Harga Minyak Anjlok Lebih dari 10 Persen dalam Sebulan

CNN Indonesia | Senin, 02/11/2020 07:24 WIB
Harga minyak dunia anjlok 10 persen lebih dalam sebulan. Pelemahan dipicu peningkatan kasus corona di dunia. Harga minyak anjlok 10 persen lebih dalam sebulan ini akibat tertekan virus corona. Ilustrasi. (iStock/ozgurdonmaz).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak jatuh lagi pada akhir perdagangan Jumat (30/10) waktu AS atau Sabtu (31/10) pagi WIB. Pelemahan itu memperpanjang penurunan tajam hari sebelumnya dan membukukan penurunan bulanan kedua berturut-turut karena meningkatnya kasus covid-19 di Eropa dan Amerika Serikat.

Peningkatan kasus itu mendorong kenaikan kekhawatiran pasar atas prospek konsumsi bahan bakar sehingga menekan harga minyak.

Dikutip dari Antara, Senin (2/11), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember turun 19 sen ke level US$37,46 per barel, setelah menyentuh level terendah lima bulan yang di US$36,64  per barel di sesi sebelumnya.


Kontrak Brent bulan depan berakhir pada Jumat dan kontrak Januari turun 32 sen. Sementara di sisi lain, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak penyerahan Desember turun 38 sen ke level US$35,79 per barel setelah turun ke level terendah sejak Juni pada Kamis (29/10) di level US$34,92 per barel.

Dengan pelemahan itu,  harga minyak jenis WTI merosot 11 persen dan Brent jatuh 10 persen untuk bulan ini.

Para pemimpin di Prancis dan Jerman telah memerintahkan negara mereka untuk kembali menerapkan lockdown. Itu dilakukan ketika gelombang besar kedua infeksi virus corona mengancam membanjiri Eropa sebelum musim dingin.

[Gambas:Video CNN]

Amerika Serikat juga menghadapi lonjakan kasus, memecahkan rekor infeksi baru satu hari.

"Banyak negara dengan konsumsi minyak yang tinggi di seluruh dunia melihat tingkat infeksi yang tidak mereka alami bahkan selama gelombang pertama. Ini akan menggigit permintaan minyak karena lalu lintas akan dibatas seminimal mungkin selama lockdown, " kata Paola Rodriguez-Masiu, analis pasar minyak senior Rystad Energy.

Celakanya, di tengah tekanan itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, kelompok yang dikenal sebagai OPEC+ justru berencana meningkatkan produksi sebesar dua juta barel per hari (bph) pada Januari.

Meskipun demikian, produsen utama Arab Saudi dan Rusia mendukung untuk mempertahankan pengurangan produksi kelompok saat ini sekitar 7,7 juta barel per hari hingga tahun depan dalam menghadapi penguncian di Eropa dan peningkatan produksi minyak Libya.

OPEC+ dijadwalkan mengadakan pertemuan kebijakan pada 30 November dan 1 Desember.

(Antara/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK