OJK Minta Pelaku Waspadai Lonjakan Asuransi Kredit

CNN Indonesia | Selasa, 27/10/2020 14:20 WIB
OJK meminta pelaku industri asuransi mewaspadai lonjakan premi asuransi kredit yang memproteksi risiko kegagalan debitur melunasi pinjaman bank. OJK meminta pelaku industri asuransi mewaspadai lonjakan premi asuransi kredit yang memproteksi risiko kegagalan debitur melunasi pinjaman bank. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau pelaku asuransi umum/kerugian untuk mewaspadai lonjakan premi asuransi kredit. Lini asuransi kredit memproteksi risiko kegagalan debitur dalam melunasi pinjaman yang diberikan oleh bank atau lembaga keuangan lainnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Riswinandi mengungkap premi asuransi kredit tumbuh signifikan sebesar 58,95 persen (yoy) pada Agustus 2020.

Menurutnya, lonjakan premi asuransi kredit tersebut disebabkan inisiatif kreditur melakukan mitigasi risiko kredit di tengah pandemi covid-19.


"Tapi dengan risiko yang berkembang ini, kami menilai perusahaan asuransi perlu ekstra hati-hati khususnya yang bergerak bidang asuransi kredit," ujarnya dalam acara Indonesia Financial Sector Outlook 2021, Selasa (27/10).

"Dalam hal ini, kenaikan premi di lini asuransi kredit juga diikuti kenaikan signifikan dari klaim, mengindikasikan potensi risiko kredit yang makin besar," lanjut dia.

Ia menyarankan industri asuransi melakukan evaluasi mendalam pada proteksi kredit yang diberikan. Bank sebagai kreditur pun sangat selektif dalam memberikan kredit mulai dari langkah Know Your Customer (KYC), pendalaman proyek, proses due diligence, hingga agunan kredit.

"Nah, perusahaan asuransi yang memberikan jasa asuransi kredit, mestinya lebih dalam lagi, karena artinya akan menjadi bumper (bantalan) terakhir, ujung penanggung risiko, bisa dikatakan demikian," tuturnya.

Memang, Riswinandi menyebut pertumbuhan premi pada lini asuransi kredit bisa mengimbangi penurunan pendapatan premi dari lini bisnis asuransi umum lainnya.

Data OJK menyebut, premi asuransi umum berkurang dari Rp51,68 triliun menjadi Rp49,29 triliun pada Agustus 2020.

"Dampak pandemi ini terlihat dari penurunan akumulasi premi (asuransi umum) minus 0,78 persen yoy," jelasnya.

Penyebabnya, kata dia, dipicu dari penurunan premi dari lini asuransi kendaraan bermotor, yang memiliki kontribusi besar pada bisnis asuransi umum.

Kondisi ini sejalan dengan penurunan penjualan motor periode Agustus 2020 dibandingkan tahun sebelumnya.

"Data Gaikindo penjualan motor turun cukup besar minus 51,13 persen yoy pada Agustus 2020," tandasnya.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK