BKF Ungkap Risiko Setoran Pajak 2020 Tak Capai Target

CNN Indonesia | Jumat, 25/09/2020 17:09 WIB
Kepala BKF Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan penerimaan pajak tahun ini berpotensi lebih rendah dari target. Kepala BKF Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan penerimaan pajak tahun ini berpotensi lebih rendah dari target. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan penerimaan pajak tahun ini berpotensi lebih rendah dari target. Masalahnya, penerimaan dari pajak terus menunjukkan penurunan di tengah pandemi covid-19.

"Tampaknya memang berat, bisa jadi lebih rendah dari target," ungkap Febrio dalam diskusi virtual Kupas Tuntas Ekonomi dan APBN, Jumat (25/9).

Ia menuturkan realisasi penerimaan pajak Agustus 2020 hanya sebesar Rp676,9 triliun atau baru 56,5 persen dari target yang ditetapkan dalam Perpres 72 Tahun 2020 sebesar Rp1.198,8 triliun. Angka itu anjlok 15,6 persen dibandingkan dengan posisi Agustus 2019 sebesar Rp802,5 triliun.


"Kalau realisasi untuk Agustus sudah diumumkan, itu lebih dalam koreksinya dibandingkan Perpres 72 2020. Kalau di Perpres 72 2020, untuk pajak saja (bukan cukai) asumsinya minus 10 persen. Sekarang ini sudah lebih dalam dari itu," papar Febrio.

Untuk itu, ini akan menjadi perhatian penuh pemerintah dalam membuat strategi agar penerimaan pajak tak jauh dari target. Febrio bilang pemerintah hanya punya waktu tiga bulan untuk bisa mencapai target.

"Memang berat tapi teman-teman Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan sudah berkomitmen, berusaha keras. Walaupun lebih buruk dari yang diasumsikan, mudah-mudahan tidak terlalu jauh dari target," ujar Febrio.

Kendati penerimaan pajak berpotensi tak capai target, Febrio bilang pemerintah tak menaikkan target defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBN) 2020. Sejauh ini, target defisit masih sebesar 6,34 persen.

"Di satu sisi memang penerimaan negara agak terkoreksi dari target, tapi belum bisa lihat realisasi (secara utuh)," tutur Febrio.

Febrio menyatakan target defisit APBN 2020 lebih tinggi dari krisis 1998 silam. Menurut dia, defisit APBN pada krisis moneter 1998 masih di rentang 4 persen-5 persen.

"Semua negara agresif secara fiskal, Indonesia dorong defisit 6,34 persen, belum pernah seperti itu, 1998 pun defisit paling 4 persen-5 persen," ucap Febrio.

Namun, ia bilang semua negara memang sedang menaikkan defisit anggarannya tahun ini. Maklum, negara butuh banyak dana untuk menangani pandemi virus corona.

Sebagai informasi, defisit APBN per Agustus 2020 sebesar Rp500,5 triliun. Defisit tersebut setara 3,05 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angkanya meningkat 152,9 persen dari Agustus 2019 yang hanya Rp197 triliun. Pada Agustus 2019, angka defisitnya setara dengan 1,25 persen terhadap PDB.

Defisit melonjak karena penerimaan negara anjlok. Tercatat, pendapatan negara hingga akhir Agustus 2020 hanya Rp1.034,1 triliun atau turun 13,1 persen dibandingkan Agustus 2019 yang sebesar Rp1.190,2 triliun.

Sementara, belanja negara hingga akhir Agustus 2020 mencapai Rp1.534,7 triliun. Angkanya naik 10,6 persen dari Agustus 2019 lalu yang sebesar Rp1.388,1 triliun.

[Gambas:Video CNN]



(aud/age)