Buwas Cium Permainan Kartel di Balik Harga Daging Sapi Mahal

CNN Indonesia | Rabu, 03/02/2021 15:44 WIB
Direktur Utama Bulog Budi Waseso menduga kenaikan harga daging sapi belakangan ini terjadi karena ulah kartel. Itu mendorong harga. Direktur Utama Bulog Budi Waseso menilai kenaikan harga daging sapi karena ulah kartel yang mendorong harga. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama Badan Urusan Logistik (Bulog) Budi Waseso menuding kenaikan harga daging sapi belakangan ini karena ulah spekulan atau kartel.

Sebelumnya, harga daging sapi sempat menyentuh Rp130 ribu per gram hingga membuat pedagang daging sapi di wilayah Jabodetabek mogok beberapa waktu lalu.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut salah satu alasan kenaikan adalah meningkatnya harga dari negara importir, Australia. Harga sapi naik dari biasanya AU$2,8 per Kg menjadi US$3,8 per Kg atau sebesar 35 persen.


Kenaikan di Negeri Kanguru terjadi lantaran mereka sedang melakukan regenerasi sapi sehingga stok memang melandai.

"Dibilang alasannya daging suplai dari salah satu negara dibatasi, padahal tidak. Itu hanya akal-akalan supaya ada kenaikan yang nanti jadi pembenaran, sehingga dipatok harga daging yang tadinya Rp120 ribu per kg, sudah mahal itu tidak bisa turun malah dinaikkan jadi Rp130 ribu per kg dan dianggap harga normal ke depan," ujar Budi dalam konferensi pers, Rabu (3/2).

Melihat hal itu, Budi berharap kedatangan daging kerbau impor nantinya bisa menekan harga daging sapi tersebut. Pasalnya. ia menilai konsumen Indonesia sudah mulai terbiasa dengan konsumsi daging kerbau, sebagai alternatif daging sapi.

"Pasarnya masyarakat Indonesia sudah familiar dengan daging kerbau, yang dulunya sulit untuk konsumsi karena masih belum terbiasa, sekarang sudah terbiasa sehingga ini juga bisa tekan dari harga daging sapi," tuturnya.

Bulog sendiri mendapat jatah impor daging kerbau sebesar 80 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging dalam negeri utamanya menjelang puasa dan lebaran. Daging kerbau impor tersebut berasal dari India.

Budi menuturkan jatah impor tersebut ditetapkan dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas) di bawah komando Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

"Sudah putus dari rakortas bahwa Bulog mendapatkan jatah penugasan untuk impor daging kerbau 80 ribu ton tunggal," ujarnya.

Ia menuturkan proses impor tersebut akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kebutuhan dalam negeri. Selain itu, jumlah impor daging kerbau akan menyesuaikan kemampuan supplier dari India mengingat pandemi covid-19 masih melanda India sehingga dikhawatirkan terjadi penguncian wilayah (lockdown).

[Gambas:Video CNN]

"Kami bagi dengan kemampuan supplier di sana, bisa saja 1 bulan itu 10 ribu ton, 50 ribu ton, tergantung kemampuan supplier di sana secara bertahap. Tapi kami berharap kebutuhan dalam 1 tahun sesuai kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi dengan kuota yang direalisasi Bulog yaitu 80 ribu ton," terangnya.

Saat ini, Bulog juga belum melakukan lelang untuk menentukan pemasok daging dari India tersebut. Sebab, keputusan jatah impor daging kerbau itu juga baru diterima oleh Bulog.

"Kami belum melakukan lelang, karena suratnya baru kami dapat. Kami baru membuat administrasi surat yang nanti ditindaklanjuti dengan undangan secara terbuka kepada para calon supplier yang akan menjual daging kerbau kepada kami," jelasnya.

(ulf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK