Warga soal PSBB Transisi: Makan di Restoran Nanti Dulu Deh

CNN Indonesia | Senin, 12/10/2020 11:39 WIB
Sebagian warga DKI mengaku masih membatasi diri makan di restoran dan nonton ke bioskop, meski PSBB transisi melonggarkan aktivitas di tengah covid-19. Sebagian warga DKI mengaku masih membatasi diri makan di restoran dan nonton ke bioskop, meski PSBB transisi melonggarkan aktivitas di tengah covid-19. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebagian warga mengaku enggan makan di restoran dan nonton ke bioskop di masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi. Mereka masih khawatir untuk bepergian ke luar rumah.

Apfia Tioconny (27), salah satunya. Pegawai swasta yang telah menjalani sistem bekerja dari rumah (work from home) sejak Maret 2020 juga belum berani untuk menghabiskan banyak waktu di luar rumah.

"Saya nanti-nanti dulu deh, makan di luar bukan sesuatu yang penting juga," tutur Apfia kepada CNNIndonesia.com, Senin (12/10).


Bukan hanya itu, Apfia juga masih enggan ke bioskop dalam waktu dekat. Ia takut karena kasus penularan covid-19 di Indonesia masih tinggi.

Data pemerintah mencatat jumlah kasus positif corona di Indonesia menembus 333.449 kasus per 11 Oktober 2020.

Dari angka itu, terdapat penambahan kasus positif 4.497, pasien sembuh sebanyak 3.546 orang, dan 79 pasien meninggal dibandingkan jumlah 10 Oktober 2020.

"Angka kasus positif masih banyak ya, jadi saya tahan dulu saja. Ini apalagi bioskop, itu kalau sudah aman saja," imbuh Apfia.  

Hal yang sama dilakukan Setiawan (27). Ia masih ragu untuk makan di restoran, pergi ke pusat perbelanjaan atau ke bioskop, meski Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah menerapkan PSBB transisi.

"Saya biasanya delivery atau masak, karena saya lihat kasus penularan virus corona juga masih tinggi. Untuk ke bioskop juga belum mau, masih ragu" kata Setiawan.

Setiawan menyatakan masih tinggal bersama orang tua yang berumur di atas 50 tahun atau rentan tertular corona. Dengan demikian, Setiawan berusaha menjaga agar seluruh anggota keluarga tetap sehat dengan mengurangi kegiatan di luar rumah.

"Di rumah kan ada orang tua, sakit jantung. Jadi saya menghindari risiko penularan dari luar juga," tutur Setiawan.

[Gambas:Video CNN]

Biasanya, ia mengaku pergi keluar rumah hanya untuk membeli perlengkapan rumah tangga yang stoknya sudah habis. Setiawan rata-rata berbelanja kebutuhan rumah tangga hanya 2 kali dalam sebulan.

"Kalau keluar rumah itu biasanya ke pusat perbelanjaan. Itu untuk belanja bulanan, tapi juga tidak lama-lama, langsung pulang setelah selesai," jelas Setiawan.

Sikap yang sama diambil Karima Amalia (27). Ibu dua anak ini lebih memilih menggunakan layanan drive thru atau delivery jika ingin menikmati makanan olahan restoran.

"Saya tetap memilih drive thru atau delivery saja karena punya bayi," ucap Karima.

Ia mengaku kesulitan untuk menjaga kedua anaknya mematuhi protokol kesehatan karena masih kecil. Kedua anaknya tak suka menggunakan masker.

"Yang paling saya jaga adalah anak-anak saya tidak bisa mematuhi protokol kesehatan yang ada. Anak saya bisa bertahan menggunakan masker tidak sampai 5 menit," ungkap Karima.

Maka dari itu, ia tetap memilih menghabiskan waktu dengan keluarga di rumah jika tak ada hal mendesak yang mengharuskannya bepergian. Selain itu, Karima juga mengaku lebih sering masak untuk menjaga kesehatan keluarga.

"Jadi kalau delivery makanan dari luar akhir pekan saja, pengganti jalan-jalan ke mall juga," ujar Karima.

Sebelumnya, Anies memutuskan untuk kembali menerapkan PSBB transisi pada 12-25 Oktober 2020. Selama masa itu, sejumlah sektor industri dan perdagangan dilonggarkan.

Salah satunya adalah restoran diizinkan melayani pengunjung dengan protokol kesehatan secara ketat. Restoran diperbolehkan lagi melayani dine in atau makan di tempat dengan jam operasional 06.00 hingga 21.00.

Namun, jarak antar meja dan kursi harus diatur minimal 1,5 meter kecuali untuk satu domisili. Alat makan-minum mereka juga harus disterilisasi secara rutin dan pelayan wajib memakai masker, face shield serta sarung tangan.

Restoran yang memiliki Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) juga dibolehkan menggelar live music asalkan masyarakat tetap di kursi masing-masing, tidak berdiri atau melantai, serta tak menimbulkan kerumunan.

Bukan hanya restoran, bioskop juga diperbolehkan beroperasi kembali. Namun, ada pembatasan pengunjung maksimal 25 persen dari kapasitas dan pengelola juga diminta memberi jarak antar tempat duduk minimal 1,5 meter.

Selain itu, pengunjung dilarang berpindah-pindah tempat duduk atau berlalu lalang, alat makan dan minum disterilisasi, serta pelayanan makanan dilarang dalam bentuk prasmanan. Lalu, pengelola juga harus memastikan bahwa seluruh karyawannya menggunakan masker, face shield, dan sarung tangan.

(aud/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK