Menkeu Ramal Efek Ekonomi PSBB Jilid II Tak Separah Jilid I

CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2020 18:32 WIB
Menkeu Sri Mulyani menilai masyarakat mulai terbiasa dengan kebijakan PSBB. Hal itu ditandai dengan pegawai tetap produktif di rumah. Menkeu Sri Mulyani menilai masyarakat mulai terbiasa dengan kebijakan PSBB. Hal itu ditandai dengan pegawai tetap produktif di rumah. (CNN Indonesia/ Feri Agus Setyawan).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan dampak ekonomi dari penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) jilid II DKI Jakarta tak sedalam PSBB Jilid I. Pasalnya, masyarakat mulai bisa menyesuaikan diri dengan kebijakan pembatasan sosial.

Sri Mulyani menjelaskan saat PSBB pertama kali dilakukan pada Maret 2020 lalu masyarakat kaget dan belum terbiasa. Imbasnya, hampir semua kegiatan ekonomi berhenti.

Sementara, saat ini, ia melihat masyarakat sudah terbiasa dengan kebijakan PSBB. Salah satunya dengan tetap bekerja atau produktif dari rumah (work from home).


"Dampaknya tidak sedalam situasi Maret-April 2020 lalu, karena waktu itu masyarakat baru pertama kali PSBB. Belum punya pengalaman, sehingga ekonomi terkontraksi dalam karena semua berhenti tiba-tiba," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita secara virtual, Selasa (22/9).

Ia menyatakan masyarakat mulai menyesuaikan diri dengan kebijakan PSBB sejak Juni 2020. Masyarakat mulai beraktivitas kembali dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

"Ini kami harapkan dengan langkah-langkah masyarakat bisa teredukasi dan memahami, mereka bisa melakukan aktivitas dengan aman dari risiko covid-19. Ini yang kami harapkan," jelas Sri Mulyani.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia anjlok hingga minus 5,32 persen pada kuartal II 2020. Ini merupakan yang pertama sejak kuartal 1 1999 atau era Presiden B.J. Habibie yang minus 6,13 persen.

Angka tersebut juga berbanding terbalik dibandingkan ekonomi kuartal I 2020 yang masih tumbuh sebesar 2,97 persen. Sementara, pertumbuhan ekonomi sepanjang semester I 2020 dibanding periode yang sama tahun lalu juga terkontraksi 1,26 persen.

BPS menyatakan sektor transportasi dan pergudangan menjadi sumber kontraksi tertinggi untuk ekonomi nasional kuartal II 2020. Hal itu jika dilihat berdasarkan lapangan usaha.

Sektor tersebut minus hingga 30,84 persen sepanjang April-Juni 2020. Angkanya berbanding terbalik dengan kuartal II 2019 yang tumbuh 5,88 persen.

Selain sektor transportasi dan pergudangan, sektor pengolahan juga minus 6,19 persen, konstruksi minus 5,39 persen, pertambangan minus 2,72 persen, administrasi pemerintahan minus 3,22 persen, jasa lainnya minus 12,6 prsen, jasa perusahaan minus 12,09 persen, serta pengadaan listrik dan gas minus 5,46 persen.

[Gambas:Video CNN]



(aud/sfr)