Ekonom Sebut Reshuffle Kabinet Demi Obati Ekonomi RI
Wella Andany | CNN Indonesia
Rabu, 23 Des 2020 06:28 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ekonom menilai reshuffle kabinet Pemerintah Jokowi demi pemulihan ekonomi nasional, meskipun sarat nuansa politis di pos Menteri Sosial yang dijabat Risma. (ANTARAFOTO/Yudhi Mahatma).
Penunjukan Budi Gunadi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan, misalnya, ia menilai untuk memuluskan kolaborasi antara Kementerian BUMN dengan Kementerian Kesehatan dalam distribusi vaksin corona. Diketahui, Budi sebelumnya duduk sebagai Wakil Menteri BUMN alias pendamping Menteri BUMN Erick Thohir.
"Sudah terbaca dari pengangkatan Menkes, Mensos, Menparekraf. Itu strategi 2021, bagaimana vaksin (corona) dikembangkan. Itu pakem utamanya," ungkapnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/12).
Kemudian, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dipilih karena bukan cuma yang bersangkutan pernah menjabat di kursi yang sama, tetapi juga lantaran ia sempat menjadi Duta Besar RI untuk Amerika Serikat dan Jepang.
Menurut Ari, terjadi perubahan rantai pasokan dunia karena dua faktor, yaitu corona dan perang dagang antara AS-China. Ia melihat keinginan Jokowi agar Mendag bisa menarik minat perusahaan AS merelokasi pabriknya dari China ke dalam negeri.
Tak hanya paham soal perdagangan, Lutfi juga dinilai piawai dalam soal bilateral. "Ini meningkatkan visi ekspor Indonesia yang memang karena covid-19, dunia mati suri. Tapi begitu ada pemulihan di 2021, kemungkinan besar pasokan akan berubah karena ada eskalasi konflik AS-China dan dia pengalaman jadi dubes," terang Ari.
Terkait penunjukan Tri Rismaharini sebagai Menteri Sosial, Ari berpandangan karena rekam jejak Risma sebagai Wali Kota Surabaya yang dikenal transparan, bersih, dan cekatan.
Menggantikan Juliari Batubara yang tersandung kasus korupsi bansos corona, sosok seperti Risma dibutuhkan untuk memperbaiki citra Kemensos yang sudah kepalang 'dicap' korup oleh masyarakat.
Selain itu, Risma yang dikenal dengan kinerjanya yang action oriented atau berorientasi aksi cocok untuk menempati pos terkait.
"(Tugas) Mensos itu saya kira menjaga daya beli di 2021, terutama kelas menengah ke bawah, harus ada stimulus produktif untuk UMKM, sangat penting karena menjaga sisi pasokan," jelasnya.
Sedangkan, tugas besar Sandiaga Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Eonomi Kreatif (Menparekraf) demi meyakinkan masyarakat menengah ke atas untuk melakukan pariwisata dalam negeri untuk mengangkat ekonomi UMKM di sektor pariwisata dan turunannya, seperti hotel, restoran, dan lainnya.
Ari menyatakan Sandiaga harus betul-betul kreatif dalam mengeluarkan kebijakan. Pasalnya, alasan Wishnutama Kusubandio digeser dari posisinya karena kurangnya kebijakan kreatif dari pemerintah pusat dalam menggairahkan sektor pariwisata.
Menerima hantaman berat dari pandemi, Sandiaga harus mampu meyakinkan kelas menengah atas bahwa melancong di dalam negeri merupakan aktivitas yang aman.
Tidak hanya punya latar belakang bisnis, keluarga Sandiaga juga memiliki hotel di Magelang, sehingga Ari melihat ia akan luwes dalam posisi tersebut.
Lalu, untuk Menteri KKP Sakti Wahyu Tenggono, Ari melihattugas terberat yang dipikuladalah menggeliatkan kembali perekonomian nelayan. Ia dituntut untuk memberdayakan nelayan yang juga masuk dalam masyarakat golongan miskin.
"KKP itu saya lihat karena ada kasus korupsi, saya rasa tugasnya menghidupkan perekonomian di sektor laut yang berguna untuk masyarakat menengah bawah di pesisir," katanya.
Ari tak menampik ada kepentingan politik dalam perombakan kali ini, namun ia melihat ada pola strategis yang diambil Jokowi, yaitu pemulihan ekonomi 2021.
"Di mana-mana (kepentingan politik) pasti ada, negara tidak bisa terlepas dari partai politik, tapi yang lebih penting polanya," ujarnya.
Sementara itu, Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menilai susunan kabinet teranyar ini cukup unik, karena professional di bidang ekonomi malah dipercayakan di pos kesehatan.
Ada dua kemungkinan dari keputusan tersebut. Pertama, urusan kesehatan ingin diselesaikan dari kacamata ekonomi. Kedua, Jokowi tak mempercayai jajaran Kemenkes, dari pejabat eselon satu, staf, hingga Gugus Tugas.
Bhima berharap terpilihnya Budi tak lantas membuat kebijakan kesehatan kental dengan kepentingan ekonomi, seperti perhitungan untung dan rugi bisnis.
"(Mungkin) ada ketidakpercayaan terhadap semua jajaran Kemenkes termasuk dirjennya, staf, dan gugus tugas terkait penanganan covid-19 yang lambat. Sehingga, dibutuhkan eksekutor yang memahami bisnis, yaitu Pak Budi," ungkap Bhima.
Adapun di pos Mendag, ia menilai Lutfi merupakan kandidat yang pas. Tidak perlu lagi proses penyesuaian karena ia memang sudah familiar dengan Kementerian tersebut.
Namun, untuk Kementerian Sosial dan Kemenparekraf, Bhima menyoroti kentalnya nuansa politis yang ditonjolkan.
Risma dinilai dipilih untuk mengamankan kursi PDIP yang sebelumnya diduduki oleh Juliari. Serupa, ia juga menilai Sandiaga dipilih karena alasan politik Jokowi.
"Tidak menutup kemungkinan Pak Jokowi memberikan target, kemungkinan 2021 ada reshuffle kabinet lagi," tutupnya.
Penunjukan Budi Gunadi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan, misalnya, ia menilai untuk memuluskan kolaborasi antara Kementerian BUMN dengan Kementerian Kesehatan dalam distribusi vaksin corona. Diketahui, Budi sebelumnya duduk sebagai Wakil Menteri BUMN alias pendamping Menteri BUMN Erick Thohir.
"Sudah terbaca dari pengangkatan Menkes, Mensos, Menparekraf. Itu strategi 2021, bagaimana vaksin (corona) dikembangkan. Itu pakem utamanya," ungkapnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/12).
Kemudian, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dipilih karena bukan cuma yang bersangkutan pernah menjabat di kursi yang sama, tetapi juga lantaran ia sempat menjadi Duta Besar RI untuk Amerika Serikat dan Jepang.
Menurut Ari, terjadi perubahan rantai pasokan dunia karena dua faktor, yaitu corona dan perang dagang antara AS-China. Ia melihat keinginan Jokowi agar Mendag bisa menarik minat perusahaan AS merelokasi pabriknya dari China ke dalam negeri.
Tak hanya paham soal perdagangan, Lutfi juga dinilai piawai dalam soal bilateral. "Ini meningkatkan visi ekspor Indonesia yang memang karena covid-19, dunia mati suri. Tapi begitu ada pemulihan di 2021, kemungkinan besar pasokan akan berubah karena ada eskalasi konflik AS-China dan dia pengalaman jadi dubes," terang Ari.
Terkait penunjukan Tri Rismaharini sebagai Menteri Sosial, Ari berpandangan karena rekam jejak Risma sebagai Wali Kota Surabaya yang dikenal transparan, bersih, dan cekatan.
Menggantikan Juliari Batubara yang tersandung kasus korupsi bansos corona, sosok seperti Risma dibutuhkan untuk memperbaiki citra Kemensos yang sudah kepalang 'dicap' korup oleh masyarakat.
Selain itu, Risma yang dikenal dengan kinerjanya yang action oriented atau berorientasi aksi cocok untuk menempati pos terkait.
"(Tugas) Mensos itu saya kira menjaga daya beli di 2021, terutama kelas menengah ke bawah, harus ada stimulus produktif untuk UMKM, sangat penting karena menjaga sisi pasokan," jelasnya.
Sedangkan, tugas besar Sandiaga Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Eonomi Kreatif (Menparekraf) demi meyakinkan masyarakat menengah ke atas untuk melakukan pariwisata dalam negeri untuk mengangkat ekonomi UMKM di sektor pariwisata dan turunannya, seperti hotel, restoran, dan lainnya.
Ari menyatakan Sandiaga harus betul-betul kreatif dalam mengeluarkan kebijakan. Pasalnya, alasan Wishnutama Kusubandio digeser dari posisinya karena kurangnya kebijakan kreatif dari pemerintah pusat dalam menggairahkan sektor pariwisata.
Menerima hantaman berat dari pandemi, Sandiaga harus mampu meyakinkan kelas menengah atas bahwa melancong di dalam negeri merupakan aktivitas yang aman.
Tidak hanya punya latar belakang bisnis, keluarga Sandiaga juga memiliki hotel di Magelang, sehingga Ari melihat ia akan luwes dalam posisi tersebut.
Lalu, untuk Menteri KKP Sakti Wahyu Tenggono, Ari melihattugas terberat yang dipikuladalah menggeliatkan kembali perekonomian nelayan. Ia dituntut untuk memberdayakan nelayan yang juga masuk dalam masyarakat golongan miskin.
"KKP itu saya lihat karena ada kasus korupsi, saya rasa tugasnya menghidupkan perekonomian di sektor laut yang berguna untuk masyarakat menengah bawah di pesisir," katanya.
Ari tak menampik ada kepentingan politik dalam perombakan kali ini, namun ia melihat ada pola strategis yang diambil Jokowi, yaitu pemulihan ekonomi 2021.
"Di mana-mana (kepentingan politik) pasti ada, negara tidak bisa terlepas dari partai politik, tapi yang lebih penting polanya," ujarnya.
Ekonom menilai reshuffle kabinet Pemerintah Jokowi demi pemulihan ekonomi nasional, meskipun sarat nuansa politis di pos Menteri Sosial yang dijabat Risma. (Muchlis - Biro Setpres).
Sementara itu, Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menilai susunan kabinet teranyar ini cukup unik, karena professional di bidang ekonomi malah dipercayakan di pos kesehatan.
Ada dua kemungkinan dari keputusan tersebut. Pertama, urusan kesehatan ingin diselesaikan dari kacamata ekonomi. Kedua, Jokowi tak mempercayai jajaran Kemenkes, dari pejabat eselon satu, staf, hingga Gugus Tugas.
Bhima berharap terpilihnya Budi tak lantas membuat kebijakan kesehatan kental dengan kepentingan ekonomi, seperti perhitungan untung dan rugi bisnis.
"(Mungkin) ada ketidakpercayaan terhadap semua jajaran Kemenkes termasuk dirjennya, staf, dan gugus tugas terkait penanganan covid-19 yang lambat. Sehingga, dibutuhkan eksekutor yang memahami bisnis, yaitu Pak Budi," ungkap Bhima.
Adapun di pos Mendag, ia menilai Lutfi merupakan kandidat yang pas. Tidak perlu lagi proses penyesuaian karena ia memang sudah familiar dengan Kementerian tersebut.
Namun, untuk Kementerian Sosial dan Kemenparekraf, Bhima menyoroti kentalnya nuansa politis yang ditonjolkan.
Risma dinilai dipilih untuk mengamankan kursi PDIP yang sebelumnya diduduki oleh Juliari. Serupa, ia juga menilai Sandiaga dipilih karena alasan politik Jokowi.
"Tidak menutup kemungkinan Pak Jokowi memberikan target, kemungkinan 2021 ada reshuffle kabinet lagi," tutupnya.