OJK Catat Premi Asuransi Melorot 6,1 Persen karena Corona

CNN Indonesia | Selasa, 27/10/2020 15:19 WIB
OJK merinci premi asuransi jiwa turun 9,3 persen, sedangkan asuransi umum turun 0,2 persen. Padahal, kedua jenis asuransi ini selalu tumbuh di atas 10 persen. OJK merinci premi asuransi jiwa turun 9,3 persen per Agustus, sedangkan asuransi umum turun 0,2 persen. Padahal, premi kedua jenis asuransi biasanya tumbuh di atas 10 persen per tahun. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total premi asuransi, jiwa dan umum, hingga Agustus 2020 hanya sebesar Rp176,3 triliun. Realisasi itu turun 6,1 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp187,7 triliun.

Kepala Departemen Pengawasan IKNB 2A OJK Ahmad Nasrullah mengatakan penurunan paling parah terjadi pada industri asuransi jiwa, yakni 9,3 persen per Agustus 2020. Total premi perusahaan asuransi jiwa hanya Rp109,6 triliun dari sebelumnya yang mencapai Rp120,8 triliun.

Sementara, premi dari perusahaan asuransi umum dan reasuransi (PAUR) turun tipis 0,2 persen hingga Agustus 2020. Perolehan premi pada Agustus 2020 hanya Rp66,7 triliun dari sebelumnya Rp66,9 triliun.


"Secara tahunan memang turun signifikan, biasanya asuransi umum dan jiwa setiap tahun premi naik 10 persen, sekitar 10-17 persen. Tapi khusus 2020, karena pandemi covid-19, penurunan pendapatan premi sampai 6,1 persen," ungkap Nasrullah dalam Webinar Strategi Sektor Keuangan Nonbank dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Melalui Teknologi, Selasa (27/10).

Lebih lanjut ia menjelaskan penurunan premi asuransi jiwa khususnya disebabkan oleh turunnya premi dari jenis produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) yang mencapai 9,2 persen.

Sementara, di asuransi umum, penurunan premi disebabkan oleh segmen kendaraan bermotor sebesar 20,8 persen.

"Penurunan premi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor dipengaruhi oleh penurunan angka penjualan, kendaraan bermotor, yang secara tahunan terkontraksi 15,1 persen," tutur Nasrullah.

Selain itu, nilai investasi perusahaan asuransi secara total juga turun 2,6 persen per Agustus 2020. Nilai investasi pada Agustus 2020 hanya Rp549,6 triliun, turun dari sebelumnya yang mencapai Rp564,1 triliun.

"Penurunan nilai investasi industri asuransi dipicu penurunan nilai investasi pada sektor industri asuransi jiwa sebesar 3,5 persen. Sementara nilai investasi umum masih positif 2,4 persen," jelas Nasrullah.

Begitu juga dengan aset. Total aset asuransi merosot 1,1 persen dari Rp720,9 triliun menjadi Rp713,3 triliun per Agustus 2020.

"Aset industri asuransi jiwa turun 3,7 persen dan asuransi umum masih tumbuh 6,9 persen,' imbuh Nasrullah.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut bahwa industri asuransi, baik jiwa dan umum, perlu meningkatkan kepercayaan kepada masyarakat. Sebab, bisnis asuransi akan bergantung dengan kepercayaan masyarakat.

Ia menyatakan pelaku asuransi juga perlu memanfaatkan teknologi untuk membangun kepercayaan masyarakat dalam membeli polis asuransi. Misalnya, perusahaan bisa menerima keluhan atau pengajuan klaim secara digital.

"Saya ingin bagaimana teknologi itu buat asuransi jadi dipercaya, bagaimana bisa meningkatkan kepercayaan dengan teknologi. Ini bisa buat perspektif lebih baik," tandas Suahasil.

[Gambas:Video CNN]



(aud/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK