Fakta Program B30, Jurus Jokowi Tekan Impor Minyak

CNN Indonesia | Jumat, 14/08/2020 14:30 WIB
Program B30 menjadi salah satu pemerintah untuk menekan impor minyak dan memperbaiki defisit neraca perdagangan. Program B30 menjadi salah satu pemerintah untuk menekan impor minyak dan memperbaiki defisit neraca perdagangan. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan pemerintah telah melakukan sejumlah upaya energi. Salah satunya melalui program mandatori campuran biodiesel 30 persen dalam BBM jenis solar (B30).

"Tahun 2019 kami juga sudah berhasil memproduksi dan menggunakan B20. Tahun ini kami mulai dengan B30, sehingga kami mampu menekan nilai impor minyak kami pada 2019," kata Jokowi dalam Sidang Tahunan MPR, Jumat (14/8).

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan uji coba pendistribusian bahan bakar B30 sejak akhir 2019 lalu. Distribusi B30 melibatkan badan usaha bahan bakar nabati (BUBBN) dan badan usaha bahan bakar minyak (BUBBM).


Sebagai payung hukum uji coba tersebut, Kementerian ESDM menerbitkan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 227 K/10/MEM/2019 tentang Pelaksanaan Uji Coba Pencampuran Bahan Bakar Nabati Jenis B30 ke dalam Bahan Bakar Minyak Jenis Minyak Solar Periode 2019. Beleid tersebut diteken Menteri ESDM Arifin Tasrif pada 15 November 2019 lalu.

PT Pertamina (Persero) dalam keterangan tertulisnya mengatakan realisasi penyerapan fatty acid methyl ester (FAME) yang menjadi campuran Solar meningkat tajam sebesar 5,5 juta kiloliter (KL) di 2019. Tahun ini, serapannya ditargetkan meningkat menjadi 8,38 juta KL.

Berdasarkan data Pertamina, implementasi program B20 dan B30 telah menghemat devisa negara sebesar Rp43,8 triliun pada 2019. Lalu, tahun ini, Pertamina menargetkan penghematan devisa sebesar Rp63,4 triliun dari program B30.

Kondisi itu terkonfirmasi oleh data impor hasil minyak Badan Pusat Statistik (BPS). Tercatat, impor hasil minyak secara tahunan turun 11,73 persen menjadi 10,33 juta ton. Adapun nilai impor hasil minyak sepanjang semester I 2020 merosot 39,3 persen menjadi US$1,98 miliar.

Sementara itu, pengamat energi dari Energy Watch Indonesia Mamit Setiawan menilai implementasi program B30 belum maksimal. Masih ditemui sejumlah kendala di lapangan terutama dari sisi konsumen.

"Konsumen masih belum terlalu percaya dengan B30 ini karena masih ada kekhawatiran terkait dengan kondisi mesin dan adanya penambahan biaya untuk perawatan," katanya kepada CNNIndonesia.com.

Ia menuturkan, pemerintah membutuhkan waktu untuk kembali mengedukasi ke masyarakat terkait dengan program B30 ini. Kondisinya, serupa saat pemerintah merilis program B20.

"Lambat laun bisa berjalan dengan sukses dan lancar," ucapnya.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/sfr)