Harga Minyak Kisut Usai Aksi Mogok di Norwegia Berakhir

CNN Indonesia | Senin, 12/10/2020 06:43 WIB
Pelaku pasar khawatir mogok pekerja di Norwegia akan meningkatkan produksi minyak, sehingga harganya turun hingga 1,4 persen pada akhir pekan. Pelaku pasar khawatir mogok pekerja di Norwegia akan meningkatkan produksi minyak, sehingga harganya turun hingga 1,4 persen pada akhir pekan. Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia turun pada perdagangan Jumat (9/10) lantaran aksi mogok pekerja minyak di Norwegia telah berakhir. Pasar khawatir kondisi ini akan meningkatkan produksi minyak mentah.

Mengutip Antara, Senin (12/10) minyak berjangka Brent untuk pengiriman Desember terpangkas 49 sen atau 1,1 persen menjadi US$42,85 per barel.

Sedangkan, minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun 59 sen atau 1,4 persen menjadi US$40,60 per barel.


Meski turun, namun kedua harga patokan itu berhasil naik sekitar 9 persen pekan ini. Penguatan itu sekaligus menjadi yang pertama dalam 3 minggu terakhir.

Sebelumnya, harga minyak naik di awal pekan dipicu kekhawatiran aksi mogok pekerja minyak di Norwegia. Kemudian perusahaan minyak Norwegia melakukan tawar-menawar upah dengan pimpinan serikat pekerja, sehingga mengakhiri aksi selama 10 hari itu.

"Salah satu faktor bullish yang mendukung harga, tumbang sore hari, pengumuman bahwa Norwegia akan mengakhiri pemogokan mereka," imbuh analis senior di Price Futures Group, Chicago Phil Flynn.

Faktor lain yang sempat memukul harga minyak dunia adalah Badai Delta. Badai itu menekan produksi energi lepas pantai AS di Teluk Meksiko dalam 15 tahun terakhir, karena menghentikan sebagian besar produksi minyak di kawasan itu.

Sementara itu, JP Morgan mengatakan bahwa prospek permintaan minyak global memburuk karena potensi kenaikan kasus virus corona musim dingin ini.

Kondisi ini akan mendorong Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) membatalkan rencana pelonggaran pemotongan minyak pada 2021.

Bahkan, JP Morgan memprediksi Arab Saudi justru menawarkan pemangkasan minyak mentah lebih dalam dari kuota saat ini. 

[Gambas:Video CNN]



(ulf/bir)