Ekonom Ingatkan soal Potensi Tumpang Tindih Patimban-Priok

CNN Indonesia | Sabtu, 21/11/2020 08:12 WIB
Ekonom INDEF Aviliani memperingatkan pemerintah soal potensi tumpang tindih Pelabuhan Patimban dan Priok. Karena itu ia minta tugas dibagi. Ekonom ingatkan pemerintah soal potensi tumpang tindih antara Pelabuhan Patimban dengan Priok. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ekonom Senior INDEF Aviliani mengingatkan pemerintah untuk melakukan pembagian tugas yang jelas antara Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat dan Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.

Peringatan diberikan karena ia khawatir akan terjadi tumpang tindih kewenangan yang berujung pada persaingan tidak sehat dalam pengelolaan dua pelabuhan itu nantinya.

Supaya tumpang tindih tak terjadi, ia mengatakan perlu ada kolaborasi dalam mengelola lalu lintas transportasi laut. Apalagi, pemerintah terutama Kementerian BUMN terus menggaungkan holding dan pembagian tugas yang jelas antar lembaga pemerintahan.


"Menurut saya perlu dipikirkan di era sekarang tidak ada kompetisi tapi era berkolaborasi. Nanti bisa ada pembagian tugas antara Patimban dan Tanjung Priok dalam mengelola pelabuhan," kata dia pada Dialog Publik: Pelabuhan Patimban dan Geliat Ekonomi Nasional secara daring pada Jumat (20/11).

Selain bagi tugas, dia juga mengingatkan pengelola untuk memastikan pelabuhan memiliki standar internasional, minimal setara dengan Hong Kong atau Singapura yang kualitas pelabuhannya telah diakui dunia.

Jika tidak punya pelayanan yang memadai secara berkelanjutan, Aviliani khawatir nantinya fasilitas tak diikuti dengan aktivitas yang diharapkan.

Lalu, dia juga berpesan kepada pemerintah untuk memperbaiki komunikasi internasional atau diplomasi dalam memasarkan Patimban sebagai hub atau tol laut yang terkemuka di dunia.

Pasalnya, ia menilai kerap kali pemerintah payah dalam urusan diplomasi dengan negara lain.

[Gambas:Video CNN]

"Jadi menurut saya standar internasional harus berkesinambungan dan harus pintar diplomasi juga. Kadang kita kalah di diplomasi," kata dia.

Namun, Aviliani mengaku mengapresiasi usaha pemerintah dalam membangun infrastruktur laut yang dapat meningkatkan daya saing dalam hal logistik karena selama ini biaya kirim selalu menjadi kontributor akan mahalnya barang pokok.

Menurutnya, dengan mengurangi pemakaian jalur transportasi laut negara jiran, nantinya margin keuntungan perusahaan bisa semakin besar.

"Kita mengalami neraca pembayaran paling besar, salah satunya adalah pembayaran kapal-kapal asing yang membawa barang. Dengan pelabuhan ini kapal-kapal kita yang bisa didorong dan akan berdampak pada capital outflow khususnya pada logistik," pungkasnya.

(wel/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK