Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan pekan lalu menguat 2,2 persen, bertengger di level 5.938. Tercatat, investor asing melakukan jual bersih sebesar Rp1,77 triliun.
Untuk pertama kalinya sejak pandemi virus corona menggerus pasar modal, indeks berhasil menembus level 6.000 pada Kamis (10/12) lalu.
Meskipun level 6.000 tak bertahan lama, namun Pengamat Pasar Modal sekaligus Analis Riska Afriani menilai hal tersebut menandakan bahwa pelaku pasar memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap IHSG.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab, kebanyakan analis termasuk Riska memprediksi indeks baru akan mampu menembus posisi itu pada pertengahan atau akhir Desember. "Artinya, kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal cukup tinggi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/12).
Oleh karena itu, Riska melihat peluang indeks pada pekan ini untuk menguji level 6.000 masih terbuka lebar. Ia pun optimistis investor belum akan melakukan aksi ambil untung (profit taking).
Selain ditopang oleh kepercayaan investor, menurut dia, IHSG juga akan bergerak positif berkat aksi poles portofolio pialang (window dressing) di akhir tahun.
Termasuk, kedatangan vaksin covid-19 ke Tanah Air masih ampuh dalam mendorong optimisme pasar modal.
Diketahui, pada Minggu (6/12), sebanyak 1,2 juta dosis vaksin jadi covid-19 yang didatangkan dari Sinovac, China, tiba di Indonesia. Masih dalam bulan ini, dijadwalkan akan menyusul 1,8 juta dosis lainnya. Sehingga, sepanjang tahun ini total vaksin jadi yang dibeli pemerintah sebanyak 3 juta dosis.
Namun, vaksin dari perusahaan bioteknologi China ini masih harus melewati uji klinis dari Bio Farma untuk diajukan kepada BPOM sebelum dapat disuntikkan. Jika sesuai rencana, hasil uji laboratorium akan diserahkan pada Januari 2021. Diikuti, vaksinasi sebulan setelahnya.
"Jadi, optimisme pelaku pasar bahwa perlahan ekonomi akan segera pulih dengan adanya distribusi vaksin corona," imbuhnya.
Sejak pandemi corona menyerang, terjadi perpindahan aktivitas ekonomi dari fisik menuju digital. Terjadi secara real time dan efisien, digitalisasi disebut membuat perputaran ekonomi jauh lebih cepat.
[Gambas:Video CNN]
Sehingga, pemulihan akan cenderung lebih gesit dari resesi ekonomi tahun-tahun sebelumnya. Hal ini juga yang membuat investor yakin bahwa pemulihan ekonomi sektor riil tak akan memakan waktu yang terlalu panjang.
Berkaca pada optimisme tersebut, Riska merekomendasikan saham-saham sektor pertambangan, khususnya untuk komoditas batu bara.
Permintaan batu bara dari China dan India diperkirakan masih tinggi. Hal ini juga tercermin dari harga batu bara acuan Newcastle yang menembus US$82,5 per ton pada Minggu (12/11) dari posisi sebelumnya di kisaran US$70-an per ton.
Selain itu, Indonesia juga diuntungkan dengan renggangnya hubungan China dan Australia yang sebelumnya bermitra di komoditas batu bara. Ke depannya, diperkirakan pembelian batu bara dari China akan kian menjulang.
Riska memilih saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) untuk pekan ini karena keduanya dilihat memiliki fundamental dan teknikal yang mendukung.
Ia bilang PTBA potensi naik ke level 3.100 sampai akhir tahun, sedangkan ADRO dibanderol di harga target 1.950.
Ia juga menyarankan investor untuk mengakumulasi saham-saham ritel yang telah merambah ke penjualan daring seperti PT Matahari Department Store Tbk (LPPF).
Untuk diversifikasi portofolio, ia menyarankan investor untuk memantau saham non tambang, seperti PT BCA Tbk (BBCA), PT Adhi Karya (Persero) Tbk atau ADHI, dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT).
Emiten Rokok ‘Tak Ada Matinya’
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Syifa Yulinas).
Baik Riska maupun Analis Saham Ellen May sepaham kalau emiten rokok tidak akan mengalami koreksi berlarut akibat kenaikan cukai harga tembakau (CHT) pada 2021 mendatang.
Diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengumumkan kenaikan cukai rokok sebesar 12,5 persen yang akan efektif per 1 Februari tahun depan.
Tidak dapat dipungkiri, berbagai emiten rokok sempat 'terbakar' akibat keputusan Sri Mulyani. Selama dua hari berturut-turut setelah pengumuman, yaitu pada Kamis dan Jumat atau 10-11 Desember lalu, saham perusahaan rokok terjun bebas.
Tengok saja PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT H M Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) yang kompak terjun bebas hingga belasan persen pada dua hari tersebut.
Pun demikian, Ellen percaya emiten rokok masih akan dapat bertahan meski cukai rokok naik. Kesimpulan dibuat melihat resistensi konsumsi rokok di Indonesia yang tinggi.
"Konsumen rokok saat pandemi corona hanya bergeser ke rokok dengan harga jual yang lebih murah," katanya seperti dikutip dari risetnya.
Lagipula rokok masih bebas diperdagangkan, tak seperti minuman alkohol misalnya yang sudah sangat terbatas penjualannya, karena masuk dalam kategori konsumsi non-halal di Indonesia.
 Infografis Daftar Kenaikan Harga Rokok 2021. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi) |
Karenanya, Ellen merekomendasikan koleksi GGRM dan HMSP mumpung pasar mengalami shock dan terjadi panik jual. Secara valuasi, keduanya dinilai masih murah dengan fundamental yang kuat.
Sedangkan untuk WIIM, pendiri Ellen May Institute ini merekomendasikan jual pada penutupan perdagangan pekan lalu. Namun, karena pangsa WIIM pada segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT) lebih besar dari HMSP dan GGRM, ia menilai WIIM akan diuntungkan ke depannya.
SKT diberi pengecualian dan tidak mengalami kenaikan cukai rokok. Jika masyarakat akan beralih mengkonsumsi rokok murah, bisa jadi WIIM mampu menarik pendapatan lebih besar mengingat sebanyak 24 persen dari pendapatan perusahaan berasal dari produk SKT.
"Pada kuartal III, pendapatan WIIM naik 38,1 persen dibandingkan periode sama tahun lalu dan laba naik hingga 626,7 persen (yoy) didorong oleh penjualan rokok dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan dengan HMSP dan GGRM," jelasnya.
Sepaham, Riska juga merekomendasikan beli emiten sigaret. Soalnya, ini bukan kali pertama pemerintah menaikkan cukai rokok, seperti tidak ada matinya, setiap tahun mereka selalu berhasil bertumbuh.
Ia menyarankan akumulasi GGRM, HMSP, dan WIIM, dengan harga target berturut-turut di level 49.750, 1.950, dan 650.