Transaksi e-Commerce Diprediksi Tembus Rp429 T Tahun Ini

CNN Indonesia | Rabu, 18/11/2020 20:42 WIB
OJK memprediksi transaksi e-commerce di Indonesia lompat 108,6 persen menjadi Rp429 triliun hingga akhir tahun nanti. OJK memprediksi transaksi e-commerce di Indonesia lompat 108,6 persen menjadi Rp429 triliun hingga akhir tahun nanti. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi transaksi e-commerce di Tanah Air lompat hingga 108,6 persen hingga akhir tahun ini, yaitu dari Rp206 triliun pada 2019 menjadi Rp429 triliun pada 2020.

"Meskipun ini masih ada a few month (beberapa bulan laporan) yang harus kita tunggu, tapi kami yakin ini akan tercapai," terang Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam Ngobrol Pintar yang digelar ISED, Rabu (18/11)

OJK mencatat volume transaksi e-commerce Indonesia pada September 2020 lalu tumbuh 79,38 persen year on year/yoy jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.


Sementara, nominal transaksinya mencapai Rp22,05 triliun atau tumbuh 13,3 persen yoy dari periode yang sama tahun lalu Rp19,46 triliun.

"Di Indonesia transaksi e-commerce pada September mencapai 150,2 juta transaksi di mana transaksi meningkat 79,38 persen dari 83,71 juta transaksi pada September 2019," ujarnya.

Diproyeksi, transaksi e-commerce Indonesia 2020-2024 meningkat cukup signifikan dibandingkan negara-negara lain.

Bahkan, berpotensi mengalami pertumbuhan transaksi terbesar ketiga di dunia setelah Turki yang mencapai 20,2 persen dan Argentina yang mencapai 16,30 persen. 

"Indonesia akan tumbuh 15,4 persen lebih tinggi dari India 13,10 persen dan Afrika Selatan 10, lalu Brazil 10, Tiongkok 8 persen," papar Wimboh.

Bahkan jika dibandingkan negara-negara lain, Indonesia sebenarnya mengalami pertumbuhan pasar e-commerce terbesar. Sebab, persentase pertumbuhan Indonesia sebesar 15,4 persen dari total penduduk yang mencapai 207 juta orang.

"Ini luar biasa karena akan besar sekali. 2018-2022 saja Indonesia pasarnya 16,6 persen, menepati peringkat ke-3 terbesar setelah India 19,8 persen dan Malaysia 17,6 persen," tandas Wimboh.

[Gambas:Video CNN]



(hrf/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK