Ekonom Nilai Uang Baru Rp75 Ribu Tak Pengaruhi Inflasi

CNN Indonesia | Senin, 17/08/2020 15:24 WIB
Ekonom menilai peluncuran uang dengan nilai pecahan baru Rp75 ribu tak pengaruhi laju inflasi RI. Pecahan uang baru Rp75 ribu yang dikeluarkan BI peringati 75 tahun RI (Bank Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom menilai peluncuran uang pecahan baru Rp75 ribu untuk memperingati 75 tahun kemerdekaan RI tak berdampak signifikan terhadap tingkat inflasi.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Akhmad Akbar Susamto menyebut setidaknya ada tiga faktor yang membuat uang pecahan Rp75 ribu ini tak akan memberatkan inflasi RI.

Yang pertama, penerbitan uang ini bersifat terbatas atau hanya satu edisi dalam 25 tahun dan dalam jumlah yang sangat terbatas. Jika dikalkulasi, uang peringatan yang dikeluarkan sebanyak 75 juta lembar ini setara dengan Rp5,62 triliun.


Angka ini menurutnya terbilang kecil untuk mampu menggerus tingkat inflasi nasional.

Lagi pun, untuk mendapatkan uang ini, masyarakat harus menukarkan uang dalam jumlah yang sama ke BI. Artinya, pertambahan jumlah uang beredar akibat keluarnya uang pecahan Rp75 ribu ini diikuti dengan pengurangan jumlah uang beredar dalam jumlah yang sama akibat masuknya uang pecahan lain ke BI.

Kedua, meskipun uang pecahan 75 ribu rupiah sah sebagai alat pembayaran, namun ia menilai motivasi utama sebagian besar masyarakat yaitu untuk mengoleksi akan menahan uang baru untuk beredar di masyarakat.

"Walau uang pecahan Rp75 ribu sah sebagai alat pembayaran, tetapi motivasi utama sebagian besar masyarakat mendapatkan uang tersebut hanya untuk koleksi, bukan untuk digunakan dalam transaksi sehari-hari," jelasnya.

Ketiga, uang dikeluar di tengah pelemahan ekonomi akibat pandemi covid-19. Dengan rendahnya agregat permintaan saat ini, laju inflasi akan cenderung rendah. 

Pasalnya, saat pandemi ini, sebagian rumah tangga menengah ke bawah terganggu atau bahkan kehilangan sumber pendapatan mereka. Sedangkan, rumah tangga menengah ke atas masih cenderung menahan konsumsi mereka. 

Sementara, perusahaan-perusahaan juga masih menahan diri dan fokus pada upaya untuk bertahan hidup ketimbang mengejar investasi baru.

"Jadi, kalau pun ada dampak dari penerbitan pecahan uang kertas baru, dampak itu cenderung kecil," lanjut Akhmad.

Ekonom senior UI Ari Kuncoro menilai penerbitan uang pecahan baru ini adalah hal biasa bagi arus keluar-masuk BI. Ia mengaku tak khawatir dengan dampak penerbitan uang Rp75 ribu terhadap inflasi.

Tingkat inflasi saat ini juga tercatat rendah, secara tahun berjalan (year to date/ytd) inflasi sebesar 0,98 persen. Sedangkan secara tahunan (year on year/yoy) inflasi mencapai 1,54 persen pada Juli 2020.


Malah, dia menilai ini adalah saatnya pemerintah untuk memompa likuiditas ke masyarakat. Sebab, ia menyebut tengah terjadi kenaikan deposito berjangka karena masyarakat enggan membelanjakan uangnya. 

Bantuan pemerintah seperti BLT dan dana desa pun disebutnya belum tentu langsung dibelanjakan. Ia bilang ada kecenderungan menahan pembelian akibat tingginya ketidakpastian ekonomi saat ini.

"Dampaknya tidak terlalu banyak dan situasi ini bantuan pemerintah belum tentu dipakai sekarang, (malah) ada kenaikan deposito berjangka terhadap total aset finansial. Situasi malah harus dipompa likudiitas ke pasar karena orang minat belanja sedang kurang," ucapnya.

Bank Indonesia hari ini meluncurkan uang kertas pecahan Rp75 ribu bertepatan dengan peringatan HUT RI ke-75, Senin (17/8).

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa peluncuran uang kertas pecahan Rp75 ribu ini menandai pembangunan RI selama 75 tahun sejak kemerdekaan dan akan dicetak sebanyak 75 juta lembar.

Wajah proklamator kemerdekaan Soekarno dan Mohammad Hatta dipilih sebagai gambar dari pecahan uang tersebut dengan latar momen bersejarah pengibaran bendera merah putih pada 1945 silam.

(wel/eks)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK