OJK Proyeksi Laju Kredit Bank Cuma 3-4 Persen pada 2020

CNN Indonesia | Selasa, 04/08/2020 21:32 WIB
OJK memperkirakan pertumbuhan kredit bank hanya akan berada di kisaran 3 persen sampai 4 persen pada 2020 dan yang terendah dalam beberapa tahun terakhir. OJK memperkirakan pertumbuhan kredit bank hanya akan berada di kisaran 3 persen sampai 4 persen pada 2020 dan yang terendah dalam beberapa tahun terakhir.(CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan pertumbuhan kredit bank hanya akan berada di kisaran 3 persen sampai 4 persen pada 2020. Proyeksi ini merupakan yang terendah dalam beberapa tahun terakhir. 

Tercatat, realisasi pertumbuhan kredit sebesar 7,8 persen pada 2016 dan 8,24 persen pada 2017. Sementara pada 2018 sebesar 12,88 persen dan 6,08 persen pada 2019. 

"Perkiraan kami 3 persen sampai 4 persen, angka itu lebih rendah dari pertumbuhan kredit tahun-tahun sebelumnya, sekitar 6 persen," ungkap Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso saat konferensi pers virtual, Selasa (4/8).


Wimboh mengatakan proyeksi ini cukup sejalan dengan estimasi dari masing-masing bank dalam Rencana Bisnis Bank (RBB). Ia bilang beberapa bank memperkirakan pertumbuhan kredit mereka akan ada yang di atas 3 persen dan ada pula yang di bawah 3 persen. 

"Tapi kami yakin di 2021, pertumbuhan kredit tumbuh lebih tinggi lagi," ujarnya. 

Lebih lanjut, proyeksi OJK muncul karena pertumbuhan kredit bank tergerus selama pandemi virus corona atau covid-19. Tercatat, penyaluran kredit bank hanya tumbuh 1,49 persen mencapai Rp5.549,24 triliun pada Juni 2020. 

Pertumbuhan turun dari bulan-bulan sebelumnya. Misalnya, 5,73 persen pada April dan 3,04 persen pada Mei 2020. 

"Penurunan kredit terutama terjadi bank BUKU III yang terkontraksi 2,27 persen," katanya. 

Sementara pertumbuhan kredit bank BUKU I masih tumbuh 3,94 persen, BUKU II 4,81 persen, dan BUKU IV 2,88 persen. Secara sektoral, kontraksi pertumbuhan kredit terjadi pada sektor perdagangan besar mencapai minus 5,23 persen. 

Sedangkan sektor dengan pertumbuhan kredit tertinggi adalah transportasi mencapai 9,97 persen pada bulan lalu. Sisanya, pertumbuhan kredit sektor industri pengolahan tumbuh 1,23 persen, rumah tangga 3,17 persen, pertanian 4,31 persen, konstruksi 4,41 persen, dan pertambangan 7,69 persen. 

"Perlambatan yang terjadi di perdagangan dan industri pengolahan sejalan dengan penurunan aktivitas ekonomi," jelasnya. 

Berdasarkan jenis kredit, kontraksi pertumbuhan dirasakan oleh segmen kredit modal kerja minus 1,3 persen. Segmen kredit investasi masih tumbuh 5,6 persen dan kredit konsumsi 2,3 persen. 

Sejalan dengan lemahnya pertumbuhan kredit, laju Dana Pihak Ketiga (DPK) juga kompak melambat. Tercatat, total DPK bank cuma tumbuh 7,95 persen menjadi Rp6.260,46 triliun pada Juni 2020. 

Pertumbuhannya juga lebih rendah dari bulan-bulan sebelumnya, misalnya 8,08 persen pada April dan 8,87 persen pada Mei 2020. Sementara rasio penyaluran kredit dari DPK (Loan to Deposit Ratio/LDR) turun dari 90,42 persen pada Mei menjadi 88,64 persen pada Juni 2020.

Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross naik dari 3,01 persen menjadi 3,11 persen. Namun, NPL net turut dari 1,17 persen menjadi 1,13 persen. 

[Gambas:Video CNN]



(uli/age)