Ekonom: Vaksin Corona Tak Perlu Gratis, Asalkan Terjangkau

CNN Indonesia | Kamis, 19/11/2020 20:50 WIB
Ekonom UI menilai vaksin corona tidak perlu gratis, asalkan pasokannya tersedia dan harganya terjangkau, maka ekonomi bisa ikut pulih. Ekonom UI menilai vaksin corona tidak perlu gratis, asalkan pasokannya tersedia dan harganya terjangkau, maka ekonomi bisa ikut pulih. Ilustrasi. (AP/Ted S. Warren).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom sekaligus Rektor Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro menilai pemerintah tidak perlu memberikan vaksin corona atau covid-19 secara gratis kepada masyarakat. Yang penting, vaksin corona benar-benar ada dan harganya terjangkau.

Pasalnya, vaksin menjadi kunci utama untuk mendongkrak kepercayaan masyarakat agar mau melakukan konsumsi, pelaku usaha agar mau menginjak gas produksi, hingga investor asing agar mau mengalirkan modalnya ke dalam negeri.

Apabila semua ini tergerak karena vaksin, maka pemulihan ekonomi nasional bisa terwujud."Vaksin tidak perlu gratis, yang penting terjangkau, yang gratis ya boleh ada untuk nakes, pegawai di daerah saja," ujar Ari di diskusi virtual yang diadakan oleh IDX Channel, Kamis (19/11) malam.


"Yang penting, ekspektasinya 'Wah sekarang sudah ada', meski jangan lupa virusnya tidak hilang jadi masker dan lainnya masih perlu," lanjutnya.

Menurut Ari, dampak dari ketersediaan vaksin sangat besar bagi pemulihan ekonomi Indonesia karena sudah terbukti ampuh menyehatkan ekonomi negara lain, seperti China. Tercatat, ekonomi Negeri Tirai Bambu sempat menyentuh minus 6,8 persen pada kuartal I, namun kemudian berbalik positif 3,2 persen pada kuartal II 2020.

"Kami cari-cari ini apa, kenapa? Karena dia juga gunakan konsumen sebagai pertumbuhan (seperti Indonesia), ternyata jawabannya satu, vaksin. Dengan vaksin orang kembali belanja, tidak takut, jalan-jalan. Jadi game changernya vaksin," ucapnya.

Maka tak heran, sambungnya, bila Indonesia kemudian bekerja sama dengan perusahaan farmasi China, Sinovac, untuk memproduksi vaksin covid-19.

Lebih lanjut Ari mengatakan bila keyakinan masyarakat, dunia usaha, dan investor meningkat akibat ketersediaan vaksin, maka dampaknya ekonomi Indonesia bisa positif lebih cepat. Bahkan, mulai kuartal IV 2020 bila vaksin benar-benar bisa muncul sebelum tutup tahun.

Proyeksinya, ekonomi Indonesia bisa mencapai level terendah nol persen pada kuartal IV 2020. Namun bila ada vaksin, bukan tidak mungkin bisa menyentuh 0,5 persen sampai 1 persen pada kuartal terakhir.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan pemerintah sangat bersungguh-sungguh dalam rencana pengadaan vaksin corona. Pemerintah, katanya, mondar-mandir ke berbagai negara untuk mendapatkan vaksin.

"Saat ini vaksin jadi multisources, mulai dari Sinovac, Sinopharm, AstraZeneca, dan macam-macam, saya tidak sebut semua. Tapi pada intinya kita 'harus berebut' dengan negara-negara lain, sehingga kita harus punya strategi, dengan posisi seperti ini, pemerintah yang penting siapkan," kata Susi, sapaan akrabnya.

Lebih lanjut, pemerintah pun sudah memetakan program distribusi vaksin, mulai dari yang gratis untuk tenaga kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan dan vaksin mandiri di bawah Kementerian BUMN.

"Masalah harga akan kami tetapkan bersama. Untuk vaksin mandiri ini, kami hati-hati tangani. Yang penting kami yakin dalam bulan-bulan ini sudah ada vaksin yang datang sehingga kita berharap di akhir Desember atau awal Januari mestinya sudah ada vaksinasi," tandasnya.

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK