Pengamat soal Maskapai Baru Lion Air: Apa Salahnya

CNN Indonesia | Jumat, 02/10/2020 16:49 WIB
Pengamat penerbangan menilai tidak ada salahnya bila Lion Air ekspansi di tengah pandemi covid-19. Justru ini membuktikan ada kesempatan di masa pemulihan. Pengamat penerbangan menilai tidak ada salahnya bila Lion Air ekspansi di tengah pandemi covid-19. Justru ini membuktikan ada kesempatan di masa pemulihan. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Umarul Faruq).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengamat Penerbangan Gerry Soejatman menilai tidak masalah jika ada maskapai yang siap-siap melakukan ekspansi bisnis di masa pandemi covid-19 atau virus corona. Misalnya, seperti rumor yang berembus bahwa Lion Air Group akan membuka maskapai baru.

Gerry menuturkan covid-19 membuat situasi perekonomian menjadi sulit dan memprihatinkan. Tapi, bukan berarti tidak ada kesempatan untuk melakukan ekspansi.

"Apa salahnya bersiap-siap untuk ekspansi. Ingat, Lion Air juga mulai pada 2000, di masa recovery Indonesia dari krisis moneter 1998. Jadi, ya tidak kaget misalnya Pak Rusdi Kirana (Pendiri Lion Air Group) melihat ada kesempatan di masa recovery (pemulihan) pandemi corona," ujar Gerry kepada CNNIndonesia.com, Jumat (2/10).


Ia bilang bukan hanya Lion Air Group yang 'digosipkan' bakal membuka maskapai baru. Sebelumnya, maskapai asal Australia bernama Regional Express Airlines juga mengumumkan akan ekspansi dengan masuk ke beberapa rute dan kota-kota besar di Australia menggunakan pesawat jet.

"Sudah tanda tangan leasing juga. Padahal, Australia sendiri juga pasar domestiknya merosot karena pandemi ini," kata Gerry.

Selain itu, Gerry menyatakan industri penerbangan domestik di China pada Juli 2020 kemarin mulai pulih. Artinya, China hanya butuh waktu sekitar 4 bulan sampai 6 bulan dari puncak kasus penularan virus corona di negara tersebut.

"Jadi, ya saya tidak kaget kalau ada yang melihat kesempatan untuk ekspansi ketika permintaan mulai pulih jika puncak pandemi sudah lewat," ujar Gerry.

Lagipula, Gerry berpendapat akan ada banyak maskapai yang menjual tiket murah setelah pandemi corona berakhir. Hal ini dilakukan untuk menarik minat pasar.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet, sebetulnya melihat saat ini bukan lah waktu yang tepat bagi industri penerbangan melakukan ekspansi bisnis. Pasalnya, permintaan pasar saja masih anjlok karena pandemi.

"Keinginan Lion Air buka usaha baru ini dari segi bisnis agak berisiko," ujar Yusuf.

Ia menilai seluruh usaha yang berkaitan dengan sektor pariwisata, termasuk industri penerbangan merosot tajam karena minim peminat. Karena itu, Yusuf memandang percuma jika maskapai ingin ekspansi.

Apalagi, industri penerbangan masuk daftar sektor yang sulit bangkit meski pandemi sudah berakhir. Yusuf menilai masih banyak masyarakat yang masih menahan untuk pergi keluar hingga situasi benar-benar aman.

"Walaupun ada yang bosan tapi bukan berarti setelah pandemi jumlah yang pergi langsung naik signifikan. Masih ada rasa takut untuk keluar," jelas Yusuf.

Ia menambahkan maskapai amat bergantung dengan pemulihan di sektor pariwisata. Jika pariwisata sulilt pulih, artinya industri penerbangan akan ikut terdampak.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan pemulihan sektor pariwisata akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Pasalnya, mobilitas masyarakat di tempat transit tercatat 35 persen di bawah normal pada akhir Juli 2020.

[Gambas:Video CNN]

"Seiring pergerakan di tempat transit ini, untuk sektor pariwisata pemulihannya akan butuh (waktu) sangat lama," kata Suhariyanto.

Ia menjelaskan tempat transit yang dimaksud adalah bandara dan stasiun bus. Rendahnya mobilitas masyarakat di tempat transit berpengaruh pada jumlah penumpang pesawat dan bus.

Sepanjang Juli 2020, Suhariyanto memaparkan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia hanya 159 ribu orang. Jumlah itu turun 89 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dikabarkan sebelumnya Lion Air Group akan membuka maskapai baru. Belum ada komentar dari manajemen perusahaan terkait hal ini.

Corporate Communication Strategic Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro dan Managing Director Lion Air Group Capt. Daniel Putu Kuncoro Adi enggan berkomentar terkait isu tersebut.

"No comment," ungkap keduanya ketika dihubungi oleh CNNIndonesia.com.

Namun, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Budi Prayitno membenarkan ada salah satu badan hukum yang mengajukan untuk membentuk maskapai baru.

Namun, ia enggan menyebut nama badan hukum tersebut. "Saya tidak bisa konfirmasi itu Lion Air atau maskapai lain, tapi ada badan hukum yang mengajukan perizinan itu sebagai maskapai baru," pungkas Budi. 

(aud/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK