Daftar Negara yang Diprediksi Jauh dari Jeratan Resesi

CNN Indonesia | Senin, 21/09/2020 14:27 WIB
Banyak negara jatuh ke lubang resesi. Namun, beberapa negara masih selamat. Mereka adalah China, Vietnam, dan Turkmenistan. Banyak negara jatuh ke lubang resesi. Namun, beberapa negara masih selamat. Mereka adalah China, Vietnam, dan Turkmenistan. Ilustrasi. (AP/Matthias Schrader).
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah negara mulai tumbang dan jatuh ke jurang resesi akibat covid-19. Namun, masih ada beberapa di antaranya yang diprediksi bisa bertahan dan selamat dari resesi, meski pertumbuhan ekonomi-nya terkoreksi. Salah satunya, China yang jadi episentrum virus corona sebelum pandemi.

Pada kuartal I 2020, ekonomi China mengalami kontraksi hingga 6,8 persen dan merupakan pertama kalinya sejak berakhirnya revolusi kebudayaan negeri ginseng pada 1976. Namun kuartal selanjutnya, perekonomian mereka kembali rebound dan mampu tumbuh hingga 3,2 persen.

The Economist bahkan menyebut China sebagai satu-satunya negara besar yang akan melakukan ekspansi pada tahun 2020. Sementara, negara besar lainnya, Amerika Serikat dan Korea Selatan, kembali menghadapi koreksi ekonomi hingga akhir tahun, meskipun tak akan sedalam yang diperkirakan.


Selain China, negara tetangga lainnya yang diprediksi kebal dari resesi adalah Vietnam. Kesuksesan Vietnam mengendalikan penyebaran virus corona diyakini sebagai strategi jitu untuk mempertahankan pertumbuhan ekonominya di teritori positif.

Pada kuartal II lalu, ekonomi Vietnam masih mampu tumbuh 0,36 persen, meski tercatat merupakan yang terendah sejak pencatatan kuartalan dimulai di negara tersebut 30 tahun lalu.

Negara lainnya yang masih jauh dari bayang-bayang resesi adalah Turkmenistan. Pada kuartal II lalu, negara tersebut masih mencatat pertumbuhan ekonomi. 

PDB di Turkmenistan diperkirakan akan mencapai US$40,50 Miliar pada akhir tahun 2020, menurut model makro global Ekonomi Perdagangan dan ekspektasi analis. Dalam jangka panjang, PDB Turkmenistan diproyeksikan akan berada pada tren sekitar US$41,50 miliar pada 2021.

Hingga saat ini, pertumbuhan positif yang diraih negara tersebut dipengaruhi masih nihilnya kasus covid-19. Hal ini membuat aktivitas ekonomi berjalan seperti biasa dan tak terpengaruh pembatasan sosial.

Selain itu, Pakistan juga diprediksi masih jauh dari bayangan resesi. Kementerian Keuangan Pakistan melaporkan siklus kontraksi ekonomi selama enam bulan akan segera berakhir dan pertumbuhan ekonomi akan mulai positif pada Juli setelah melihat kenaikan inflasi dari harga produk minyak bumi.

"Berdasarkan Indikator Ekonomi Bulanan (MEI), kami mengharapkan pertumbuhan positif pada Juli 2020, menunjukkan mulai kembali kegiatan ekonomi" ujar Kementerian Keuangan seperti dikutip Tribune.com.pk.

Seperti diketahui, Pakistan tidak melaporkan angka pertumbuhan ekonomi setiap tiga bulan, seperti negara lain. Meski demikian Kementerian Keuangan mengatakan pada tahun anggaran sebelumnya, terdapat pertumbuhan kecil namun positif sekitar 1 persen pada kuartal pertama.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua dipercepat menjadi 2,58 persen, namun berubah pada kuartal ketiga menjadi sebesar 0,19 persen setelah pandemi covid-19.

The Economist mencatat sepanjang tahun ini, ekonomi Pakistan terkoreksi, namun tetap berada di teritori positif, yakni sebesar 0,5 persen. Kementerian Keuangan Pakistan optimistis perekonomian akan tetap berada di teritori positif hingga akhir tahun.

Namun hal tersebut juga bergantung pada prevalensi kasus covid-19. Jika penyebaran virus melambat, kegiatan ekonomi akan kembali normal dan perekonomian segera pulih. 

Risiko penyebaran virus dikaitkan dengan tingkat kesesuaian publik dengan protokol kesehatan (SOP) yang dimaksudkan untuk mencegah penyebaran pandemi.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK