Rayuan Sayur Cahaya Alam di Tanah Surga Kopi

Hafidz Trijatnika, CNN Indonesia | Senin, 04/01/2021 08:50 WIB
Petani kopi mulai membudidayakan sayur-mayur untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pendampingan warga lokal diperlukan guna meningkatkan kesejahteraan. Petani kopi mulai membudidayakan sayur-mayur untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pendampingan warga lokal diperlukan guna meningkatkan kesejahteraan. (CNN Indonesia/Hafidz Trijatnika).
Jakarta, CNN Indonesia --

Akses jalan menuju Desa Cahaya Alam, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim hanya bisa dilalui oleh satu kendaraan. Bila ada kendaraan roda empat dari arah berlawanan datang, salah satunya harus menepi.

Namun di kedua sisi jalan, membentang perkebunan kopi seluas mata memandang. Pegunungan Bukit Barisan di batas cakrawala menjadi akhir dari kebun kopi yang dikelola masyarakat sejak 70 tahun lalu.

Batas terendah Desa Cahaya Alam berada di ketinggian 900 mdpl. Batas tertinggi kebun kopi yang sudah masuk ke dalam skema hutan desa perhutanan sosial berada di ketinggian 1.600 mdpl. Ketinggian yang sangat ideal untuk membudidayakan kopi berkualitas.


Namun saat ini, tanaman kopi sudah diselang oleh hortikultura sebagai palawija. Mulai dari kentang, kol, brokoli, tomat, dan cabai.

Masyarakat Cahaya Alam yang mayoritas merupakan petani kopi mulai kesulitan secara finansial hanya mengandalkan biji yang bisa dipanen setahun sekali tersebut. Dengan menanam sayuran, petani masih punya napas lebih panjang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Cahaya Alam, Monika mengatakan, kebiasaan budidaya hortikultura sudah mulai masuk sejak 15 tahun lalu. Saat itu, ada pendatang dari Jawa Barat yang berhasil membujuk para petani kopi untuk menanam selang sayuran.

Skema bagi hasil menjadi kesepakatan. Hasil menanam jenis-jenis sayuran tersebut sudah bisa dipanen selama tiga bulan.

Sejak saat itu, banyak pendatang dari daerah Jawa Barat yang mencari peruntungan di Cahaya Alam. Bahkan sebagian diantaranya menetap dan menikahi pribumi.

Budaya tunggu tubang yang secara matrilineal menurunkan harta warisan berupa rumah dan lahan pertanian kepada anak perempuan pertama Suku Semende, membuat para pendatang yang mayoritas merupakan laki-laki tersebut bisa menggarap lahan pertanian di sana.

Secara kasat mata, para petani yang membudidayakan sayur lebih sukses ketimbang yang hanya menggarap kopi saja.

"Ada yang sudah bisa beli mobil, dua mobilnya, dan bisa bangun rumah jadi bagus. Kelihatannya memang lebih sukses daripada yang hanya menanam kopi," ujar Monika.

Petani merawat buah kopi jelang masa panen di perkebunan kopi Desa Jabal Antara, Aceh Utara, Aceh, Minggu (20/9/2020). Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total nilai ekspor biji kopi dan kopi olahan Indonesia sepanjang Januari-Mei 2020 turun 12,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu terdampak pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Rahmad.Ilustrasi. (Foto: ANTARA FOTO/RAHMAD)

Hutan Desa Cahaya Alam yang masuk ke dalam skema perhutanan sosial mendapatkan legalitas dari pemerintah berupa SK nomor 326/Menhut-II/2014 pada 27 Maret 2014 lalu. Kurang lebih 900 hektare lahan yang saat ini sudah masuk ke dalam skema perhutanan sosial di Cahaya Alam.

Dari jumlah tersebut, 75 persennya atau 675 hektare sudah digarap sementara 225 hektare sisanya masih berupa hutan, semak belukar, dan lahan tidur.

Sebanyak 400 kepala keluarga (KK) yang menggarap 675 hektare lahan tersebut. Dari lebih kurang 675 hektare hutan desa yang saat ini sudah digarap, 20 persennya atau sekitar 135 hektare ditanami sayur.

Monika mengakui memang petani yang mulai menanam sayur saat ini semakin banyak. Namun saat ini tidak ada kekhawatiran jumlah luasan perkebunan kopi bakal berkurang.

Pasalnya, masyarakat masih bisa memanfaatkan lahan tidur yang belum digarap. Setiap tahunnya Cahaya Alam konsisten memproduksi kopi tidak kurang dari 1.000 ton per tahun. Jumlah pasti produksi di desa yang baru berdiri sejak 70 tahun lalu ini belum bisa dihitung secara pasti karena petani tidak tergabung dalam koperasi dan menjual kopinya masing-masing ke penampung yang berbeda-beda.

"Untuk sekarang sudah ada program menanam bibit kopi Arabika. Jadi untuk warga yang mau tanam sayur, harus tanam arabika juga. Sama pohon-pohon buah lain kalau ada program dari pemerintah," ungkap dia.

Meski begitu, setiap tahunnya petani yang mulai menanam sayuran semakin banyak. Secara kuantitas, pihaknya tidak bisa menghitung total produksi sayur petani per tahun karena tidak ada koperasi yang menaungi mereka. Namun rata-rata, setiap petani bisa memanen 500-1.000 kilogram sayuran per hektar dengan masa panen empat kali dalam satu tahun.

Keresahan dalam menyejahterakan keluarga petani kopi pun dirasakan oleh Alidi, salah satu petani masyarakat Desa Cahaya Alam.

Ketua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Luang Gado Agroforestry Desa Cahaya Alam ini berujar, pihaknya sejak lima tahun lalu sudah menanam palawija hortikultura di lahan yang digarapnya. Harga kopi yang fluktuatif dan masa panen yang setahun sekali membuat dirinya kesulitan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak.

Namun sejak menanam sayur, Alidi mengaku lebih terbantu dan bisa lebih baik dalam merencanakan keuangan keluarga.

"Hasil panen sayur itu bisa untuk kebutuhan sehari-hari. Panen kopi setahun sekali, bisa untuk tabungan anak sekolah dan tabungan lain. Dulu petani sini paling tinggi SLTA, itu pun sedikit. Kebanyakan hanya lulusan SMP," ujar Alidi.

Dengan menanam sayur, dirinya bisa menyekolahkan anak sulungnya hingga ke jenjang strata dua di salah satu kampus di Jawa Timur. Sementara anak bungsunya saat ini masuk di pesantren yang sama-sama di Jawa Timur.

Desa Cahaya Alam, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara EnimAktivitas warga memetik kopi di Cahaya Alam. (Foto: CNN Indonesia/Hafidz)

Namun saat ini Alidi mengaku masih belum mau untuk mengganti kebun kopi miliknya menjadi sayur seluruhnya. Meskipun secara legalitas tidak dilarang, menanam kopi menurutnya, menjadi investasi jangka panjang karena penampung kopi masih lebih banyak dan saingan tidak sebanyak berjualan sayur.

Harga kopi cenderung stabil dari daerah satu yang lainnya. Namun harga sayur bisa berbeda-beda setiap wilayah, tergantung kualitas dan tinggi-rendahnya permintaan.

"Utamanya tetap kopi, sayur hanya sampingan sambil menunggu kopi panen. Kalau dihitung hasil uangnya sama saja, cuma beda di masa panen saja dan lebih cepat dapat uang kalau jual sayur," kata Alidi.

Pengembangan Perhutanan Sosial

Perhutanan sosial dengan skema hutan desa di Cahaya Alam telah berlangsung selama lima tahun. Status tersebut akan berlaku hingga 2050 dengan monitoring evaluasi setiap 10 tahun sekali.

Pada 2025 mendatang, status hutan desa Cahaya Alam akan dievaluasi apakah masyarakat berhasil mengelola dengan baik atau tidak. Pada tahapan kedua setelah monev, LPHD Cahaya Alam berencana untuk mengembangkan kopi arabika dan agroforestry di empat KUPS yang ada sekarang.

Pendamping perhutanan sosial dari LSM Lingkungan Hutan Kita Institute (HaKI), Bejoe Dewangga menuturkan pihaknya telah membangun demonstration plot (demplot) di lahan seluas 6,4 hektare.

Di demplot, HaKI bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk menanam kopi dan sayuran organik. Demplot tersebut pun berfungsi sebagai sekolah lapangan bagi para petani agar bisa mendapatkan pelatihan teknik pertanian modern untuk meningkatkan hasil panen.

"Program penanaman bibit kopi arabika pun kami mulai di demplot, sebagai percontohan. Bila berhasil, petani di Cahaya Alam akan tahu hasilnya. Secara nilai ekonomi, kopi Arabika pun dihargai lebih mahal sehingga petani bisa meningkatkan penghasilannya. Kalau berhasil di demplot, petani sekitar sini pun akan mengikuti cara-cara penanaman yang dilakukan di sini," ujar Bejoe.

Meskipun tanaman sayuran di Desa Cahaya Alam semakin menjamur, pihaknya tidak akan menyarankan petani untuk mengganti kebun kopinya. Kopi masih menjadi komoditas utama masyarakat Semende dan berkontribusi besar untuk pemasok kopi di seluruh Indonesia.

"Sayuran bisa menjadi stimulan petani agar tidak terlalu tergantung dengan harga kopi. Apabila sudah banyak kopi arabika di sini pun dan berhasil dijual, petani pasti akan kembali bersemangat untuk menanam kopi. Sayur untuk sampingan saja karena kopi hanya dipanen setahun sekali," ungkap dia.

[Gambas:Video CNN]



(asa)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK