H&M 'Cerai' dengan Pemasok China Gara-gara Isu Kerja Paksa

afp, CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 18:39 WIB
H&M mengakhiri hubungan dengan produsen benang China karena tuduhan kerja paksa yang melibatkan etnis dan agama minoritas dari provinsi Xinjiang, China. H&M mengakhiri hubungan dengan produsen benang China karena tuduhan kerja paksa yang melibatkan etnis dan agama minoritas dari provinsi Xinjiang, China. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

H&M mengakhiri hubungan dengan produsen benang China karena tuduhan kerja paksa yang melibatkan etnis dan agama minoritas dari provinsi Xinjiang, China. Produsen pakaian asal Swedia itu menegaskan tidak bekerja sama dengan pabrik garmen mana pun di wilayah tersebut, serta tidak lagi mengambil kapas dari Xinjiang yang merupakan penghasil kapas terbesar di China.

Mengutip AFP, Rabu (16/9), laporan Institut Kebijakan Strategis Australia (ASPI) pada Maret lalu menyatakan H&M sebagai salah satu penerima manfaat dari program kerja paksa. Pasalnya, raksasa mode itu memiliki hubungan kerja sama dengan pabrik produsen benang celup Huafu Fashion di Anhui, China.

Namun, H&M mengatakan bahwa mereka tidak pernah memiliki hubungan kerja sama dengan pabrik Huafu di Anhui, maupun dengan pabrik Huafu di Xinjiang. Di sisi lain, H&M mengakui bahwa mereka memiliki hubungan bisnis tidak langsung dengan satu pabrik milik Huafu Fashion di Shangyu, Provinsi Zhejiang.


"Meskipun tidak ada indikasi kerja paksa di pabrik Shangyu, kami telah memutuskan untuk menghentikan hubungan bisnis tidak langsung kami dengan Huafu Fashion Co, terlepas dari unit dan provinsi, dalam periode berikutnya 12 bulan. Sampai kami mendapatkan kejelasan lebih lanjut seputar tuduhan kerja paksa," ujar H&M dalam pernyataan tertulis.

Perusahaan mengatakan telah melakukan penyelidikan di semua pabrik manufaktur garmen di China yang memiliki kerja sama dengan perusahaan. Tujuannya, memastikan bahwa mereka tidak mempekerjakan pekerja sebagaimana yang dilaporkan sebagai program transfer tenaga kerja atau berisiko skema kerja paksa.

Seperti diketahui, tekanan internasional sedang membebani Partai Komunis, China atas tindakannya di wilayah Xinjiang. Pada Senin (14/9), Uni Eropa menekan China untuk memperbolehkan pengamat independen masuk ke wilayah Xinjiang.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan lebih dari satu juta orang Uighur merana di kamp pendidikan ulang politik. China menggambarkan lokasi itu sebagai pusat pelatihan kejuruan di mana pendidikan diberikan untuk mengangkat penduduk keluar dari kemiskinan serta menyingkirkan radikalisme Islam.

[Gambas:Video CNN]

China mengatakan kritik terhadap penanganannya atas Xinjiang bermotif politik. Kritik itu didasarkan pada kebohongan tentang apa yang terjadi di fasilitas pendidikan tersebut.

Sebelumnya, bea cukai AS telah mengambil tindakan serupa H&M. Mereka mengatakan akan melarang produk China termasuk kapas dan pakaian dari Xinjiang karena khawatir mereka dibuat menggunakan tenaga kerja paksa.

China pun mengecam langkah AS sebagai penindasan dan menepis tuduhan kerja paksa sebagai tuduhan palsu.

(ulf/sfr)