ESDM Bidik 1 Juta Pelanggan Listrik Pakai Smart Meter 2022

CNN Indonesia | Kamis, 11/02/2021 15:44 WIB
Kementerian ESDM mengungkapkan pemasangan smart meter merupakan bagian dari pembangunan jaringan tenaga listrik 'pintar' (smart grid). Kementerian ESDM mengungkapkan pemasangan smart meter merupakan bagian dari pembangunan jarungan tenaga listrik 'pintar' (smart grid). Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan satu juta pelanggan akan terpasang smart meter pada tahun 2022. Alat tersebut akan mengganti meter listrik konvensional yang selama ini dipakai.

Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Wanhar menerangkan pemasangan ini merupakan bagian dari pembangunan jaringan tenaga listrik pintar atau smart grid guna meningkatkan pengawasan, mutu, dan keandalan sistem kelistrikan.

Dalam hal ini, smart grid diyakini mampu membuat sistem tenaga listrik secara optimal dan efisien dengan memanfaatkan interaksi dua arah baik antara produsen listrik dengan konsumen.


"Ruang lingkup smart grid luas sekali. Mulai dari pembangkit dan automasi sistem transmisi, integrasi pembangkit terbarukan dan automasi sistem distribusi, hingga pemanfaatan dan pembangkitan mandiri," ujar Wanhar dalam Webinar Smart Grid pada Selasa (9/2), dikutip dari keterangan resmi.

Menurut Wanhar, smart grid mampu membuat konsumen menjadi produsen (prosumer). Misalnya, pelanggan yang memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di rumah dapat mengirim tenaga listrik ke sistem PT PLN (Persero) dan tetap bisa memakai listrik dari PLN.

Implementasi smart grid sendiri sudah dirintis oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknoogi (BPPT) sejak tahun 2013 di Sumba, Nusa Tenggara Timur dengan skala kecil (Smart Micro Grid). Pembangunan tersebut merupakan hasil integrasi antara Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), PLTS dan baterai, serta Jaringan Tegangan Menengah (JTM) 20 kV.

"Sistem tenaga listrik di Sumba beroperasi secara otomatis sesuai program algoritma untuk menyuplai beban. Beban dasarnya 1.200 kW dengan beban puncak 2.100 kW," ujarnya.

Sementara untuk komunikasi sistem dilakukan melalui Power Line Communication (PLC). Adapun automasi kontrol dan monitoring melalui Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) master station. Untuk kestabilan variable renewable energy (VRE) yang sifatnya intermittent pada jaringan tersebut disokong dengan dengan baterai (battery storage).

Di Sumba, misalnya, beban puncak dan beban dasar jaraknya sangat jauh. Ini mencerminkan bahwa bebannya masih didominasi oleh rumah tangga. PLTS digunakan siang hari sekitar 5 jam. Ini digunakan untuk mengecas baterai 500 kWh.

"Ketika beban puncak pada malam hari, baterai digunakan untuk menyuplai jaringan di Sumba. Ini mengurangi beban PLTD atau pun PLMTH. Ketika PLTS hilang dari sistem karena hujan atau mendung, bisa dengan cepat digantikan dengan PLTD yang dayanya cukup besar," jelas Wanhar.

Selain di Sumba, smart grid juga diterapkan untuk demo plant di Baron Techno Park, Gunung Kidul, Yogyakarta serta Floating PV (PLTS Terapung)-Battery PLTA Cirata.

[Gambas:Video CNN]

Koordinator Perlindungan Konsumen Ketenagalistrikan Sugeng Prahoro menambahkan smart grid juga dapat meningkatkan mutu dan keandalan tenaga listrik. Untuk itu perlu dilakukan pemasangan smart meter.

Sugeng menjelaskan, perkiraan biaya investasi untuk menggantikan meter pascabayar senilai Rp10 triliun dalam jangka waktu 15 tahun.

"Pemasangan smart meter diutamakan untuk konsumen potensial dan wilayah yang layak dalam pembangunan infrastruktur AMI (Advanced Metering Infrastructure)," tutup Sugeng.

(sfr/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK