Jokowi Larang Penerima Bantuan Pakai Duit Beli HP

CNN Indonesia | Selasa, 29/09/2020 16:27 WIB
Presiden Jokowi melarang penerima bantuan untuk usaha mikro sebesar Rp2,4 juta menggunakan uang tersebut untuk membeli handphone. Presiden Jokowi melarang penerima bantuan untuk usaha mikro sebesar Rp2,4 juta menggunakan uang tersebut untuk membeli handphone. (Biro Pers Sekretariat Presiden).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Joko Widodo (Jokowi) melarang penerima Bantuan Presiden untuk Usaha Mikro (BPUM) sebesar Rp2,4 juta per penerima dipakai untuk membeli telepon genggam (handphone). Ia ingin bantuan benar-benar dimanfaatkan untuk tambahan modal usaha. 

"Hati-hati, jangan dibelikan handphone sisanya, harus disimpan kalau-kalau perlu untuk perluasan usaha," ungkap Jokowi saat membagikan BPUM ke beberapa pedagang kecil di Istana Kepresidenan Bogor, Selasa (29/9). 

Ia juga meminta para pedagang bisa berpikir layaknya seorang pengusaha, di mana dana yang ada digunakan semaksimal mungkin untuk menambah produk yang akan dijual. Bisa juga untuk membeli kebutuhan bahan baku. 


"Yang pedagang asongan misalnya, Rp2,4 juta tadi dipakai untuk perbanyak produk yang akan dijual, berpikirnya harus seperti pengusaha. Jangan sampai itu ada sisa kemudian dibelikan ke hal-hal yang konsumtif," jelasnya. 

Selain itu, Jokowi juga mengingatkan para pedagang agar lebih semangat dan bekerja keras dalam mempertahankan usahanya. Ia tidak ingin para pedagang kehilangan momentum.

Oleh karena itu, bantuan modal yang sudah diberikan harus bisa digunakan sebaik-baiknya untuk mempertahankan usaha. Bahkan, meningkatkan saat pemulihan ekonomi sudah berlangsung nanti. 

"Jangan semangatnya kendor, harus tetap bertahan meski ada penurunan, kerja harus lebih keras," tuturnya. 

Lebih lanjut, Jokowi mengatakan bahwa kesulitan ekonomi di tengah pandemi corona sejatinya bukan hanya diraskan oleh pedagang kecil, namun juga para pengusaha menengah dan besar. Begitu juga pemerintah. 

Bahkan, tekanan ekonomi tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga 215 negara lain di dunia. "Jadi kalau omzet turun harus tetap disyukuri, wong yang namanya negara saja defisit kok, jadi negara kita ini minus incomenya, pendapatannya, ini bukan sesuatu yang gampang memang," ucapnya. 

Kendati begitu, ia meyakini kondisi ini tidak akan berlangsung lama. Sebab, pemerintah tengah menyiapkan produksi dan distribusi vaksin covid-19.

Harapannya, vaksin bisa menjadi penawar wabah yang selanjutnya bisa membuat aktivitas ekonomi masyarakat kembali normal lagi secepatnya. 

"Kita harap di Desember, vaksin sudah masuk, kondisi tahun depan sudah normal, makanya bapak-ibu jangan kehilangan momentum. Jangan sampai nanti modal kerjanya sudah tidak ada," pungkasnya. 

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)