Nelangsa Eviana, Omzet Coklat Valentine Digerogoti Corona

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Minggu, 14/02/2021 10:22 WIB
Sejumlah penjual coklat mengeluh karena dagangan mereka pada perayaan Hari valentine tahun ini sepi karena tertekan corona. Sejumlah penjual coklat mengeluh karena penjualan pada perayaan Valentine tahun ini turun karena corona. Ilustrasi. (Jakub Kapusnak/FoodiesFeed).
Jakarta, CNN Indonesia --

Hari Valentine yang dulu bukanlah yang sekarang. Frasa itu mungkin tepat untuk menggambarkan suasana hati Evianah saat ini.

Maklum saja, dompet ibu dua anak yang biasanya semakin tebal jelang Valentine Day yang jatuh setiap 14 Februari karena cokelat dagangannya selalu laris manis diburu oleh mereka yang ingin merayakan hari kasih sayang dengan orang terkasih, kini justru mengempes.

Jangankan laris manis. Ada yang beli saja, sepertinya sudah Alhamdulillah.


Semua, gara-gara corona. Evianah bercerita sebelum corona, biasanya menjelang hari kasih sayang, ia sudah sibuk karena mendapatkan ribuan pesanan cokelat dari perusahaan, baik swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Pesanan itu akan ia kerjakan bersama beberapa karyawannya.

Namun, pandemi covid-19 yang menyebar di Indonesia sejak Maret 2020 lalu merusak semua kebahagiaan perempuan berumur 44 tahun itu. Pesanan dari perusahaan tak ada yang datang meski 14 Februari sudah di depan mata.

"Pandemi jelang Valentine Day baru pertama tahun ini. Semakin ke sini semakin terasa. Biasanya saja kalau Valentine Day banyak perusahaan pesan ribuan. Kami kerja sama setiap tahun. Tahun ini tidak ada sama sekali. Karena pandemi, perusahaan tidak bagi-bagi cokelat," cerita Evianah kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Rabu (10/2).

[Gambas:Video CNN]

Kenyataan pahit ini membuat omzet Evianah turun 50 persen jika dibandingkan dengan Februari 2020 lalu. Tahun lalu, pandemi covid-19 masih belum berdampak pada penjualan cokelat Evianah.

Menurutnya, penjualan Valentine Day kali ini sama seperti bulan-bulan sebelumnya. Tak ada kejutan yang menggembirakan.

Kendati begitu, Dosen Universitas Wijayakusuma di Surabaya ini masih bersyukur. Pasalnya, penjualan bulan-bulan biasanya masih normal seperti sebelum ada pandemi covid-19.

"Kalau hari-hari biasa masih normal, masih standar," kata dia.

Evianah kebetulan tidak hanya menjual cokelat, tapi juga memasarkan souvenir dan hampers. Jika ditotal, usahanya itu rata-rata mencatatkan omzet sekitar Rp20 juta-Rp30 juta.

"Itu omzet hari-hari biasa tanpa ada hari besar. Ya normal di bawah Rp30 juta. Kalau Valentine Day dua sampai tiga kali lipat. Turun 50 persen karena penjualan Valentine Day tinggi biasanya, tapi kalau hari-hari biasa masih normal," jelas Evianah.

Ia biasa memasarkan produk cokelatnya lewat Instagram bernama @cokelatvalentine_vinchoco dan Facebook. Sejauh ini, Evianah memiliki karyawan, baik yang bersifat permanen dan freelance sebanyak delapan orang.

Meski pandemi menyerang, ia mengaku masih mempertahankan seluruh karyawannya. Mereka biasanya akan datang ke rumah Evianah dan mengambil bahan baku untuk diproduksi di rumah masing-masing.

"Jadi saat pesanan full saya panggil, mereka kerjakan nanti di rumah masing-masing. Jadi ke rumah ambil barang karena rumah saya tidak cukup, nanti sama mereka dikembalikan ke saya," ujar Evianah.

Ia berharap pandemi bisa segera selesai agar penjualannya saat hari-hari besar seperti Valentine Day bisa kembali melonjak. Pasalnya, omzet dari hari-hari besar itu dibutuhkan Evianah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Evianah tak sendiri. Dampak pandemi covid-19 juga dirasakan penjual cokelat dengan skala yang lebih besar, yakni CEO Krakakoa Sabrina Mustopo.

Sabrina menyatakan penjualan Krakakoa jelang Valentine Day sebenarnya masih menunjukkan tren kenaikan jika dibandingkan dengan bulan-bulan biasanya. Namun, persentasenya di bawah dari Valentine Day 2020.

"Ini ada kenaikan sedikit, mungkin banyak yang membelinya last minute," ucap Sabrina.

Rata-rata penjualan jelang Valentine Day selalu naik 20 persen. Namun, secara keseluruhan Valentine Day tak membawa pengaruh signifikan bagi Krakakoa.

Hal ini berbeda dengan Lebaran dan Natal. Biasanya, dua hari raya itu membuat penjualan bisa naik lebih dari 30 persen.

"Karena mungkin orang Indonesia masih belum begitu merayakan Valentine Day," imbuh Sabrina.

Sabrina menyatakan pandemi memberikan dampak besar bagi perusahaan. Ia terpaksa menutup operasional tokonya di Seminyak, Bali tahun lalu.

"Saat ini toko ada satu, sebelum covid-19 ada dua, di Seminyak dan Ubud. Seminyak tutup sementara karena penjualan turun," terang Sabrina.

Secara total, penjualan Krakakoa sempat anjlok hingga 80 persen karena pandemi. Hal itu tepatnya terjadi pada April 2020 lalu atau saat covid-19 baru merebak di Indonesia.

"Kami sudah merasakan efeknya dari Februari 2020 sebenarnya karena orang mengurangi travelling tapi itu paling parah April 2020," ucap Sabrina.

Penurunan jumlah orang yang berwisata mempengaruhi penjualan Krakakoa karena perusahaan banyak memasarkan produknya di bandara. Selain itu, target pasar Krakakoa sebelumnya adalah wisatawan mancanegara (wisman).

"Jadi turis, travel, penting bagi Krakakoa," katanya.

Meski begitu, Sabrina mencoba mempertahankan perusahaannya. Jika Krakakoa ditutup, ia merasa akan lebih sulit untuk membangunnnya kembali pasca pandemi covid-19.

"Jadi kami merasa tetap stay, meski ada beberapa bulan ada yang merugi. Tapi buat jangka panjang lebih baik bertahan, jangan berhenti," ucap Sabrina.

Terlebih, Sabrina juga memikirkan nasib karyawannya. Kalau operasional Krakakoa disetop, maka karyawannya akan kehilangan pekerjaan dan pemasukan.

"Situasi ini mau tidak mau harus bertahan bagaimana supaya tim kami masih ada income," tutur Sabrina.

Saat ini, Sabrina mengaku lebih fokus memasarkan cokelat secara online. Komposisi penjualan secara online sekarang naik dari 5 persen menjadi 30 persen.

"Setelah pandemi terpaksa menjual online karena kalau offline sudah turun drastis," jelasnya.

HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK