari pemerintah dan sisanya 30 persen bank," ujarnya.

Artinya, suku bunga kredit yang diterima debitur adalah nol persen hingga akhir tahun.

Namun, setelah 2020, peminjam akan dikenakan suku bunga 6 persen atau setara suku bunga KUR.

"Saat suku bunga 6 persen, pemerintah beri subsidi bunga 13 persen," jelasnya.

Adapun batasan kredit maksimal Rp10 juta. Debitur juga tidak perlu menyiapkan agunan.

Terkait jangka waktu pinjaman, untuk kredit modal kerja paling lama 3 tahun dan jika suplesi dapat diperpanjang menjadi 4 tahun.

Sementara, untuk kredit investasi, paling lama 5 tahun dan jika suplesi dapat diperpanjang menjadi 7 tahun.

[Gambas:Video CNN]

"Grace period sesuai penilaian penyalur KUR," ujarnya.

Sesuai estimasi perbankan, rata-rata besaran kredit yang diajukan nasabah berkisar Rp4 juta.

Dengan asumsi tersebut, pemerintah menargetkan dapat menyalurkan kredit ke 3 juta debitur yang belum pernah menerima KUR hingga akhir 2020.

"Plafonnya (KUR super mikro) Rp12 triliun," ujar Iskandar.

(uli/sfr)