Nasib Rute Garuda yang Ditinggal Pesawat Bombardier

CNN Indonesia | Rabu, 10/02/2021 17:13 WIB
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk akan mengganti armada rute penerbangan yang tadinya menggunakan pesawat Bombardier CRJ-1000 dengan Boeing 737-800. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk akan mengganti armada rute penerbangan yang tadinya menggunakan pesawat Bombardier CRJ-1000 dengan Boeing 737-800. Ilustrasi. (Barn Images).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memutuskan untuk mengembalikan 12 pesawat Bombardier CRJ-1000 kepada pihak lessor Nordic Aviation Capital (NAC). Selanjutnya, rute yang diterbangi oleh pesawat tersebut akan diisi menggunakan armada lain yang dimiliki oleh Garuda Indonesia.

"Kami pastikan konektivitas tetap berlangsung tanpa CRJ ini. Kami memutuskan untuk mengganti rute yang selama ini diterbangi CRJ dengan Boeing 737-800," ujar Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam konferensi pers, Selasa (10/2).

Ia memastikan perusahaan maskapai tersebut akan menggunakan unit pesawat yang tersedia, alih-alih mendatangkan armada baru. Berdasarkan informasi dari laman website Garuda Indonesia, pesawat Bombardier tersebut digunakan untuk menerbangi rute domestik dan regional di antaranya Surabaya-Labuan Bajo dan Jakarta-Kupang.


"Tidak ada niatan dalam waktu dekat untuk beli pesawat baru untuk gantikan CRJ. Jadi, kami akan memaksimalkan utilisasi pesawat kami yang saat ini ada," ucapnya.

Pengembalian 12 pesawat Bombardier CRJ-1000 dilakukan sebagai langkah mengakhiri lebih awal (early termination) kontrak sewa pesawat (operating lease) per 1 Februari 2021, dari perjanjian semula yang jatuh tempo pada 2027 mendatang.

Sejalan dengan itu, Garuda Indonesia tengah melakukan negosiasi dengan Export Development Canada (EDC) untuk proses penyelesaian sewa lebih awal (early payment settlement contract financial lease) untuk 6 pesawat Bombardier lainnya.

Secara total, perusahaan pelat merah itu telah mendatangkan 18 armada Bombardier sejak 2012.

"6 unit lagi ini bagian dari negosiasi kami untuk early termination. Kami sudah sampaikan proposal ke EDC keinginan kami untuk selesaian sisa pembayaran, untuk kemudian kami tunggu respons balik dari mereka," ucapnya.

Sebelumnya, Irfan mengungkapkan operasional pesawat Bombardier selama ini justru merugikan perusahaan. Selama 7 tahun, Irfan mencatat secara total Garuda Indonesia merugi hingga US$210 juta, dengan estimasi rata-rata kerugian sebesar lebih dari US$30 juta setiap tahunnya.

Di sisi lain, perseroan mengeluarkan biaya sewa sebesar US$27 juta setiap tahunnya.

"Jadi, kami sudah keluarkan setiap tahun untuk sewa pesawat US$27 juta untuk 12 pesawat tersebut tapi kami mengalami kerugian lebih dari US$30 juta," katanya.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK