Para Disabilitas yang Menolak Kalah Lewat Precious One

Kemenparekraf, CNN Indonesia | Sabtu, 21/11/2020 18:03 WIB
Hanya dari satu orang saja, kini Precious One melibatkan puluhan para difabel yang tetap semangat berkarya di tengah keterbatasan. Hanya dari satu orang saja, kini Precious One melibatkan puluhan para difabel yang tetap semangat berkarya di tengah keterbatasan. (Foto: dok. CNN Indonesia TV)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ratnawati Sutedjo masih ingat betul awal mula ia berkenalan dan menjadi dekat dengan para penyandang disabilitas, bahkan bekerja sama di bawah label Precious One. Saat itu, tiba-tiba ia jatuh sakit dan selama dua bulan tak dapat melakukan apapun seperti sebelumnya.

"Dari perasaan itulah yang membuat saya berpikir, bagaimana dengan teman-teman disabilitas yang sesungguhnya? Yang memiliki tangan tapi tidak bisa berfungsi, atau [memiliki] telinga tapi enggak bisa dipakai, sementara saya waktu itu masih bisa," tuturnya.

Hal itu membuat Ratnawati bernazar untuk mengenal langsung para difabel. Hanya dari satu orang saja, kini Precious One melibatkan puluhan para difabel yang tetap semangat di tengah keterbatasan. Ratna mengaku, tidak mudah untuk memulai Precious One.


Selain kendala bahasa, juga banyak perbedaan pola pikir yang kerap jadi penghalang. Namun bahkan Ratnawati sendiri tak menduga bahwa Precious One akan bertahan selama 16 tahun, berupaya menghasilkan karya terbaik.

"Dari dalam, tantangannya adalah bagaimana mengubah mindset teman-teman disabilitas yang berkarya bersama kami. Mungkin buat mereka, apa yang sudah dibuat, itu sudah cukup bagus, tapi buat kami dan konsumen, ini enggak bagus,"

"Untuk mengubah itu, kami butuh sebuah proses, memberitahu, memberikan sebuah pandangan, pemikiran yang berbeda," kata Ratna.

Mengetahui keberadaan program #BeliKreatifLokal, Ratna segera mendaftarkan Precious One sebagai peserta. Lewat program itu, Precious One terus berusaha memperluas pasar dengan menambah promosi dan jenis produk.

Ratna menyebut sangat merasakan dampak positif program #BeliKreatifLokal. Tak hanya soal pemasaran, Precious One juga mendapat banyak bekal dari BKL. Misalnya, ia jadi merasa terpacu untuk memanfaatkan segala peluang yang ada, seperti dengan memaksimalkan penggunaan beragam e-commerce.

"Kemudian mereka juga memberi tips-tips. Kami ada di dalam grup di mana mereka berusaha memonitor kami untuk bisa mencapai apa yang diharapkan, seperti kami harus memberi report. Memberi report itu memacu kami untuk, oke jadi kami harus bikin produk baru, harus bikin promosi-promosi baru," ungkapnya.

Iwan Tirta Private Collection sebagai salah satu mitra Precious One mengaku puas dengan kolaborasi yang disebut masih akan berlanjut. Mereka sepakat untuk menggaungkan kebanggaan menggunakan produk Indonesia, hingga ke manca negara.

"Kami melihat secara kualitas, secara craftmen-nya juga sangat baik. Orang enggak bakal menyangka kalau itu dikerjakan oleh teman-teman difabel. Sangat baik, dan sesuai standar Iwan Tirta Private Collection," kata Senior Marketing Manageri ITPC, Rindu Melati Pradnyasmita.

Heniwati merupakan salah satu penyandang disabilitas yang 16 tahun bekerja di Precious One. Ia ternyata masih menyimpan banyak harapan dan impian untuk dicapai.

"Pertama membuat amplop, jepit rambut, jahit flannel. Sekarang membuat boneka kertas berbagai model. Harapan saya, buat masa depan, bisa makan, bisa jalan-jalan. Precious One semakin maju, semakin banyak teman disabilitas dan khususnya teman tuli," kata Heniwati seraya tersenyum.

Precious One pun tak lupa menerapkan protokol kesehatan sesuai standar di tempat kerja. Dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mereka percaya Precious One sanggup menggaungkan kebanggaan mengenakan produk buatan dalam negeri yang berkualitas.

[Gambas:Youtube]

(rea)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK