Produsen Cetakan Sarung Tangan Cuan, Banjir Order dari China

CNN Indonesia | Jumat, 20/11/2020 07:38 WIB
Mark Dynamics, perusahaan cetakan sarung tangan mengklaim kebanjiran pesanan dari China di era pandemi covid-19. Mark Dynamics, perusahaan cetakan sarung tangan mengklaim kebanjiran orderan dari China di era pandemi covid-19. Ilustrasi. (iStockphoto/seb_ra).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Mark Dynamics Tbk (MARK), perusahaan cetakan sarung tangan menjadi salah satu pelaku bisnis yang 'cuan' ketika pandemi virus corona atau covid-19. Sebab, pandemi justru membuatnya kebanjiran pesanan, khususnya dari China.

Chief Financial Officer Mark Dynamics Budi Muharsyah mengatakan total nilai penjualan perusahaan lompat 40 persen sepanjang tahun ini dibandingkan tahun lalu. Alhasil, laba perusahaan pun merangkak sekitar 37 persen.

"Perusahaan kami menjadi salah satu yang tumbuh pada saat ini. Sekarang China juga masuk ke industri sarung tangan, jadi mereka perlu cetakan dari kami dan mereka jadi pasar baru kami," imbuh Budi di diskusi virtual yang diadakan oleh IDX Channel, Kamis (19/11) malam.


Tak hanya dari China, Budi bilang perusahaannya kini juga kebanjiran pesanan dari Afrika Selatan dan Amerika Serikat (AS). Semua ini merupakan 'rejeki' di tengah pandemi yang didapat perusahaan.

Maklum, Mark Dynamics merupakan satu-satunya produsen cetakan sarung tangan berskala besar di Indonesia. Selain itu, perusahaan memang berorientasi ekspor, di mana 95 persen hasil produksi pasti dijual ke luar negeri.

"Di kondisi pandemi, kami mengalami pertumbuhan yang belum pernah kami rasakan sebelumnya," imbuhnya.

Selain mendapat pesanan dari China, Afrika, dan AS yang merupakan pasar baru perusahaan, penjualan cetakan sarung tangan Mark Dynamics juga meroket ke Malaysia, pasar utama mereka. Negeri Jiran mengusai sekitar 65 persen dari pangsa pasar perusahaan selama ini.

"Industri ini memang belum banyak diketahui di Indonesia, tapi industri ini berkembang di Malaysia. Kemarin saat mereka lockdown, sempat penjualan ke sana turun, tapi ketika dibuka langsung naik lagi," tuturnya.

Di sisi lain, Budi mengklaim keuntungan di tengah pandemi ini sejatinya tidak hanya terasa bagi kantong perusahaan, tapi juga industri lain yang berekanan. Misalnya, industri logistik, bahan baku, dan lainnya.

"Dari logistik pasti naik karena kami kirim ke mana-mana. Kalau bahan baku kami hampir 100 persen ambil dari Inggris, Eropa, dan China," jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan peningkatan keuntungan pada tahun ini membuat perusahaan berencana membangun satu pabrik lagi pada awal 2021. Saat ini, operasional dilakukan di dua pabrik yang sudah dimiliki.

"Semoga nanti tidak ada kendala seperti kemarin karena teknisi kami dari China dan Taiwan, sempat tertunda karena tidak bisa masuk Indonesia, tapi sekarang sudah bisa, jadi bisa install mesin dan kami berencana bangun pabrik baru," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK