Harga Cabai Rawit Picu Inflasi Januari 2021 0,26 Persen

CNN Indonesia | Senin, 01/02/2021 11:30 WIB
BPS mencatat terjadi inflasi 0,26 persen secara bulanan pada Januari 2021. Inflasi dipicu harga cabai rawit yang naik. BPS mencatat Inflasi 0,26 persen pada Januari 2021 kemarin. Itu dipicu kenaikan harga cabai rawit. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Galih Gumelar).
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan harga inflasi sebesar 0,26 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Januari 2021.

Inflasi ini lebih besar dibanding Januari 2020 yang 0,19 persen. Namun, itu lebih rendah dari pada Desember 2020 yang 0,45 persen.

Inflasi secara tahunan (year-on-year/yoy) tercatat sebesar 1,55 persen.


"Memasuki 2021, dampak covid-19 rupanya belum reda, masih membayangi perekonomian Indonesia, dan berpengaruh ke lemahnya permintaan," ucap Kepala BPS Suhariyanto saat rilis inflasi periode Januari 2021 secara virtual, Senin (1/2).

Suhariyanto mengatakan inflasi utamanya disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,81 persen dengan andil 0,21 persen.

"Inflasi makanan, minuman, dan tembakau dipicu oleh kenaikan harga cabai rawit dengan andil 0,08 persen, ikan segar andil 0,04 persen, tempe andil 0,03 persen, tahu mentah 0,02 persen," jelasnya.

[Gambas:Video CNN]

Kenaikan harga cabai terjadi di 87 kota dengan yang tertinggi di Kupang. Sementara kenaikan harga tempe terjadi karena kedelai yang mahal.

Komoditas yang memberi sumbangan deflasi alias penurunan harga adalah telur ayam ras dan bawang merah.

Kelompok lain, pakaian dan alas kaki inflasi 0,11 persen dengan andil 0,01 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga inflasi 0,03 persen dengan andil 0,01 persen.

Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga inflasi 0,15 persen dan andil 0,01 persen. Kelompok kesehatan inflasi 0,19 persen dan andil 0,01 persen.

Kelompok informasi, komunikasi, jasa keuangan inflasi 0,04 persen dengan andil nol persen. Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya inflasi 0,05 persen dengan andil nol persen.

Kelompok pendidikan inflasi 0,04 persen dengan andil nol persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran inflasi 0,33 persen dengan andil 0,03 persen dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya inflasi 0,23 persen dengan andil 0,02 persen.

Deflasi terjadi hanya di kelompok transportasi karena penurunan tarif angkutan udara.

"Ini memberikan andil 0,06 persen, ini terjadi karena masa liburan akhir tahun telah berlalu dan banyak maskapai turunkan harga tiket di 45 kota, khususnya di Tarakan 33 persen dan Banjarmasin 25 persen," terangnya.

Tapi, tarif jalan tol naik, sehingga memberi andil pada inflasi. Tarif tol yang naik terjadi di tol yang dikelola PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Berdasarkan bentuknya, komponen bergejolak (volatile foods) inflasi 1,15 persen dengan andil 0,19 persen. Komponen volatile foods, terdiri dari komponen energi dengan inflasi nol persen dan andil nol persen serta komponen bahan makanan inflasi 1,07 persen dan andil 0,2 persen,

Lalu, inflasi inti sebesar 0,14 persen dan andil 0,01 persen. Sementara komponen harga diatur pemerintah (administered price) deflasi 0,19 persen dengan andil minus 0,03 persen.

Berdasarkan wilayah, inflasi terjadi di 75 kota dari 90 kota IHK. Sementara15 kota lainnya mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Mamuju sebesar 1,43 persen dan terendah di Balikpapan dan Ambon 0,02 persen.

"Inflasi di Mamuju karena gempa sehingga ada kenaikan harga ikan dan cabai," imbuhnya.

Sedangkan deflasi tertinggi di Baubau sebesar minus 0,92 persen dan terendah di Pontianak minus 0,01 persen.

(uli/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK