Industri Pengolahan Nonmigas 2020 Diramal Minus 2,22 Persen

CNN Indonesia | Kamis, 26/11/2020 20:42 WIB
Kemenperin memperkirakan industri pengolahan nonmigas baru mulai bangkit tahun depan dengan pertumbuhan 3,95 persen. Kemenperin memperkirakan industri pengolahan nonmigas baru mulai bangkit tahun depan dengan pertumbuhan 3,95 persen. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/SYAIFUL ARIF).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memprediksi industri pengolahan nonmigas minus 2,22 persen sepanjang 2020. Angka ini berbanding terbalik dengan realisasi 2019 yang tumbuh positif sebesar 4,34 persen.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Eko Cahyanto mengatakan pandemi covid-19 memberikan dampak negatif untuk industri pengolahan nonmigas. Utilitas pabrik turun dari sebelum pandemi yang sebesar 76 persen menjadi 56,5 persen pada Oktober 2020.

Kendati diperkirakan minus, Eko menyebut kondisi industri pengolahannon migas sebenarnya sudah membaik. Ia menyebut industri pengolahan nonmigas minus 0,2 persen pada kuartal III 2020, angkanya tak sedalam kontraksi pada kuartal II 2020.


"Industri pengolahan alami perbaikan. Pertumbuhan terjadi di sub sektor kimia, farmasi, obat tradisional, pengolahan logam, serta makan dan minum (mamin)," ucap Eko dalam Webinar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021, Kamis (26/11).

Ia berharap tren perbaikan terus berlanjut hingga kuartal IV 2020. Namun, hal itu tak cukup membuat industri pengolahan non migas mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang 2020.

Ia juga memproyeksi industri pengolahan nonmigas mulai bangkit tahun depan. Menurutnya, industri tersebut berpotensi meningkat 3,95 persen.

"Ini skema yang optimistis seiring dengan program pemulihan ekonomi," imbuh Eko.

[Gambas:Video CNN]

Eko menambahkan industri pengolahan non migas berpeluang tumbuh positif dengan asumsi vaksin virus corona telah ditemukan. Pasalnya, penemuan vaksin memberikan harapan permintaan dunia mulai pulih.

"Konsumsi global meningkat dan dapat menggerakkan ekspor non migas Indonesia untuk naik menjadi US$131 miliar," kata Eko.

(aud/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK