Pedagang 'Tongpes' di Tengah Kenaikan Harga Daging Sapi

CNN Indonesia | Senin, 25/01/2021 15:34 WIB
Pedagang daging sapi mengaku kerap menjual dengan untung tipis atau bahkan tanpa untung di tengah kenaikan harga dan turunnya daya beli masyarakat. Pedagang daging sapi mengaku kerap menjual dengan untung tipis atau bahkan tanpa untung di tengah kenaikan harga dan turunnya daya beli masyarakat. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Riyanto, pedagang daging sapi di Pasar Inpres Ciracas, Jakarta Timur, bersikeras meyakinkan pembeli yang tak percaya seperempat kilogram (kg) harga daging sapi mencapai Rp35 ribu.

Di seberangnya, si pembeli tampak tak mau rugi terus menawar. Kali ini, ia menawar untuk setengah kg daging sapi seharga Rp55 ribu.

Mulut Riyanto komat-kamit. Ia terlihat menjaga kekesalannya. Tapi, pertahanannya runtuh. Ia menyerah, melepas setengah kg daging sapi di harga Rp60 ribu.


Menurut Riyanto, dari penjualan tersebut, ia hanya mengantongi untung Rp5.000. "Sekarang, satu kg (daging sapi) Rp110 ribu. Kalau jual seperempat kg Rp27.500, untungnya dimana?," ujarnya mengeluh, ditemui CNNIndonesia.com, Senin (25/1).

Ia bukan satu-satunya pedagang yang 'diteriakkan' mahal oleh pembeli. Semua pedagang pun mengalami hal serupa.

Ia menilai kenaikan harga daging sapi berasal dari rumah pemotongan hewan (RPH) yang memasok kepada pedagang. Harga dari RPH bahkan disebut sempat Rp125 ribu per kg.

Tak kuat dengan harga tinggi, pedagang sempat menggelar aksi mogok. Di Pasar Ciracas, mogok berlangsung selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu, 23-24 Januari. "Baru buka lagi hari ini karena harga sudah turun jadi Rp110 ribu," imbuh Riyanto.

Fandi, pedagang lainnya, mengatakan hampir seluruh pedagang di pasar tradisional Jakarta Timur mengambil dagangan dari RPH di wilayah Pondok Gede, Bekasi. Namun, beberapa juga mengambil dari wilayah lain, seperti Cakung.

Ketika harga per kg daging di RPH dihargai Rp120 ribu, banyak pedagang yang memutuskan untuk berhenti berjualan sebelum menjalankan aksi mogok.

Pasalnya, tidak ada lagi pembeli yang memborong dagangan mereka jika harga naik. Imbasnya, mereka terpaksa jual rugi setiap hari.

"Sekarang kalau kita jual Rp120 ribu per kg, orang bisa beli setengah kg Rp50 ribu jadi Rp60 ribu. Kita enggak ambil untung itu, mas ada yang enggak mau," jelasnya.

[Gambas:Video CNN]

Beruntung pemerintah lewat Kementerian Perdagangan sudah turun tangan. RPH pun kembali menurunkan harga ke kisaran Rp110 ribu per kg. Ia berharap pemerintah terus mengawasi agar harga bisa stabil, termasuk melindungi para pedagang yang bergantung dari pemasukan harian.

"Kondisi lagi susah begini. Harian kalau enggak ada, kita enggak bisa makan. Bayar tagihan macam-macam kan harus ada pendapatan juga," ungkapnya.

Sementara itu, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) hari ini melansir harga daging sapi kualitas II di pasar tradisional Jakarta berada di kisaran Rp127.500 per kg dan kualitas I dibanderol Rp139.150 per kg.

Ketua DPP Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Asnawi mengatakan aksi mogok yang sempat dilakukan pedagang sebagai bentuk protes kepada pemerintah atas tingginya harga daging sapi. Harga tinggi daging sapi sudah berlangsung sejak Desember 2020.

"Ada kenaikan harga yang sangat tinggi, yang tidak sesuai logika akal sehat, yang sebenarnya sangat-sangat tidak mungkin untuk pedagang menaikkan harga sampai Rp130 ribu per kg di tengah kondisi ekonomi seperti ini," terang Asnawi pekan lalu.

Asnawi mengatakan harga daging sapi di tingkat pedagang eceran naik sampai Rp130 ribu per kg karena harga beli dari distributor meningkat sekitar Rp10 ribu sampai Rp12 ribu per kg dari harga terakhir Rp115 ribu per kg.

Artinya, harga pembelian kini berada di kisaran Rp125 ribu sampai Rp127 ribu per kg di tingkat distributor ke eceran. "Dengan HPP sudah Rp127 ribu, ya seharusnya pedagang jual mulai Rp130 ribu per kg, bahkan lebih sedikit," katanya.

Sayangnya, kenaikan harga daging sapi tidak sejalan dengan nasib para pedagang. Pedagang justru menelan kerugian akibat kondisi itu. Sebab, tingginya harga daging sapi menurunkan minat beli masyarakat.

"Kalau harga tinggi karena permintaan naik, itu untung. Tapi, ini rugi dan ketika sudah rugi selama ini, apa mungkin mereka harus bertahan lagi sampai dua tiga bulan ke depan? Tentu tidak," tandasnya.

(hrf/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK