Imbas Corona, Kredit Bank Turun 2,41 Persen pada 2020

CNN Indonesia | Sabtu, 16/01/2021 07:33 WIB
OJK mencatat laju pertumbuhan kredit minus 2,41 persen secara tahunan pada 2020 karena korporasi belum beroperasi normal di tengah pandemi. OJK mencatat laju pertumbuhan kredit minus 2,41 persen secara tahunan pada 2020 karena korporasi belum beroperasi normal di tengah pandemi. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan pertumbuhan kredit perbankan minus 2,41 persen secara tahunan (year on year/yoy). Kondisi tersebut disebabkan belum beroperasinya korporasi secara normal di tengah pandemi covid-19.

"Sehingga kredit modal kerja yang dipinjam dari bank rata-rata diturunkan. Namun demikian tidak apa-apa kami harapkan ini temporary, sehingga saat perekonomian pulih mereka bisa beroperasi 100 persen," ujarnya dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan Tahun 2021,Jumat (15/1).

Meski demikian, lanjut Wimboh, kredit di bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih mampu tumbuh 0,63 persen, BPD 5,22 persen, dan bank syariah tumbuh 9,5 persen. Pertumbuhan kredit tidak lain didukung oleh penyaluran ke sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).


"Untuk itu kami berterima kasih bahwa stimulus yang dilakukan Menteri Keuangan, penempatan dana pemerintah di bank BUMN ini telah menstimulasi penyaluran kredit ke UMKM jumlahnya Rp323,8 triliun atau leverage-nya 4,8 kali," imbuh Wimboh.

Sementara itu, hingga akhir Desember 2020, tercatat program restrukturisasi kredit perbankan telah mencapai Rp971 triliun. Restrukturisasi diberikan kepada 7,6 juta debitur atau sekitar 18 persen dari total kredit perbankan.

Wimboh merinci, jumlah tersebut berasal dari restrukturisasi kredit untuk sektor UMKM yang mencapai Rp386,6 triliun dengan jumlah 5,8 juta debitur. Sementara untuk non-UMKM, realisasi restrukturisasi kredit mencapai sebesar Rp584,4 triliun dengan 1,8 juta debitur.

Dengan program restrukturisasi tersebut, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross perbankan dapat dijaga pada 3,06 persen, sedikit lebih tinggi dari 2019 yang sebesar 2,53 persen.

Sementara rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan juga terjaga di 23,78 persen, tak berbeda jauh dengan tahun sebelumnya yakni 23,31 persen.

"Kebijakan ini bisa menahan NPL perbankan tidak terlalu tinggi yaitu pada level 3,06 persen di perbankan yang juga didukung permodalan yang cukup kuat yaitu 23,78 persen," imbuhnya.

Dengan banyaknya restrukturisasi serta belum pulihnya pertumbuhan kredit, OJK mencatat rasio kredit terkait pinjaman (LDR) juga menurun dengan tajam menjadi sebesar 82,2 persen, dari tahun 2019 yang sebesar 93,64 persen.

Sejalan dengan itu, likuiditas perbankan masih cukup memadai (ample) ditandai oleh alat likuid perbankan yang terus meningkat mencapai sebesar Rp2.111 triliun, meningkat dibandingkan dengan tahun lalu yang sebesar Rp1.251 triliun.

[Gambas:Video CNN]

Kemudian, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 11,11 persen. "Alat Likuid per non-core deposit 146,72 persen dan liquidity coverage ratio 262,78 persen, lebih tinggi dari threshold-nya," ujarnya.

Tahun ini, dengan sinergi kebijakan antara pemerintah, Bank Indonesia dan pemangku kepentingan lainnya serta mempertimbangkan tantangan dan kondisi perekonomian, OJK memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2021 sebesar 4,5- 5,5 persen.

Sementara itu, kredit perbankan di 2021 diperkirakan meningkat pada kisaran 7,5 persen ±1 persen yoy, seiring dengan kembali meningkatnya aktivitas ekonomi, belanja masyarakat dan investasi.

"Sejalan dengan itu, dana pihak ketiga diperkirakan juga akan tumbuh solid di rentang 11 persen ± 1 persen yoy pada tahun 2021," jelasnya.

(hrf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK