Merunut Penurunan Harga Telur Berujung Peternak 'Ngamuk'

CNN Indonesia | Selasa, 26/01/2021 09:03 WIB
Kejatuhan harga telur yang membuat peternak mengamuk baru-baru ini sudah terjadi sejak akhir tahun lalu. Penurunan harga telur ayam hingga membuat peternak mengamuk sudah terjadi sejak akhir tahun lalu. Ilustrasi. (Hans/Pixabay).
Jakarta, CNN Indonesia --

Penurunan harga telur ayam di tengah kenaikan harga pakan membuat peternak ayam petelur "ngamuk". Suparni alias Pitut, peternak telur asal Magetan, bahkan sampai melakukan aksi membanting rak telur.

Aksi tersebut terekam dalam video berdurasi 1 menit 30 detik yang viral di media sosial beberapa waktu lalu.

"Terus arep dadi opo peternak iki. Pakan mundak terus, endog soyo mudun, soyo mudun, soyo mudun. Sek di-nyang murah, di-nyang murah. Timbang di-nyang murah wes, tak guwakne pisan, wes," ungkapnya, dalam bahasa Jawa, dikutip dari video tersebut, Senin (25/1).


(Mau jadi apa peternak ini. Harga pakan ayam naik terus, harga telur semakin turun, semakin turun, semakin turun. Masih ditawar murah, ditawar murah. Daripada ditawar murah, sudah, saya buang sekalian).

Ketua Umum Asosiasi Peternak Layer Nasional Ki Musbar Mesdi menjelaskan harga telur ayam di tangan peternak turun drastis menjadi Rp17 ribu-Rp18 ribu per kg secara nasional.

Harga itu lebih rendah dari yang dipatok pemerintah melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen, yakni Rp19 ribu-Rp21 ribu.

[Gambas:Video CNN]

Turunnya harga tersebut, kata dia, disebabkan berkurangnya serapan dari wilayah Jabodetabek dan Bandung yang diduga imbas dari turunnya daya beli dan pembatasan sosial di 2 wilayah yang merupakan zona merah pandemi covid-19 tersebut.

"Peternak menyampaikan keluhan serapan telur menurun dari area Jabodetabek dan Bandung, karena produksi telur nasional 12.800 ton per hari. Lalu, penyerapannya 60 persen ada di daerah Jabodetabek dan Bandung," ujarnya kepada CNNIndonesia.com awal pekan kemarin.

Rendahnya permintaan mengakibatkan stok telur menumpuk di gudang penyimpanan milik peternak. Bahkan, Musbar mengungkapkan, stok telur sudah berada di gudang penyimpanan hampir seminggu. Padahal, gudang-gudang itu sendiri hanya mampu menampung telur selama 1 atau 2 hari.

Akibatnya, harga telur di pasar modern berada di kisaran Rp23 ribu per kg-Rp24 ribu per kg. Harga itu turun dibandingkan kondisi normal, yakni Rp27 ribu per kg-Rp28 ribu per kg.

"Harganya itu lalu ditekan oleh pedagang, kenapa? Karena stok menumpuk kan otomatis peternak berusaha menjual, asal keluar saja pokoknya. Itu (stok telur) harus keluar karena ayam kan bertelur setiap hari," tutur Musbar.

Mengutip Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, tren harga telur ayam memang jatuh sejak akhir tahun lalu.

Pada 28 Desember 2020, harga rata-rata telur ayam dipatok Rp28.250 per kilogram. Namun, per Senin (25/1), harganya sudah di kisaran Rp26.850 per kg.

Di beberapa wilayah, bahkan harga telur ayam jauh di bawah rata-rata nasional. Seperti, Boyolali yang mematok harga Rp19.750 dan Kediri Rp19.900 per kg.

Harga itu terpaut jauh dibandingkan Bulungan, Kalimantan Utara, yang mematok harga telur ayam sebesar Rp83.450 dan Merauke Rp50.250 per kg.

(hrf/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK