Fitch Nilai Biden Lebih Positif ke Ekonomi AS Dibanding Trump

CNN Indonesia | Kamis, 08/10/2020 16:05 WIB
Fitch Ratings menilai jika terpilih menjadi presiden AS, Joe Biden bisa memberi dampak positif ke ekonomi global ketimbang Donald Trump. Fitch Rating menyebut dampak Joe Biden ke ekonomi lebih positif kalau terpilih jadi presiden AS ketimbang Trump. Ilustrasi. (Jim WATSON and SAUL LOEB / AFP).
Jakarta, CNN Indonesia --

Fitch Ratings, lembaga pemeringkat kredit internasional menilai Joe Biden bisa memberi dampak yang lebih positif bagi kondisi ekonomi global hingga negara-negara berkembang seperti Indonesia jika terpilih menjadi presiden AS ketimbang calon petahana Donald Trump.

Head of Asia-Pasific Sovereigns Fitch Ratings Stephen Schwartz mengatakan hal ini terlihat dari karakter dari masing-masing kandidat. Menurutnya, Biden merupakan sosok pemimpin yang condong pada komunikasi tradisional dan hubungan kerja sama yang baik.

Karakter ini, katanya, kemungkinan akan diterapkan pemerintahan AS ke depan terhadap semua negara, termasuk China. Kalau harapan itu terwujud, perang dagang antara Negeri Paman Sam dan Negeri Tirai Bambu mungkin bisa diselesaikan, sehingga memberikan kepastian dan dampak positif bagi ekonomi global hingga negara berkembang.


"Jika Biden menang, mungkin akan lebih ke pendekatan multilateral yang lebih tradisional, yang agak lebih dapat diprediksi. Itu bagus untuk kepastian kebijakan dan mungkin bagus untuk pasar negara berkembang juga," ujar Schwartz di program Squawk Box CNBC Indonesia TV, Kamis (8/10).

Kendati begitu, ia melihat sekalipun Biden menang, ketegangan hubungan antara AS-China kemungkinan tidak langsung lenyap. Hanya saja, ada potensi hubungan kedua negara lebih dilihat secara diplomatis.

Sebab, permintaan keadilan dari AS kepada China terkait kekayaan intelektual sejatinya tetap memiliki konteks bisnis. Hal ini juga dinilai penting untuk kelangsungan bisnis dan hubungan kerja sama negara di dunia ke depan.

"Jadi yang mungkin berbeda adalah pendekatan Biden mungkin lebih multilateral," imbuhnya.

[Gambas:Video CNN]

Hal itu katanya, akan berbeda bila Trump yang memenangkan pemilihan presiden (pilpres) AS. Ketika itu terjadi, kemungkinan ketegangan dengan China akan tetap berlanjut.

"Jika Trump memang, itu akan mirip dengan pendekatan berperang sepihak, yang agak tidak dapat diprediksi. Pemerintahan Trump sangat sulit bagi pembuat kebijakan untuk mengikuti dan bereaksi. Jadi pendekatan kebijakan yang lebih dapat diprediksi mungkin akan disambut oleh pembuat kebijakan di seluruh dunia," jelasnya.

Khusus untuk Indonesia, ia menilai dampak pilpres AS kemungkinan tidak akan terlalu signifikan bagi sektor perdagangan Indonesia. Sebab, Indonesia sudah punya basis hubungan kemitraan dagang yang besar dengan negara ekonomi terbesar di dunia itu.

Kendati begitu, pengamat pasar modal sekaligus Dosen Universitas Atmajaya Irvin Patmadiwiria mengatakan sosok Trump sebenarnya tak selalu lekat dengan cap buruk bagi ekonomi global. Sebab, kadang kala, cuitan-cuitan dari Trump yang mampu menggerakkan pasar keuangan.

"Sebenarnya dari sisi investor kadang cukup disukai karena pernyataan-pernyataannya kontroversi, bisa positif dan negatif," ujar Irwin pada sesi terpisah program tersebut.

Irwin membandingkan dampak kepemimpinan Trump dengan Presiden AS ke-44 Barrack Obama. Menurutnya, kondisi pasar di era Obama kadang tidak begitu menarik dan cukup landai.

"Kalau bicara yang normal-normal saja seperti presiden sebelumnya, pertumbuhan AS landai-landai saja, tidak terlalu menarik. Hanya tinggal bagaimana menyikapi pernyataan-pernyataan yang dilontarkan Trump nanti," imbuhnya.

Selain itu, bila Trump menang lagi, ia berharap hubungan AS-China tidak setegang saat ini. Sebab, ketegangan yang tinggi pun tidak terlalu baik bagi perkembangan pasar.


"Supaya perang dagang antara AS-China kalau bisa jangan terlalu vulgar, jangan terlalu meledak-ledak karena ini justru mengganggu ekonomi global, tetap harus disikapi dengan bijaksana," tuturnya.

PR Ekonomi AS

Schwartz memberikan beberapa poin yang perlu diperhatikan pemerintahan AS ke depan usai penetapan hasil pilpres. Pertama, bengkaknya defisit anggaran karena tingginya dana pemulihan ekonomi dari pandemi corona.

"Defisit anggaran AS kami perkirakan akan melebihi 20 persen dari PDB pada tahun ini," ucapnya.

Kedua, bayang-bayang kenaikan rasio utang AS. Hal ini terjadi karena pemerintah membutuhkan dana untuk menutup defisit.

"Rasio utang akan meningkat menjadi sekitar 130 persen dari PDB, itu rasio utang tertinggi dari negara dengan peringkat AAA mana pun di dunia," tandasnya.

Ia memberi catatan agar persoalan utang benar-benar dipikirkan oleh presiden terpilih nanti. Sebab, diperkirakan belum bisa terkonsolidasi dalam jangka menengah.

(uli/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK