Daftar Bisnis Untung dan Buntung di AS Sepanjang 2020
CNN Indonesia
Senin, 04 Jan 2021 13:49 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Video gim menjadi salah satu bisnis yang meraup untung sepanjang 2020. (AFP Forum).
Jakarta, CNN Indonesia --
Pandemi virus corona telah memengaruhi perkembangan bisnis di berbagai sektor. Beberapa di antaranya menjadi buntung karena tertekan pandemi, namun sejumlah bisnis justru meraup untung di tengah wabah.
Melansir CNN Business, berikut daftar bisnis yang untung di Amerika Serikat selama 2020 dan prediksi pertumbuhan mereka pada 2021:
1. Perumahan
Bisnis perumahan menjadi salah satu yang 'cuan' di tengah pandemi covid-19. Hal ini diduga karena pandemi membuat masyarakat mau tidak mau harus tinggal dan melakukan berbagai hal di rumah, termasuk bekerja.
Sebagian masyarakat pun memilih untuk tetap membeli rumah di tengah pandemi, khususnya yang ada di pinggir kota. Dampaknya, hal ini mendorong penjualan dan harga perumahan.
Di AS, saham-saham perusahaan di sektor perumahan pun meningkat, seperti Lennar (LEN), D.R. Horton (DHI), hingga Home Depot (HD), Lowe's (LOW), dan Williams-Sonoma (WSM) melonjak sepanjang tahun lalu. Penjualan Home Depot bahkan meningkat 18 persen dan Lowe's 23 persen.
Untuk 2021, bisnis perumahan diramal tetap akan tumbuh kuat. Bahkan, para asosiasi bankir di negeri Paman Sam memperkirakan rekor penjualan rumah akan terjadi pada tahun depan.
Hal ini didukung oleh tingkat suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve yang rendah dan jatuhnya imbal hasil (yield) surat utang alias obligasi dalam jangka panjang. Tak hanya The Fed, kebijakan bunga acuan rendah juga diberikan oleh bank sentral di negara lain, termasuk Bank Indonesia (BI).
AS sejatinya belum mengizinkan peredaran ganja secara menyeluruh, namun empat negara bagian telah melegalkannya. Totalnya, sudah ada 13 negara bagian yang memperjualbelikan ganja.
Hal ini membuat penjualan ganja meningkat sepanjang tahun lalu. Beberapa saham perusahaan perkebunan pun ikut terdongrak, seperti Shares of Canopy Growth (CGC) dan Cronos (CRON). Bahkan, saham Curaleaf (CURLF) meroket hampir dua kali lipat pada 2020.
Untuk 2021, bisnis ganja diperkirakan akan meningkat. Hal ini juga didorong oleh rencana penggabungan usaha antara Tilray dan Aphria untuk menciptakan perusahaan ganja terbesar di dunia.
3. Energi berbasis tenaga surya
Tak seperti sektor minyak yang 'enggap' sepanjang 2020, energi berbasis tenaga surya justru berhasil tumbuh. Hal ini didukung permintaan energi bersih non-fosil dan terbarukan, serta besarnya aliran investasi di sektor industri ini.
Saham-saham seperti The Invesco Solar ETF (TAN) meroket 200 persen pada tahun ini. Begitu juga dengan saham Sunrun (RUN), perusahaan energi surya terbesar di AS, yang naik 300 persen.
Untuk 2021, industri energi berbasis tenaga surya akan menghadapi tantangan karena pangsa pasar masih belum sebesar energi fosil. Namun, ada harapan pengembangan industri dari janji presiden AS terpilih, Joe Biden, untuk mendorong industri ini.
4. Bitcoin
Bitcoin berhasil mencatatkan peningkatan harga hingga mendekati US$30 ribu per koin di tengah pandemi. Harga tercatat naik hingga lebih dari tiga kali lipat pada 2020.
Penguatan nilai bitcoin terjadi karena investor-investor besar melirik instrumen investasi ini di tengah penurunan tingkat suku bunga acuan bank sentral yang selanjutnya turut menurunkan yield surat utang. Sejumlah investor menilai bitcoin bahkan lebih 'cuan' dan aman daripada emas.
Untuk 2021, prospek investasi bitcoin semakin berkilau. Hal ini sejalan dengan rencana izin bitcoin menjadi alat pembayaran digital, setelah Square (SQ) dan PayPal (PYPL) mengizinkan transaksi jual beli bitcoin.
Namun, CEO Skybridge Capital Anthony Scaramucci melihat tetap ada risiko penurunan harga bitcoin sekitar 20 persen sampai 50 persen pada tahun depan.
5. Video game
Bosan di rumah saat pandemi membuat bisnis video game tumbuh positif pada 2020. Tengoklah bisnis Nintendo Switch, Facebook Gaming, Amazon's Twitch, hingga Esports, semuanya 'cuan'.
Bahkan, Nintendo sukses menjual seri game bertajuk animal Crossing: New Horizons hingga 26 juta kopi dengan harga US$60 per game. Platform video game di Google dan Youtube juga mencatatkan kenaikan akses mencapai lebih dari 100 miliar jam tayangan konten game.
Untuk 2021, industri video game diperkirakan akan tetap tumbuh meski resesi, namun para gamer diyakini akan tetap membeli PlayStation 5 dan Xbox Series X yang dibanderol dengan harga US$499 per game.
6. Ritel besar
Bisnis ritel skala besar tetap cuan selama pandemi karena memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat, seperti Walmart (WMT), Target (TGT) dan Costco (COST). Bahkan, penjualan mereka meningkat, Walmart naik 7 persen, Costco 12 persen, dan Target 19 persen hingga kuartal III 2020.
Untuk 2021, pertumbuhan untuk bisnis ini masih menjanjikan, meski perdagangan online juga diperkirakan akan meningkat. Namun, masyarakat tetap membutuhkan kebutuhan harian mereka dari toko-toko ritel besar.
Sektor teknologi ibarat pemenang selama pandemi karena mobilitas yang terbatas membuat masyarakat mengalihkan komunikasi melalui digital dengan bantuan teknologi. Bahkan, pendapatan Netflix, perusahaan penyedia film streaming naik 83 persen pada kuartal III 2020.
Begitu juga dengan Zoom yang meroket 307 persen. Sementara Amazon, penjualannya naik 35 persen menjadi US$67 miliar pada periode yang sama.
Saat ini, perusahaan teknologi menjadi saham-saham paling berharga di bursa, seperti Microsoft (MSFT), Apple (AAPL), Amazon (AMZN), induk Google Alphabet (GOOG), dan Facebook (FB). Gabungan kapitalisasi mereka mencapai lebih dari US$7,5 triliun.
Untuk 2021, ada ancaman kepercayaan dan keamanan akses yang membayangi bisnis ini, namun peluang pertumbuhan masih ada.
Konten digital tumbuh subur pada 2020, misalnya unduhan di aplikasi Twitch naik 61 persen pada Januari-November 2020. Begitu juga dengan aplikasi Patreon naik 43 persen dan Cameo 134 persen.
Untuk 2021, konten digital akan tetap melejit pada tahun ini. Apalagi, Facebook, Snapchat, hingga Tiktok semakin populer di masyarakat.
9. Streaming
Layanan streaming berjaya di 2020, seperti Netflix. Hal ini merupakan berkah dari kondisi pandemi. Untuk 2021, lini bisnis ini akan tetap tumbuh kuat mengingat sejumlah pihak kini mengubah bisnisnya menjadi streaming, seperti Warner Bros. Netflix juga semakin gencar mengeluarkan film dan series terbarunya.
Simak 8 bisnis yang 'buntung' sepanjang 2020 di halaman berikutnya.
Setelah menyimak sembilan bisnis yang meraup untung sepanjang 2020, berikut delapan bisnis yang justru 'buntung' sepanjang 2020 di Amerika Serikat.
1. Hotel dan Wisata Perjalanan
Bisnis ini menjadi yang paling terpukul selama 2020 karena pandemi membuat masyarakat harus tinggal di dalam rumah dan sejumlah daerah mengunci wilayah mereka (lockdown). Saham-saham perusahaan di sektor ini pun berguguran pada tahun lalu, seperti Carnival (CCL), Royal Caribbean (RCL), hingga Norwegia (NCLH), ketiganya merasakan penurunan saham dari kisaran 45 persen hingga 60 persen pada 2020.
Untuk 2021, bisnis hotel dan wisata perjalanan mungkin belum akan tumbuh kuat seperti tahun-tahun sebelum pandemi. Namun, potensi pemulihan ada karena harapan kemunculan vaksin covid-19 yang bisa mendorong masyarakat untuk mulai melancong lagi.
2. Minyak
Tak hanya hotel dan wisata perjalanan, 2020 juga menjadi tahun yang berat untuk industri minyak. Publik mungkin ingat bahwa harga minyak jatuh berulang kali, bahkan pernah negatif pada awal pandemi karena tertekan permintaan dan perang harga antara Arab Saudi dan Rusia.
Saat ini, harga minyak mungkin sudah meningkat, namun harga saham perusahaan-perusahaan di sektor energi sejatinya masih rendah. Secara total, kinerja sektor energi di S&P 500 turun lebih dari 30 persen dan menempatkan sektor ini menjadi yang terburuk sepanjang 2020.
Untuk 2021, peluang industri minyak untuk tumbuh terbuka lebar, bahkan diperkirakan bisa menoreh keuntungan seiring keyakinan pemulihan ekonomi. Hanya saja, bayang-bayang pandemi covid-19 masih mungkin menekan sektor ini. Begitu juga dengan permintaan transformasi ke energi bersih.
3. Bank
Pandemi covid-19 yang memunculkan resesi ekonomi di berbagai negara sontak menekan industri perbankan, termasuk di AS. Bank-bank di negeri Paman Sam dilaporkan menderita kerugian puluhan miliar selama 2020, misalnya Citigroup, Bank of America, hingga Wells Fargo.
Selain itu, mereka juga dihadapkan pada risiko kredit bermasalah dan harga saham yang turun. Begitu juga dengan bunga kredit yang menurun sejalan bunga acuan bank sentral.
Untuk 2021, industri perbankan masih akan membutuhkan waktu untuk pulih. Namun, ada potensi bank pulih dengan cepat bila pasar keuangan pulih lebih cepat dari pandemi, termasuk Wall Street.
4. Maskapai penerbangan
Industri maskapai juga berada di zona merah sepanjang 2020. Bahkan, ketika lockdown dan izin kunjungan turis sudah mulai diberikan oleh berbagai otoritas resmi di sejumlah negara, pergerakan penumpang tetap turun 63 persen dari kondisi normal.
Hal ini membuat pemerintah AS sempat mengucurkan stimulus fiskal senilai US$50 miliar dan tambahan US$15 miliar kepada industri ini. Namun, stimulus ini tetap tidak bisa menutup kerugian yang mereka derita sekitar US$24,2 miliar pada Januari-September 2020.
Untuk 2021, sektor penerbangan ada harapan pemulihan pada tahun ini sejalan dengan izin lalu lintas orang yang sudah diberikan oleh berbagai negara. Namun, pemulihannya tetap membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Usaha mal banyak yang tutup pada 2020, khususnya department store yang berada di jurang kebangkrutan, seperti JCPenney, Neiman Marcus, Lord & Taylor, hingga Tailored Brands, yang mengoperasikan Men's Warehouse dan Jos. A. Bank, serta Ascena, pemilik Ann Taylor dan Lane Bryant.
Kebangkrutan juga memunculkan PHK besar-besaran pada tenaga kerja di bidang ini. Para penyewa bahkan masih mengutang biaya sewa, meski mal tutup selama pandemi.
Untuk 2021, bisnis mal akan bergantung pada kebijakan pemerintah ke depan. Namun, kemungkinan tetap akan berada dalam jurang kesulitan.
6. Otomotif
Industri otomotif mendapat pukulan sepanjang 2020 karena turunnya permintaan dan tutupnya pabrik. Bahkan, industri ini juga menyumbang PHK bagi jutaan pekerja dan perusahaan pailit.
Untuk 2021, permintaan mobil diramal akan lebih baik, meski nilai penjualan mungkin belum akan mencapai kondisi 2019.
Industri manufaktur 'tiarap' pada 2020. Rata-rata sektor industri ini turun 16,5 persen pada Februari-April 2020, bahkan produksi aluminium di AS turun 8,1 persen dan baja turun 18 persen. Salah satu perusahaan manufaktur yang paling menderita adalah Boeing karena pembatalan pesanan dari sejumlah rekanan.
Untuk 2021, industri manufaktur mungkin akan meningkat karena tetap memegang peranan penting bagi ekonomi AS. Namun, akan sulit kembali seperti kondisi 2019 dalam waktu cepat.
8. Film dan bioskop
Penjualan box office AS anjlok hampir 80 persen pada 2020. Semua terjadi karena lockdown menutup seluruh bioskop di dunia. Untuk 2021, belum diketahui seperti apa masa depan industri film. Namun, Disney dan Warner Bros mulai mengalihkan diri ke bisnis streaming untuk film-film mereka.
Pandemi virus corona telah memengaruhi perkembangan bisnis di berbagai sektor. Beberapa di antaranya menjadi buntung karena tertekan pandemi, namun sejumlah bisnis justru meraup untung di tengah wabah.
Melansir CNN Business, berikut daftar bisnis yang untung di Amerika Serikat selama 2020 dan prediksi pertumbuhan mereka pada 2021:
1. Perumahan
Bisnis perumahan menjadi salah satu yang 'cuan' di tengah pandemi covid-19. Hal ini diduga karena pandemi membuat masyarakat mau tidak mau harus tinggal dan melakukan berbagai hal di rumah, termasuk bekerja.
Sebagian masyarakat pun memilih untuk tetap membeli rumah di tengah pandemi, khususnya yang ada di pinggir kota. Dampaknya, hal ini mendorong penjualan dan harga perumahan.
Di AS, saham-saham perusahaan di sektor perumahan pun meningkat, seperti Lennar (LEN), D.R. Horton (DHI), hingga Home Depot (HD), Lowe's (LOW), dan Williams-Sonoma (WSM) melonjak sepanjang tahun lalu. Penjualan Home Depot bahkan meningkat 18 persen dan Lowe's 23 persen.
Untuk 2021, bisnis perumahan diramal tetap akan tumbuh kuat. Bahkan, para asosiasi bankir di negeri Paman Sam memperkirakan rekor penjualan rumah akan terjadi pada tahun depan.
Hal ini didukung oleh tingkat suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve yang rendah dan jatuhnya imbal hasil (yield) surat utang alias obligasi dalam jangka panjang. Tak hanya The Fed, kebijakan bunga acuan rendah juga diberikan oleh bank sentral di negara lain, termasuk Bank Indonesia (BI).
AS sejatinya belum mengizinkan peredaran ganja secara menyeluruh, namun empat negara bagian telah melegalkannya. Totalnya, sudah ada 13 negara bagian yang memperjualbelikan ganja.
Hal ini membuat penjualan ganja meningkat sepanjang tahun lalu. Beberapa saham perusahaan perkebunan pun ikut terdongrak, seperti Shares of Canopy Growth (CGC) dan Cronos (CRON). Bahkan, saham Curaleaf (CURLF) meroket hampir dua kali lipat pada 2020.
Untuk 2021, bisnis ganja diperkirakan akan meningkat. Hal ini juga didorong oleh rencana penggabungan usaha antara Tilray dan Aphria untuk menciptakan perusahaan ganja terbesar di dunia.
3. Energi berbasis tenaga surya
Tak seperti sektor minyak yang 'enggap' sepanjang 2020, energi berbasis tenaga surya justru berhasil tumbuh. Hal ini didukung permintaan energi bersih non-fosil dan terbarukan, serta besarnya aliran investasi di sektor industri ini.
Saham-saham seperti The Invesco Solar ETF (TAN) meroket 200 persen pada tahun ini. Begitu juga dengan saham Sunrun (RUN), perusahaan energi surya terbesar di AS, yang naik 300 persen.
Untuk 2021, industri energi berbasis tenaga surya akan menghadapi tantangan karena pangsa pasar masih belum sebesar energi fosil. Namun, ada harapan pengembangan industri dari janji presiden AS terpilih, Joe Biden, untuk mendorong industri ini.
4. Bitcoin
Bitcoin berhasil mencatatkan peningkatan harga hingga mendekati US$30 ribu per koin di tengah pandemi. Harga tercatat naik hingga lebih dari tiga kali lipat pada 2020.
Penguatan nilai bitcoin terjadi karena investor-investor besar melirik instrumen investasi ini di tengah penurunan tingkat suku bunga acuan bank sentral yang selanjutnya turut menurunkan yield surat utang. Sejumlah investor menilai bitcoin bahkan lebih 'cuan' dan aman daripada emas.
Untuk 2021, prospek investasi bitcoin semakin berkilau. Hal ini sejalan dengan rencana izin bitcoin menjadi alat pembayaran digital, setelah Square (SQ) dan PayPal (PYPL) mengizinkan transaksi jual beli bitcoin.
Namun, CEO Skybridge Capital Anthony Scaramucci melihat tetap ada risiko penurunan harga bitcoin sekitar 20 persen sampai 50 persen pada tahun depan.
5. Video game
Bosan di rumah saat pandemi membuat bisnis video game tumbuh positif pada 2020. Tengoklah bisnis Nintendo Switch, Facebook Gaming, Amazon's Twitch, hingga Esports, semuanya 'cuan'.
Bahkan, Nintendo sukses menjual seri game bertajuk animal Crossing: New Horizons hingga 26 juta kopi dengan harga US$60 per game. Platform video game di Google dan Youtube juga mencatatkan kenaikan akses mencapai lebih dari 100 miliar jam tayangan konten game.
Untuk 2021, industri video game diperkirakan akan tetap tumbuh meski resesi, namun para gamer diyakini akan tetap membeli PlayStation 5 dan Xbox Series X yang dibanderol dengan harga US$499 per game.
6. Ritel besar
Bisnis ritel skala besar tetap cuan selama pandemi karena memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat, seperti Walmart (WMT), Target (TGT) dan Costco (COST). Bahkan, penjualan mereka meningkat, Walmart naik 7 persen, Costco 12 persen, dan Target 19 persen hingga kuartal III 2020.
Untuk 2021, pertumbuhan untuk bisnis ini masih menjanjikan, meski perdagangan online juga diperkirakan akan meningkat. Namun, masyarakat tetap membutuhkan kebutuhan harian mereka dari toko-toko ritel besar.
Sektor teknologi ibarat pemenang selama pandemi karena mobilitas yang terbatas membuat masyarakat mengalihkan komunikasi melalui digital dengan bantuan teknologi. Bahkan, pendapatan Netflix, perusahaan penyedia film streaming naik 83 persen pada kuartal III 2020.
Begitu juga dengan Zoom yang meroket 307 persen. Sementara Amazon, penjualannya naik 35 persen menjadi US$67 miliar pada periode yang sama.
Saat ini, perusahaan teknologi menjadi saham-saham paling berharga di bursa, seperti Microsoft (MSFT), Apple (AAPL), Amazon (AMZN), induk Google Alphabet (GOOG), dan Facebook (FB). Gabungan kapitalisasi mereka mencapai lebih dari US$7,5 triliun.
Untuk 2021, ada ancaman kepercayaan dan keamanan akses yang membayangi bisnis ini, namun peluang pertumbuhan masih ada.
Konten digital tumbuh subur pada 2020, misalnya unduhan di aplikasi Twitch naik 61 persen pada Januari-November 2020. Begitu juga dengan aplikasi Patreon naik 43 persen dan Cameo 134 persen.
Untuk 2021, konten digital akan tetap melejit pada tahun ini. Apalagi, Facebook, Snapchat, hingga Tiktok semakin populer di masyarakat.
9. Streaming
Layanan streaming berjaya di 2020, seperti Netflix. Hal ini merupakan berkah dari kondisi pandemi. Untuk 2021, lini bisnis ini akan tetap tumbuh kuat mengingat sejumlah pihak kini mengubah bisnisnya menjadi streaming, seperti Warner Bros. Netflix juga semakin gencar mengeluarkan film dan series terbarunya.
Simak 8 bisnis yang 'buntung' sepanjang 2020 di halaman berikutnya.
Maskapai menjadi salah satu bisnis yang 'buntung' sepanjang 2020. (AFP/JOE RAEDLE)
Setelah menyimak sembilan bisnis yang meraup untung sepanjang 2020, berikut delapan bisnis yang justru 'buntung' sepanjang 2020 di Amerika Serikat.
1. Hotel dan Wisata Perjalanan
Bisnis ini menjadi yang paling terpukul selama 2020 karena pandemi membuat masyarakat harus tinggal di dalam rumah dan sejumlah daerah mengunci wilayah mereka (lockdown). Saham-saham perusahaan di sektor ini pun berguguran pada tahun lalu, seperti Carnival (CCL), Royal Caribbean (RCL), hingga Norwegia (NCLH), ketiganya merasakan penurunan saham dari kisaran 45 persen hingga 60 persen pada 2020.
Untuk 2021, bisnis hotel dan wisata perjalanan mungkin belum akan tumbuh kuat seperti tahun-tahun sebelum pandemi. Namun, potensi pemulihan ada karena harapan kemunculan vaksin covid-19 yang bisa mendorong masyarakat untuk mulai melancong lagi.
2. Minyak
Tak hanya hotel dan wisata perjalanan, 2020 juga menjadi tahun yang berat untuk industri minyak. Publik mungkin ingat bahwa harga minyak jatuh berulang kali, bahkan pernah negatif pada awal pandemi karena tertekan permintaan dan perang harga antara Arab Saudi dan Rusia.
Saat ini, harga minyak mungkin sudah meningkat, namun harga saham perusahaan-perusahaan di sektor energi sejatinya masih rendah. Secara total, kinerja sektor energi di S&P 500 turun lebih dari 30 persen dan menempatkan sektor ini menjadi yang terburuk sepanjang 2020.
Untuk 2021, peluang industri minyak untuk tumbuh terbuka lebar, bahkan diperkirakan bisa menoreh keuntungan seiring keyakinan pemulihan ekonomi. Hanya saja, bayang-bayang pandemi covid-19 masih mungkin menekan sektor ini. Begitu juga dengan permintaan transformasi ke energi bersih.
3. Bank
Pandemi covid-19 yang memunculkan resesi ekonomi di berbagai negara sontak menekan industri perbankan, termasuk di AS. Bank-bank di negeri Paman Sam dilaporkan menderita kerugian puluhan miliar selama 2020, misalnya Citigroup, Bank of America, hingga Wells Fargo.
Selain itu, mereka juga dihadapkan pada risiko kredit bermasalah dan harga saham yang turun. Begitu juga dengan bunga kredit yang menurun sejalan bunga acuan bank sentral.
Untuk 2021, industri perbankan masih akan membutuhkan waktu untuk pulih. Namun, ada potensi bank pulih dengan cepat bila pasar keuangan pulih lebih cepat dari pandemi, termasuk Wall Street.
4. Maskapai penerbangan
Industri maskapai juga berada di zona merah sepanjang 2020. Bahkan, ketika lockdown dan izin kunjungan turis sudah mulai diberikan oleh berbagai otoritas resmi di sejumlah negara, pergerakan penumpang tetap turun 63 persen dari kondisi normal.
Hal ini membuat pemerintah AS sempat mengucurkan stimulus fiskal senilai US$50 miliar dan tambahan US$15 miliar kepada industri ini. Namun, stimulus ini tetap tidak bisa menutup kerugian yang mereka derita sekitar US$24,2 miliar pada Januari-September 2020.
Untuk 2021, sektor penerbangan ada harapan pemulihan pada tahun ini sejalan dengan izin lalu lintas orang yang sudah diberikan oleh berbagai negara. Namun, pemulihannya tetap membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Usaha mal banyak yang tutup pada 2020, khususnya department store yang berada di jurang kebangkrutan, seperti JCPenney, Neiman Marcus, Lord & Taylor, hingga Tailored Brands, yang mengoperasikan Men's Warehouse dan Jos. A. Bank, serta Ascena, pemilik Ann Taylor dan Lane Bryant.
Kebangkrutan juga memunculkan PHK besar-besaran pada tenaga kerja di bidang ini. Para penyewa bahkan masih mengutang biaya sewa, meski mal tutup selama pandemi.
Untuk 2021, bisnis mal akan bergantung pada kebijakan pemerintah ke depan. Namun, kemungkinan tetap akan berada dalam jurang kesulitan.
6. Otomotif
Industri otomotif mendapat pukulan sepanjang 2020 karena turunnya permintaan dan tutupnya pabrik. Bahkan, industri ini juga menyumbang PHK bagi jutaan pekerja dan perusahaan pailit.
Untuk 2021, permintaan mobil diramal akan lebih baik, meski nilai penjualan mungkin belum akan mencapai kondisi 2019.
Industri manufaktur 'tiarap' pada 2020. Rata-rata sektor industri ini turun 16,5 persen pada Februari-April 2020, bahkan produksi aluminium di AS turun 8,1 persen dan baja turun 18 persen. Salah satu perusahaan manufaktur yang paling menderita adalah Boeing karena pembatalan pesanan dari sejumlah rekanan.
Untuk 2021, industri manufaktur mungkin akan meningkat karena tetap memegang peranan penting bagi ekonomi AS. Namun, akan sulit kembali seperti kondisi 2019 dalam waktu cepat.
8. Film dan bioskop
Penjualan box office AS anjlok hampir 80 persen pada 2020. Semua terjadi karena lockdown menutup seluruh bioskop di dunia. Untuk 2021, belum diketahui seperti apa masa depan industri film. Namun, Disney dan Warner Bros mulai mengalihkan diri ke bisnis streaming untuk film-film mereka.